R10 Industry Relation Coordinator

Just a couple weeks ago, I’ve got an invitation from IEEE Region 10 Director-Elect, Prof Kukjin Chun. He will be the Director of IEEE Region 10 in 2017–2018; and he invited me to be a member of the Executive Committee (Excom), as the Industry Relations Coordinator.

This morning I got an Excel file from the Region 10, containing the list of the Region 10 Excom next year (starting 01 January 2017).

screen-shot-2016-10-28-at-21-36-19

The IEEE Region 10 covers Asia–Pacific area. It covers a geographical area stretching from South Korea and Japan in the north-east to New Zealand in the south, and Pakistan in the west. It comprises of 57 Sections, 6 Councils, 17 Sub-sections, 515 Chapters, 60 Affinity Groups and 958 Student Branches. With a membership of 107,154 (about 25% of total IEEE membership), it is one of the largest regions in IEEE.

My predecessor on this position is Ms Pamela Kumar, the IEEE Region 10 Industry Relations Coordinator for 2015–2016.

Checking the IEEE Region 10 site, here’s the objective of Industry Relation activities:

  • Promoting IEEE activities within industries.
  • Engaging industries and practitioners in IEEE activities
  • Creating a platform for practitioners to network and benefit from being IEEE members
  • Creating benefits for academia-industry partnership to achieve innovations.
  • Recruiting more members from industry.

The responsibilities include:

  • Liaison with business and industry associations to facilitate collaborative applied
    research and development.
  • Providing assistance to academic research communities in transferring technologies to
    industry.
  • Providing services and holding activities for IEEE members and industrial employees to
    share knowledge and establish mutually beneficial relationship.

The activities, among others:

  • Creating a platform for Industry–Academia engagement during flagship IEEE R10
    events – TENCON, TENSYMP, SYW and HTC conferences
  • Promoting programs to have practitioner oriented hands-on workshops (like MGA
    Metro Area Workshops)
  • Engaging and working together with local industrial bodies to promote
    interests of IEEE
  • Organising webinars on latest topics of interest to IEEE Industry members
  • Earmark and celebrate “Industry Day” during the month of November every year to
    have a platform to celebrate association with local industries.

Surely I will need supports from all of you: the academician & business people with concerns to technology development to enhance the quality of life. Please contact me for supports & feedbacks.

UK Alumni Discussion on Smart Cities

enlight1

Today, the UK Embassy — with British Council & IABA — carried out a thematic discussion on Smart Cities Beyond ICT-Based Cities, in Panghegar Hotel, Bandung. I happened to be in Bandung after the IEEE Lecture at Telkom University, so I attended this event. The speakers were Prof Suhono (ICT), Prof Haryo (Planology), & Ms Heni (City Management), with Ms Mira as the moderator.

enlight1-1

Before leaving, we have small informal chats about the progress of some Smart City initiatives in Indonesia.

IEEE Lecture in Telkom University

enlight1-2

IEEE Telkom University Student Branch — the most active IEEE Student Branch in Indonesia — invited me to give an IEEE Lecture to their officers & new students (from Electronics engineering, IT, business, etc); in Telkom University, Thursday night. The title of my presentation was Engineers Opportunity in Disruptive Ecosystem; with some information about Telkom’s Indigo program for digital startups.

enlight1-3

Impermanence is The New Black

Memang gak seru punya blog berusia lebih dari 2 windu: khawatir tema yang sama ditulis berulang. Tapi sesekali OK lah. Ini dari entry tahun 2002: Impermanence, menampilkan culikan kisah dari Calvin & Hobbes :).

impermanence-1

Saat user Twitter dinyatakan stagnan, padahal aplikasi ini masih jadi de facto utility for publicized opinion & information. Tapi jutaan user baru lebih memilih Snapchat, yang ditampilkan hanya kepada user yang terbatas. Atau Instagram, yang tidak seleluasa Twitter. Plus kini ada Instagram Story yang tampaknya justru lebih sering diupdate daripada simpanan foto-foto keren di Instagram.

