Chechnya (Нохчийчоь)

Masa SMA, aku pernah dipanggil Wakil Kepala Sekolah, gara-gara menggambar logo ideologi tabu di kertas buram. Itu masa perang dingin, dan anak-anak seusia aku suka cari informasi dari berbagai sumber terbatas. Belum ada Internet, tapi majalah asing cukup banyak. Aku buat peta perimbangan politik Eropa, sebagai titik perimbangan konflik masa itu, dengan logo bintang segiempat NATO di kiri dan serpimolot USSR di kanan. Pakai huruf cyrillic segala. Petugas sekolah mana tahu logo NATO. Yang tahu logo partai terlarang doank, haha. Tapi syukur pimpinan sekolah paham. Tapi situasi saat itu, di tengah revolusi dunia yang berakhir dengan pecahnya USSR dan bubarnya komunisme, membuat generasi kami mempelajari banyak hal tentang sejarah dan progres politik dunia, khususnya kawasan Eropa. Perpecahan USSR membawa banyak dampak lain, dan menguak banyak entitas politik baru. Salah satunya: Chechnya (Нохчийчоь).

Saat revolusi Bolshevik, negara-negara di bawah kekuasaan Kekaisaran Russia direformasi. Beberapa kawasan mendapatkan status SSR (Republik) yang merupakan entitas pembentuk USSR. Republik semacam ini banyak yang memproklamasikan kedaulatan saat USSR bubar, termasuk Ukraina, Kazakhstan, Uzbekistan, Armenia. Namun banyak republik hanya mendapatkan status ASSR (Republik Autonomi) di bawah republik lain, termasuk Karakalpakstan di bawah Uzbekistan; dan puluhan republik di bawah Russia, termasuk Chechnya, Tatarstan, Baskhortostan, dll. Banyak yang berusaha melepaskan diri dari Russia; namun Russia berkeras mempertahankan kedulatannya sebagai Federasi Russia yang kian lama kian berpusat pada kerussiaan (alih-alih kefederasian). Perang Chechnya 1 dan 2 menjadi perang yang cukup besar; terjadi di waktu yang sama dengan perubahan besar di Indonesia (tumbangnya kediktatoran Soeharto, lepasnya Timor Timur, meningkatnya otonomi daerah) — yang artinya menjadi perhatian besar juga saat bangsa Indonesia sedang sangat sadar politik.

Sejarah Russia panjang, melibatkan bangsa-bangsa Slavik, Turkik, Mongolik, bahkan Uralik. Nanti kita cicil di sini, haha. Bisa tampak artifaknya misalnya di web PANGERANKECIL.COM yang koleksinya meliputi banyak bahasa etnik di kawasan Russia dan sekitarnya. Tapi kawasan Kaukasus lebih unik dari itu. Banyak spekulasi bahwa budaya dan bahasa umat manusia berasal dari kawasan itu. Bahasa-bahasa Kartvelia, Pontik / Sirkasia, dan Nakh yang ada di kawasan itu, sulit dicari induk bahasanya. Bahasa Indo-Eropa yang kawasannya sangat luas pun, dispekulasikan berasal dari sekitar kawasan ini (Kaspia), yang meluas baik ke barat (hampir seluruh Eropa) maupun ke selatan (Iran dan India). Chechen adalah salah satu cabang dari Nakh — jadi bukan Slavik, Turkik, Mongolik, atau Uralik.

Bangsa Chechen tinggal di ketinggian lereng utara pegunungan Kaukasus (atau orang Russia bilang Ciscaucasia = Kaukasus sebelah sini). Berabad mencoba memperluas kawasan ke daerah yang lebih memudahkan pertanian dan peternakan di kawasan yang lebih rendah. Pertikaian panjang bangsa Slav (termasuk Kossak) dan Mongol kadang memberikan mereka ruang untuk ekspansi. Islam masuk kawasan Chechnya dari Dagestan (yang sudah jadi kawasan Islam sejak millennium pertama). Tapi kekaisaran Russia pun berekspansi, dan akhirnya menduduki Chechnya. Daerah ini dianggap daerah sulit oleh pemerintahan Russia, karena sifat masyarakatnya yang tidak hierarchical — tidak mengakui peran para bangsawan, sehingga tidak mudah diatur seperti kawasan lain. Pengusiran massal pada orang Chechen telah terjadi pada masa ini, sehingga hingga kini dapat ditemui kelompok diaspora Chechen yang cukup besar di Yordania.