Banyak yang merasa kurang nyaman: Kenapa sih mereka lebih suka pakai Snapchat? Kenapa ide & kenangan ditampilkan cuma sekejab, lalu dibiarkan hilang? Bahkan dengan interaksi yang minimal. Kemana mereka akan lihat lagi kenangan-kenangan & ide-ide yang pernah membakar?

Tapi, Twitter pun pernah mengalami masa serupa. Ide dan interaksi macam apa yang bisa dieksplorasi dalam 140 kata? Komunikasi dangkal, informasi tak jelas validitas-nya, interaksi yang meleset dari konteks. Tentu. Tapi bukankah itu juga yang seharusnya bikin kita lebih arif. Arif memahami bahwa memang begitulah sebenarnya cara manusia berkomunikasi: penuh dengan pelesetan makna, misinformasi, letupan emosi, dan memerlukan kearifan yang berkembang (menjadi so-called kedewasaan). Juga, sebagai akibatnya, membuat kita juga arif mengelola komunikasi dalam media yang akhirnya kita sadari keterbatasnnya.

Jadi tidak relevan lagi celetukan: Kenapa tweeting, bukan blogging? Kenapa menulis blog, bukan artikel serius? Kenapa bekutat di artikel, bukan buku? Kenapa menerbitkan buku, bukan paper di jurnal ilmiah? Dan seterusnya. Dunia makin memaksa kita arif dengan media yang terbatas: ruang & waktu untuk membaca, ruang & waktu untuk menulis, ruang & waktu untuk berfikir.

Impermanence is the new black. Sudah bukan zamannya lagi untuk memaparkan informasi dan gagasan melalui media yang panjang dan permanen. Menulis rangkaian kata formal berbulan bulan untuk dibaca dalam waktu berhari-hari — sementara paradigma berubah setiap saat, dan waktu hidup kita serasa makin pendek — sudah mulai tak masuk akal. Di dunia ini, kita membiasakan diri untuk memanfaatkan media yang pendek, singkat, dan tak tersimpan, untuk membagikan kearifan kita. Di dunia yang sama, kita membiasakan diri untuk tak mensakralkan lagi gagasan kita, dan menganggapnya juga bagian impermanent dari diri kita. Dan tentu ini dunia egaliter, dimana tidak layak lagi menganggap influencing itu penting. Yang terjadi hanya saling merasakan denyut dinamika hidup, dan saling bergerak dalam irama tak sinkron, dan dengan demikian justru membentuk ruang hidup manusiawi yang makin berkualitas.

impermanence-2

Diri kita juga fana. Mirip si mawar dalam kisah si Pangeran Kecil. Tapi itu bukan tragedi. Justru di sanalah sisi perayaan makna kehidupan kita. Haha. Lupakan. Hiduplah.

IEEE Day 2016

IEEE Day diperingati setiap Selasa pertama di bulan Oktober. Konon, pada awal Oktober 1884 itu, para pioneer dan engineer di dunia kelistrikan berjumpa (konon termasuk Edison dan Tesla sendiri), dan memutuskan perlunya membentuk kolaborasi profesional. Kolaborasi itu kemudian mengerucut menjadi organisasi insinyur listrik Amerika atau AIEE. Di tahun 1912, sekelompok hacker membentuk organisasi IRE yang lebih berfokus pada rekayasa listrik untuk keperluan persinyalan, termasuk komunikasi radio. AIEE berfokus ke Amerika, dan IRE meluas ke mancanegara. AIEE didominasi kaum tua, sementara IRE diasiki engineer muda. Jumlah anggota IRE melampaui AIEE. Demi kemaslahatan profesi, akhirnya disusunlah penggabungan organisasi menjadi IEEE pada 1963. Logo IEEE merupakan gabungan dari layang-layang Franklin dari AIEE dan tangan kanan Ampère dari IRE. IEEE meluas ke seluruh penjuru dunia, dan mendalami teknologi pelopor, termasuk biomedical engineering, information theory, nanotechnology, dan seterusnya. Walau didirikan pada tahun 1963, namun IEEE melacak jejak sejarahnya sejak Selasa pertama Oktober 1884 itu.