Saat Revolusi Bolshevik, orang-orang Kossak banyak yang mendukung Tsar dan kemudian Rus Putih. Mereka membantu Rus Putih mengepung Rus Merah. Orang-orang Chechen banyak yang membantu Rus Merah (lihat film The Reds untuk memahami bahwa Revolusi Bolshevik dianggap sebagai revolusi Jihad di Kaukasus, untuk melawan Tsar dan orang Kossak). Rus Putih dan Kossak harus mengurangi kekuatan penyerangan ke Utara untuk melawan ekspansi Chechen, sehingga akhirnya justru dikalahkan Rus Merah.

Saat Perang Dunia II, paranoia Stalin membuatnya melakukan kekejaman dalam bentuk pemindahan massal berbagai etnik minor. Seluruh bangsa Chechen dipaksa pindah ke Kazakhstan hingga Kyrgyzstan dalam operasi Chechevitsa, dengan korban meninggal hingga 30% dari seluruh populasi pada saat pemindahan dan pada tahun-tahun pertama di wilayah baru. Tanah mereka dirampas orang-orang Russia. Baru di masa Khrushchev, orang-orang Chechen boleh kembali ke negeri mereka. Namun struktur sosial telanjur rusak. Tidak ada budaya tradisional yang melekat lagi di bangsa Chechen. Tanah mereka pun sudah banyak dikuasai pendatang Russia. Ini justru mempercepat modernisasi Chechnya. Warganya bekerja di sektor modern: pertanian, engineering, pemerintahan, dan terutama militer. Banyak warga Chechnya menjadi perwira dan prajurit Uni Soviet. Dua diantaranya tentu Jendral Dzhokhar Dudayev di Estonia, dan Kolonel Aslan Maskhadov di Lithuania — yang kemudian mendirikan Republik Chechnya saat Uni Soviet bubar.

Dzhokhar Dudayev

Merdekanya Republik Chechen memicu perang dengan Russia. Tentara Russia dapat membunuh Dudayev, namun tak dapat memperoleh kemenangan mutlak. Akhirnya Russia di bawah Boris Yeltsin memutuskan gencatan senjata dan kemerdekaan de fakto Republik Chechnya.

Sayangnya kemudian Chechnya tidak stabil. Islamis ekstrim makin kuat dan berekspansi ke kawasan lain, seperti Dagestan. Mufti Chechnya, Akhmad Kadyrov-pun merasa terancam oleh aliran Islam yang semacam ini. Russia yang kini di bawah Vladimir Putin memutuskan menumpas habis militer Chechnya. Chechnya kembali menjadi Republik Autonomi di bawah Federasi Russia. Untuk memastikan stabilitas, Akhmad Kadyrov dijadikan presiden Chechnya. Bagi Kadyrov, ini pilihan terbaik untuk menjaga Chechnya tidak lebih hancur, sekaligus menahan penguatan para Islamis ekstrim. Sebagai pembalasan, para gerilyawan membom Akhmad Kadyrov. Ia wafat dan digantikan putranya, Ramzan Kadyrov.

Masjid Kadyrov yang dibangun pasca perang

Ramzan berada di situasi yang genting. Untuk mengamankan keseimbangan, ia memilih kesetiaan dan perlindungan penuh bersama Vladimir Putin. Ia dapat membentuk pasukan Chechnya yang relatif berdaulat, terpisah dari pasukan lain di Federasi Russia. Dan tentu ini jadi pasukan yang setia pada Putin melalui Kadyrov. Dalam model Russia versi Putin, tentu banyak soal-soal HAM yang juga dituduhkan pada Kadyrov.

Jadi, ini menjelaskan, mengapa Putin mengerahkan pasukan Kadyrov dari Chechnya ini dalam upaya menduduki dan mengalahkan Ukraina saat ini.

Posted in Chechnya, History, Russia, World | Comments Off on Chechnya (Нохчийчоь)

Karakalpakstan (Қарақалпақстан)

Menariknya mengkoleksi hampir 400 buku Pangeran Kecil dalam berbagai bahasa adalah bahwa kita jadi punya sekian ratus bahasa dalam satu rak buku yang kian mirip menara babel. Mengkatalogkannya pun memerlukan dua web: LEPETITPRINCE.ID dalam bentuk peta negara, dan PANGERANKECIL.COM dalam taksonomi rumpun bahasa.

Site lepetitprince.id

Di web kedua ini, bahasa disenaraikan secara luwes: mengikuti hasil riset berbagai linguist yang tentu masih sering beda pendapat, hingga mengikuti kemudahan penyusunan nan pragmatis nian. Hikmah dari penyusunan model rumpun bahasa ini: kita lebih memahami posisi dan keunikan setiap bahasa (i.e. juga setiap buku), plus memahami bahasa apa yang belum masuk koleksi. Misalnya, rumpun Uralo-Siberia yang sebelumnya berisi bahasa Finlandia dan Hungaria; lalu bertambah dengan bahasa-bahasa sekitar Karelia, Estonia, dan Sami; kini menyebar ke bahasa-bahasa Mari, Mordvinik, Komi, Udmurt; yang akhirnya jadi secara hipotetik dapat disambungkan ke Chukchi-Koryak dan bahkan Aleut hingga Greenland — membentuk bahasa lingkar Kutub Utara. Sedikit ke selatan, rumpun bahasa Turki berisi bahasa yang kita kenal dan tidak kita kenal. Rumpun Kipchak misalnya, terdiri atas Kumik, Tatar, Bashkir, etc di Russia; lalu ke selatan ke negeri Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Karakalpakstan. Kazakh, ada di rak. Kyrgyz, ada. Karakalpak?


Memang terdapat beberapa negeri yang banyak warga dunia bahkan baru sadar keberadaannya. Karakalpakstan ini satu contoh. Lokasinya di wilayah yang dulu bagian dari Khawarizmi (bukan Khorasan), yang tentu mengingatkan pada nama Muhammad Al-Khawarizmi (pencipta aljabar yang namanya diabadikan sebagai algoritma, logaritma, dll). Ilmuwan Al-Biruni juga berasal dari kawasan ini. Wilayah ini sempat diduduki Kekaisaran Mongol yang wilayahnya multibenua itu. Saat Kekaisaran Mongol terpecah, kawasan ini menjadi batas dari pecahan Golden Horde dan Kekaisaran Timur (di timur). Berabad berlalu, wilayah ini menjadi batas budaya Kipchak dan Karluk. Revolusi Bolshevik nun jauh di utara menyebar cepat ke wilayah ini. Kawasan ini menjadi bagian dari Uni Soviet. Terbentuk Turkmen SSR, Kazakh SSR, Uzbek SSR, dan Karakalpak ASSR. Karakalpak ASSR mula-mula ditempatkan di dalam Kazakh SSR, kemudian masuk ke Russia SFSR, dan terakhir ke Uzbek SSR. Saat Uni Soviet bubar, Uzbekistan menjadi republik yang berdaulat. Karakalpakstan (Қарақалпақстан) pun menjadi sebuah republik yang memiliki kedaulatan di dalam negeri, beribu kota di Nukus (Нүкіс / Нөкис). Wilayah Karakalpakstan berada di bagian barat Uzbekistan, termasuk di kawasan Danau Aral.