Awal Oktober ini, kebetulan ada beberapa event di IEEE Indonesia. Jadi kami tak merasa perlu membuat event khusus untuk memperingati IEEE Day. Ini beberapa event IEEE yang aku hadiri sambil merayakan IEEE Day:

ieee-day-2016-v02


SERPONG: SCIENCE & TECHNOLOGY FESTIVAL

Science & Technology Festival diselenggarakan oleh LIPI di ICE Serpong, 03-05 Oktober 2016. Di dalamnya, tercakup delapan konferensi, dari mekatronika, informatika, kimia, dll. Dua diantaranya disponsori juga oleh IEEE, yaitu IC3INA dan ICRAMET. Sebagai bagian dari kegiatan ini, pada Selasa 04 Oktober, diselenggarakan workshop / seminar tentang Kolaborasi Riset & Publikasi Karya Ilmiah, diselenggarakan oleh Kemkominfo, LIPI, dan IEEE Indonesia. Aku menyampaikan paparan 3 jam, menampilkan peluang kerjasama riset & publikasi melalui komunitas profesional, plus prosedur penyelenggaraan konferensi internasional dengan sponsor dari IEEE.

14706736_10154557442689328_4188504795420539185_o

Presentasi & tanya jawab diakhiri foto bersama dengan latar belakang banner IEEE Day 2016.

img_0115


JAKARTA: IEEE LECTURE @ BINUS

Kamis malam, 06 Oktober, IEEE Indonesia Section menyelenggarakan IEEE Lecture di Bina Nusantara University, Jakarta. Aku memberikan paparan selama 2 jam, berjudul Collaborative Platform Architecture for Digital Experience. Peserta dari dosen, researcher, dan mahasiswa S2 / S3 di Binus University. Acara dibuka oleh IEEE Indonesia Section Vice Chair, Dr Ford Lumban Gaol – yang selalu gaol abezzzz.

screen-shot-2016-10-21-at-09_fotor

Berakhir pada pukul 21:00, kegiatan ditutup dengan foto bersama dengan latar belakang banner IEEE Day 2016.

enlight1


DENPASAR: IGSGTEIS & SMART CITY SEMINAR

International Conference on Smart-Green Technology in Electrical and Information Systems (ICSGTEIS) diselenggarakan Universitas Udayana dengan sponsor dari IEEE. Ide ICSGTEIS diprakarsai di FORTEI 2014, saat para dosen Teknik Elektro Universitas Udayana dan aku (mewakili IEEE Indonesia) memperbincangkan (secara informal) kesiapan Universitas Udayana menyelenggarakan konferensi internasional sendiri, plus dukungan ketat dari IEEE Indonesia.

ICSGTEIS 2016 adalah konferensi kedua dalam seri ini, diselenggarakan di Pantai Sanur, Bali, 06-08 Oktober 2016. Kebetulan aku hanya bisa hadir pada sesi workshop di hari ke-3, Sabtu 8 Oktober 2016. Workshop ini sepenuhnya dikelola oleh IEEE Udayana University Student Branch. Fokus workshop ini pada green technology, smart city, dan IoT. Aku menyampaikan keynote speech dengan judul Internet-of-Everything Architecture for Smart City.

14724656_10154577936189328_262998774950804198_n

Tentu kegiatan ini ditutup dengan foto bersama dengan latar belakang banner IEEE Day 2016. Tapi logo IEEE Day ada di kiri & kanan panggung. Kebetulan foto yang lengkap dengan logo ini belum aku terima. Yang ada dulu deh ya :). Oh ya, aku pakai batik dengan motif yang dinamai Batik Kuncoro. Periksa di Google deh.

img_0141

 

APWCS 2016

APWCS (Asia Pacific Wireless Communications Symposium) adalah konferensi regional Asia Pasifik yang dikelola oleh IEEE VTS (Vehicular Technology Society) dari chapter-chapter Tokyo, Seoul, Taipei, dan Singapore. Tak bisa disalahkan jika kita membandingkan dengan APCC yang dikelola IEEE bersama dengan IEICE, KICS, CICS. Tahun ini APWCS diselenggarakan di Tokyo City University, Tokyo; 25–26 Agustus 2016. Aku hadir ke simposium ini dalam misi untuk mengaktifkan VTS di Indonesia, termasuk mengajukan kesiapan Indonesia sebagai host APWCS berikutnya.

Kebetulan aku masih punya 76000 Garuda Miles, dan 70000-nya langsung dikonversikan jadi tiket Garuda Cengkareng–Haneda p.p. Berangkat tanggal 23 Agustus menjelang tengah malam, Garuda mendarat di Haneda tanggal 24 pagi. Mandi di airport, dan langsung menjelajah Tokyo. Kuliner pertama adalah sushi segar yang langsung dibuatkan di depan kita. Wow :). Tentu, didahului sop miso yang khas itu.

img_2016-09-30-222311

Kamis pagi, 25 Agustus, barulah mengarah ke Tokyo City University, di kawasan Setagaya, Tokyo. Khawatir dengan gaya Jepang yang seringkali formil, aku pakai suite dengan gaya yang klasik tapi tetap santai. Di sana, Prof Mamoru Sawahashi, General Chair dari APWCS 2016 siap menyambut. Eh, baru sadar, suite kami matching sekali. Prof Sawahashi menceritakan scope simposium, sebaran pesertanya, dan nature dari penyelenggaraan simposium ini. Setiap konferensi memiliki sifat yang berbeda, dan kadang hanya dapat dipahami dengan langsung mengikuti seluruh kegiatan di dalamnya.

img_2016-09-30-222333

Tak lama, Prof Sawahashi harus memutus percakapan, untuk secara resmi membuka APWCS 2016. Berderet keynote speakers dari kalangan akademisi dan industri bergantian memberikan paparan tentang filosofi dan rencana implementasi Jaringan 5G dengan berbagai aspeknya. Ini selalu jadi saat yang mendebarkan, saat kita memiliki kesempatan mendengarkan update terbaru dari researcher senior yang merupakan para inventor & innovator kelas dunia. VTS memiliki sifat yang lebih spesifik dan fokus daripada society yang besar, semisal Comsoc (IEEE Communications Society)  atau IEEE Computer Society. Jadi paparan para researcher ini betul-betul fokus di cutting-edge teknologi 5G.

img_2016-09-30-222346

Tengah hari, Prof Sawahashi mengajak makan siang ke ruang VIP. Di sini, sekaligus dilakukan General Meeting dari APWCS Board of Governor. Anggotanya bukan hanya dari Jepang, tapi dari berbagai negara stakeholder, dengan gaya masing-masing.

img_2016-09-30-222328

Di BoG meeting inilah, aku memaparkan situasi riset & industri mobile di Indonesia, kapabilitas dan peluangnya, serta kemudian mengajukan Indonesia sebagai host dari APWCS berikutnya. Berikutnya itu bukan 2017, karena simposium semacam ini memerlukan persiapan sangat panjang, dan unik. Jadi mereka membuka kesempatan Indonesia menjadi host pada 2019, jika Indonesia memang dapat meyakinkan komitmen & kapabilitasnya.

img_2016-09-30-222322

Cukup banyak masukan yang diberikan bagi Indonesia dalam meeting ini; terutama bahwa Indonesia belum memiliki VTS Chapter. Selain periset dan akademisi serius, mereka sebenarnya sekumpulan macan. Tapi aku semacam macan lokal juga sih. Dan aku bisa menunjukkan bahwa IEEE Indonesia Section memiliki leadership kuat untuk memastikan keberhasilan program ini. Jadi akhirnya mereka secara prinsip menyetujui Indonesia menjadi host. Namun dalam jangka waktu itu, kita harus menunjukkan langkah-langkah kesiapan.