Penasaran dengan negara ini, aku eksplorasi ke beberapa komunitas online. Salah satunya adalah di sebuah Telegram Group, tempat sekumpulan anak muda Karakalpak berdiskusi seru dengan bahasa mereka. Menariknya, mereka menggunakan aksara campuran antara latin dan cyrillic. Sama sekali tak paham bahasa mereka, aku coba search beberapa kata kunci. Tampak anak muda bernama Moldir Purkhanova menulis panjang tentang Кишкене Шаҳзада (Kishkene Shahzada, bahasa Karakalpak untuk Pangeran Kecil). Khawatir kurang pas berbincang di group dengan bahasa Inggris, aku kontak Moldir via jalur pribadi.

Moldir ini typical anak muda yang cerdas, baik hati, dan curious. Dia memverifikasi dulu, gerangan apakah ada orang asing dari negara entah di mana mendadak menghubungi dan menanyakan perihal buku yang random nian. Tapi dia segera sadar bahwa ini misi menarik. Jadi dia ajak rekannya, Jetes Dawletbaev, untuk membantuku mencari Kishkene Shahzada. Moldir & Jetes mencari ke toko-toko buku di Nukus, tapi buku itu tak mudah ditemukan. Mereka pantang menyerah. Dari salah satu toko buku, mereka mendapati kontak penerjemahnya: Gulnara Ibragimova. Maka datanglah mereka ke rumah Gulnara. Gulnara pun sangat baik hati. Dia bersedia memberikan dua buku: satu dalam aksara latin, dan satu dalam aksara cyrillic. Moldir & Jetes mengirim dua buku ini ke Indonesia, yang telah ditandatangani Gulnara; ditambahi dengan kamus Karakalpak, satu kopiah Karakalpak, dan foto mereka berdua.

Jetes dan Moldir

Aku terima buku ajaib ini sekitar bulan September lalu. Dan aku kirim fotoku bawa buku ini sebagai tanda terima dan tanda terima kasih ke mereka. BTW, bahasa Karakalpak untuk terima kasih adalah Rahmat (yang kalau diterjemahkan sebagai bahasa Arab ke Indonesia, tentu artinya adalah: Kasih). Mirip orang Indonesia, kan? Kasih yaaaa. Komunikasi dengan Moldir sangat mudah, karena ia sangat cerdas dan pandai berbahasa asing — sebagai mahasiswi jurusan bahasa di NMPI. Dan bicara tentang bahasa, Karakalpak berarti topi hitam. Ingat topi karakul yang aku beli beberapa tahun lalu.

Foto Jetes & Moldir dipegang Koen

Jetes adalah mahasiswa jurusan hukum, dan ia sangat mencintai negeri dan budaya Karakalpak. Jadi ia bangga karena ada orang asing mau bersusah payah mencari buku dalam bahasa Karakalpak. Fotoku dipasangnya di Telegram Group.

This image has an empty alt attribute; its file name is image.png
Foto Koen di acara Zakovat

Sebagai efeknya, aku dapat kawan baru lagi. Svetlana Jalmenova mengirimkan fotoku ke acara TV Zakovat yang dia sebut sebagai intellectual game, dan dipilih sebagai best question. Sekumpulan peserta melihat fotoku berpeci hitam dan harus menebak apa yang terjadi. Jawaban mereka cukup mendekati benar. Versi terjemahan Svetlana, mereka sempat menyebut: Kun-zorro mencari penerjemah buku itu, dan mengunjungi museum, karena ada fotonya, dll dll. Namun kesimpulan akhir mereka: Kun-zorro suka mengumpulkan berbagai terjemahan asing, dan mengumpulan buku ini, dan mendapatkan buku dengan tanda tangan penerjemah. Luar biasa, dan mereka dapat hadiah.

Gulnara Ibragimova

Efek lain, Gulnara pun diinterview TV setempat. Dan dalam interview ini, dia ajak juga Jetes dan Moldir untuk turut diinterview menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan orang yang berusaha menyelami bahasa dan budaya mereka.