Lepas presentasi, beberapa anggota BoG mengajak berbincang. Sebagian untuk lebih kenal, sebagian lagi untuk meneruskan assessment :). Experience dari Section dan representative-nya pun (yours truly) dieksplorasi. Beberapa nama penting disebut. Entah kebetulan atau keberuntungan, nama-nama yang disebut itu punya hubungan baik dalam perjalanan networking di IEEE, termasuk incoming Director of IEEE Region 10, Prof Kukjin Chun, dan former Director of IEEE Comsoc Prof Byeong Gi Lee. So far so good.

Usai BoG meeting, aku masuk ke sesi-sesi paralel di simposium ini; menyimak beberapa hasil riset para researcher dan mahasiswa. Namun saat break, aku jumpa lagi dengan Chairman of APWCS BoG, Prof Li-Chun Wang. Kami berbincang cukup panjang di meja kecil. Di sini Prof Wang menyampaikan  concern sesungguhnya dari banyak anggota BoG. Fokus BoG sebenarnya bukan simposium atau conference; melainkan memastikan VTS tumbuh di region ini, dengan kegiatan yang terus bertumbuh. Simposium hanyalah sebuah cara untuk memastikan pertumbuhan kegiatan ini. Prof Wang juga menceritakan bagaimana akhirnya BoG bisa yakin untuk tetap mendukung Indonesia di 2019. OK, deal.

img_2016-09-30-222339

Selesai tugas, masih ada waktu untuk meneruskan belajar berbagai aspek dari vehicular technology, khususnya perkembangan 5G network yang menjadi fokus utama tahun ini. Menarik bahwa IoT masuk ke frame ini bukan sebagai requirement yang harus didukung dengan 5G, melainkan benar-benar merupakan bagian terpadu dari 5G itu sendiri.

Dan masih ada waktu juga untuk beristirahat dan berlibur beberapa hari. OK, yang ini kita sambung di blog lain. Aku masih punya travelling blog loh :).

img_2016-09-30-222316

IEEE VTS APWCS BoG Meeting

14196195_10154454931909328_9201202274291165904_o

Representing the IEEE Indonesia Section, presenting at IEEE VTS APWCS Board of Governor meeting, in Tokyo City University (東京都市大学), Setagaya, Tokyo, 25 August 2016.

Other pictures:

(1) With Prof Mamoru Sawahashi, the General Chair of APWCS 2016

img_0044

(2) With Prof Li-Chun Wang, the Chairman of APWCS BoG

img_0045

(3) With the BoG of IEEE VTS APWCS

img_0046

Talking about a Revolution

LLVM5014

Warm discussion with Bung Budiman Sudjatmiko at JCC Senayan, where he soft launched his new book Talking about a Revolution – the graphics edition of Anak-Anak Revolusi.

IEEE Tensymp 2016

TENSYMP 2016 (atau lengkapnya: The 2016 IEEE Region 10 Annual Symposium) telah dilaksanakan di Sanur Paradise Plaza, Bali, tanggal 9–11 Mei 2016 lalu. Sebanyak 213 paper didaftarkan dalam simposium ini, namun hanya 96 yang lolos seleksi komite, yang artinya acceptance rate hanya 45%. Dari jumlah itu, 72 paper dipresentasikan dalam simposium ini.