Moldir Purkhanova

Itu hal yang sangat esensial sebagai bagian dari mengkoleksi buku Pangeran Kecil. Saat ke Lausanne, aku diantar jalan Jean-Marc Probst keliling Danau Geneva. Kita berbincang jauh tentang berbagai budaya serta bagaimana perbedaan budaya diinteraksikan. Mendalami hal-hal semacam ini menjadi keniscayaan saat kita mengenali keunikan berbagai budaya; dan membuat kita makin mencintai kemanusiaan secara universal.

Posted in Book, Life | Comments Off on Karakalpakstan (Қарақалпақстан)

Flobamora

Eposide di Q2 2021 ini berjudul Gernas BBI Flobamora: tiga buah singkatan yang kepanjangannya bisa digoogle. Pada Q1 2021 vaksinasi Covid-19 telah dimulai; dan aktivitas pengembangan ke wilayah sudah dapat dilanjutkan kembali. Kami beroleh tugas di provinsi NTT. Di awal, fokus hanya pada sebagian Flores dan Sumba, namun kemudian diperluas ke seluruh NTT. Aktivitas sangat diwarnai keterbatasan akibat berbagai pembatasan masa krisis; plus sempat juga ada topan Seroja di NTT bulan April.

Kegiatan diawali di pertengahan Maret dengan pre-event yang dilaksanakan oleh Kemkominfo, Telkom, Dekranas, dan Bank Indonesia di Labuan Bajo. Telkom mengajukan tema Kilau Digital Permata NTT, yang oleh Staf Khusus Menkominfo, Pak Phillip Gobang, diubah menjadi Kilau Digital Permata Flobamora. Kegiatan direncanakan berupa piloting integrasi berbagai ekosistem digital yang mendukung ekonomi rakyat, termasuk UMKM, pertanian, perikanan, pariwisata, hingga layanan kesehatan dan pendidikan. Pelatihan awal dilakukan dalam bentuk training-for-trainers di RB Labuan Bajo — sebuah fasilitas milik para BUMN yang memang ditujukan untuk memberikan pembinaan dan layanan lain untuk UMKM.

Talkshow di Pre-Event Gernas BBI Flobamora di Labuan Bajo

Sempat terhenti akibat terpaan Seroja, kegiatan ini dilanjutkan di Kabupaten Sikka, Pulau Flores. Di Maumere, kegiatan dilakukan dengan penyelenggaraan pelatihan untuk UMKM, serta beberapa kunjungan pada UMKM yang memiliki keunggulan atau keunikan. Termasuk yang kami kunjungi adalah Workshop Tenun Lepo Lorun di Kecamatan Nita.

Talkshow Gernas BBI Flobamora di Maumere

Diasuh oleh Ibu Alfonsa Horeng, Lepo Lorun (yang dalam bahasa Indonesia berarti Rumah Tenun) ini memungkinkan penduduk di Nita bekerja menghasilkan kain tenun tradisional Maumere yang berkualitas. Bahan-bahan serba alami. Bahkan kapas pun ditanam di sana. Ibu-ibu berusia lanjut memintal kapas menjadi benang dengan pintal kayu kecil serta uliran dari tangan. Benang kemudian ditarik pada sebuah papan, dan didesain pola warna tenunnya, dengan cara diikat dengan batang alang-alang kecil. Benang kemudian diwarnai dengan pewarna alam dari bahan yang ditanam di tempat pula: kunyit untuk kuning, nila untuk biru, mengkudu untuk merah, kayu-kayu untuk coklat, dll. Proses ini diulangi hingga tersusun benang berwarna-warni. Dengan alat tenun tradisional, benang-benang ini ditenun menjadi kain tenun ikat dengan berbagai corak yang indah. Kapasitas produksi yang kurang memadai membuat Lepo Lorun dan banyak lokakarya setempat harus membeli benang jadi juga dari pasaran.

Pemintalan Benang di Lepo Lorun
Proses Mengikat Benang Tenun di Lepo Lorun
Proses Tenun di Lepo Lorun

Di hari berikutnya, kami kunjungi Desa Wisata Watublapi di kecamatan Hewokloang. Desa ini juga merupakan sentra industri berbasis komunitas yang terdiri atas puluhan keluarga, yang berkolaborasi untuk menghasilkan kain tenun berkualitas dengan cara tradisional. Di sini, proses produksi dipaparkan lebih lengkap, karena kami hadir bersama beberapa pejabat dari Kemkominfo, Kem-KUKM, dan Pemkab Sikka.

Bahan-Bahan Pewarna Kain Tenun di Desa Wisata Watublapi
Proses Tenun di Desa Wisata Watublapi
Upacara Pengenaan Kain di Desa Watublapi
Memberikan sambitan / sambutan di Watublapi

Di Maumere, ibukota kabupaten Sikka, team ekosistem pertanian juga menyiapkan kerjasama digitalisasi offtaking produk perikanan dan pertanian, yang didukung Pemkab Sikka.

Setelah Maumere, kunjungan berikutnya adalah Kupang, Ibukota Provinsi NTT, di Pulau Timor. Pelatihan UMKM di sini dilaksanakan oleh team dari Witel NTT; sedang talkshow dilakukan di Hotel Aston Kupang.

Talkshow Gernas BBI Flomabora di Kupang

Selain pelatihan untuk UMKM, kami juga mengunjungi pusat produksi tenun Inda Ndao. Walaupun terletak di Kupang, Ina Ndao banyak menampilkan motif dari Ndao, salah satu pulau kecil paling selatan di Indonesia, bersebelahan dengan Rote. Pemiliknya, Bu Dorce, pernah mendapatkan pembinaan dari Telkom dan BI, namun kini telah dapat membina UMKM lain, termasuk memiliki komunitas UKM Naik Kelas di Kupang.

Bersama Bu Dorce dan Pak Yus di Sentra Produksi Rumah Tenun Ina Ndao, Kupang
Jadi model di Ina Ndao

Di Kupang, kami juga ke La Moringa. Ini bukan kunjungan pembinaan dll, haha. Tapi memang cari tempat lunch yang bersuasana riang di Kupang. AM Telkom yang merangkap fasilitator UMKM di Kupang, Leevenia, menganjurkan ke La Moringa. Selain berupa resto & café, La Moringa juga memproduksi kuliner oleh-oleh yang bahannya diambil dari daerah setempat, terutama daun kelor. Pelopor dan pemilik La Moringa ini seorang dokter; namun berbagai koordinasi dipercayakan pada PIC-nya, Edyth Coumans.

Bersama Ey Coumans di Booth La Moringa, Komodo

Sayangnya, akibat sempat terjadi topan Seroja, kegiatan-kegiatan ini sempat tertunda, jadi kami belum punya waktu untuk menjalankan program di Pulau Sumba. Bulan Juni sudah hadir, dan kami siapkan kegiatan puncak di Labuan Bajo. Pada kegiatan ini, dipercepat kembali kegiatan2 digitalisasi ekosistem di NTT, termasuk pembayaran digital di pasar di Kupang dan Labuan Bajo, offtaking di Sikka yang diperluas ke seluruh NTT, serta promosi produk UMKM NTT melalui Virtual Expo Flobamora. Juga dilakukan evaluasi kembali atas kegiatan yang tengah dilakukan di NTT. Salah satunya adalah dengan pemeriksaan kondisi di Desa Wisata Liang Ndara, binaan dari Telkom Indonesia.

Ditemani Bapak Kristo dalam kunjungan ke Desa Wisata Batu Cecer, Liang Ndara

Sebagai acara puncak, dilaksanakan ceremony yang dilaksanakan di Puncak Waringin, Labuan Bajo, pada 18 Juni 2021 ini. Ceremony dihadiri Menkomarves Luhut Panjaitan, Menkominfo Johny Plate, Gubernur NTT Viktor Laiskodat, Direktur Strategic Portfolio Telkom Indonesia Budi Setyawan, serta representative dari beberapa kementerian dan Bank Indonesia. Beberapa UMKM yang telah kami temui di Maumere, Kupang, dan Manggarai kami jumpai kembali di Puncak Waringin ini.