Walaupun dinamai sebagai simposium, TENSYMP sebenarnya memiliki tingkatan sebagai sebuah konferensi; dan merupakan konferensi terbesar kedua yang dimiliki oleh IEEE Region 10 (Asia Pasifik). Namun TENSYMP masih berusia muda. Konferensi di Bali ini hanyalah TENSYMP keempat. Tujuannya adalah meningkatkan peran IEEE dalam pengembangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Asia-Pasifik melalui penyebaran pengetahuan dan pengalaman teknologi. Konferensi ini dibuka oleh Direktur IEEE Region 10, Ramakrishna Kappagantu, disertai oleh:

  • Satriyo Dharmanto, IEEE Indonesia Section Chair
  • Dr. Ford Lumban Gaol, IEEE TENSYMP 2016 General Co-Chair
  • Kuncoro Wastuwibowo, IEEE TENSYMP 2016 General Co-Chair
  • Prof. Gamantyo Hendrantoro, IEEE TENSYMP 2016 TPC Chair
  • Dr. Basuki Yusuf Iskandar, Kepala Riset dan Pengembangan SDM Kemkominfo

tsxop3089

Topik TENSYMP tahun ini kami pilih dengan mempertimbangkan posisi Asia-Pasifik sebagai pusat riset, pengembangan, dan bisnis TIK. Kita berada di tengah pengembangan perangkat, layanan, dan aplikasi digital yang berproliferasi dalam tingkat yang belum terbayangkan; namun dengan nisbah keberhasilan yang belum memuaskan. Kegagalan di bidang TIK umumnya disebabkan oleh akses yang kurang memadai terhadap teknologi, pasar, komunitas, atau investasi. IEEE sebagai komunitas merasa tertantang untuk mengatasi masalah-masalah ini dengan menyusun koherensi pada tingkatan teknologi, infrastruktur, dan peluang bisnis. Tantangan lain adalah perlunya mengarahkan pengembangan teknologi untuk secara konsisten menumbuhkan harkat hidup manusia. Arahan inilah yang menjadi dasar untuk menyusun tema TENSYMP 2016: Smart Computing, Communications, and Informatics of the Future. Riset yang mengarah ke pengembangan platform dan aplikasi tetap ditujukan untuk mencerdaskan kehidupan manusia.

Direktur IEEE Region 10 Ramakrishna Kappagantu menyebutkan bahwa melalui TENSYMP 2016, IEEE Region 10 bermaksud untuk:

  • Mempersembahkan forum internasional yang prestisius untuk berinteraksi dalam bidang-bidang elektri, komputer, dan teknologi informasi, dalam bentu paper, pameran, paparan ilmiah, tutorial, dan aktivitas lainnya.
  • Menyebarkan pengetahuan dan pengalaman teknis kepada masyarakat di kawasan Asia-Pasifik.
  • Mendorong pengkajian dan interaksi teknologi dan aplikasinya dalam konteks sosial, politik, dan kemanusiaan secara lebih luas.
  • Memperkuat kemampuan interpersonal dan profesional serta semangat kepemimpinan dari volunteer di bidang-bidang teknologi dan rekayasa.

Konferensi ini menampilkan lima pembicara kunci:

  • Prof. Kukjin Chun: Microelectromechanical Systems Technology Development.
  • Prof. Benjamin Wah: Consistent Synchronization Of Action Order with Least Noticeable Delays Ini MultiPlayer Online Games
  • Prof. Rod van Meter: Analyzing Applications for Quantum Repeater Network
  • Prof. Soegijarjo Soegidjoko, Biomedical Engineering Advances for a Better Life in Developed & Developing Countries
  • Dr. Basuki Yusuf Iskandar

tcwjc4785

Konferensi juga menampilkan tujuh sesi tutorial, dengan para tutor yang berasal dari berbagai negeri di Asia-Pasifik. Kami juga menyelenggarakan Gala Dinner yang dihadiri seluruh peserta konferensi, dan juga dihadiri Prof Kukjin Chun sebagai Direktur Terpilih dari IEEE Region 10 (yang akan menjabat sebagai Direktur di tahun 2017).

tlgbw5468

 

Kegiatan lain dalam konferensi ini:

  • IEEE Region 10 Young Professional Gathering
  • IEEE Region 10 Women in Engineering Sharing Session
  • IEEE Region 10 Education Activities Sharing Session
  • IEEE TENSYMP 2016 Industry Forum