Beberapa UMKM Mitra Kerja Gernas BBI Flobamora

Kembali ke Jakarta, kegiatan Virtual Expo diperkaya dengan beberapa webinar yang menampilkan para pimpinan dari gerakan nasional ini, termasuk dari Dekranas, Bank Indonesia, Kemkominfo, BPOLBF, dan tentu dari Telkom Group sendiri. Para UMKM peserta Virtual Expo juga mulai diberikan akses ke pasar B2B ke para BUMN melalui PADI UMKM untuk memastikan kontinuitas transaksi.

Diskusi keberlangsungan program dengan Staf Khusus Menkominfo, Bapak Phillip Gobang, di Puncak Waringin
Bahas Rencana Lanjutan dengan Dir Pemasaran BPOLBF, Bu Raisa Lestari

Secara umum, kegiatan ini berhasil membentuk rantai ekosistem, membentuk jejaring antar komunitas yang memiliki berbagai bentuk komitmen dan kapabilitas untuk bersama-sama mengembangkan ekonomi rakyat, khususnya UMKM dan pertanian di provinsi NTT; untuk kemudian pola serupa digunakan dalam ekspansi ke provinsi lain yang tentunya memiliki keunggulan dan keunikan masing-masing — dan menyimpan berbagai potensi menakjubkan yang hanya dapat dipahami saat kita turun dan melihat langsung ke berbagai pelosok Indonesia ini.

Tim kecilku, bagian dari Satgas BBI Flobamora: Haekal, Andien, Ervina, & special agent Leevenia

Oh, kami masih punya hutang untuk pergi ke Pulau Sumba.

Posted in BBI, Ekosistem, Flobamora, Indonesia, Kemkominfo, NTT, Sinergi, Telkom | Comments Off on Flobamora

IMT-GT eCommerce Tech Planning

When I was in Kupang (May 25th), I was invited by the Coordinative Ministry of Economy (Kemko-Ekon) and Ministry of ICT to discuss the implementation of IMT-GT e-Commerce plan. I presented some options we might choose using PADI UMKM as a national hub connected to the IMT-GT Mall. But then the Government addressed us to propose PADI UMKM as the core platform of the IMT-GT e-Commerce program instead.

On the next IMT-GT JBC (Joint Business Council) Meeting (May 28th), we stated the proposal to take over the development and operation of IMT-GT core platform with some alternative business models. At that time, Thailand expressed their dissatisfaction on the business operation plan of the IMT-GT Mall from Malaysia. Also the CIMT (Centre of the IMT-GT Cooperation) mentioned that PADI UMKM has been in operation since last year, while IMT-GT Mall from Malaysia is still in development plan stage.

Today (June 4th) we continue the JBC Meeting with CIMT. Malaysia has stated their desire to maintain their role as IMT-GT e-Commerce hub as decided in 2019; and representing Indonesia, I have agreed to let them continue leading this program with this determined timeline. PADI UMKM will continue to support as the connection between Indonesia MSMEs and the IMT-GT Mall. I also proposed that the operation of each national hub will be independent, so each country may have different business models in designing the operation business of the e-Commerce program. For example, JBC Malaysia prefers that the operation will be carried out by private sector; while Indonesia prefers to use MSME ecosystem program. This result will be reported on the next Convergence Meeting, scheduled on July.

Posted in Ecosystem, IMTGT, MSME, ok, Telkom | Comments Off on IMT-GT eCommerce Tech Planning

IMT-GT Strategic Planning — SWG ICT

Virtual Meeting on IMT-GT Strategic Planning Meeting (SPM) / Sub-Working Group on ICT was held today. The Standing Chairman of IMT-GT SWG on ICT is from Mme. Suhaila Yeop Johari (Communications Technology Division, Ministry of Communications and Multimedia Malaysia). I attended the meeting representing Telkom Indonesia as the platform owner of PADI UMKM — the platform chosen by the Indonesian Government for MSME exporting facility. The meeting was also attended by Mr. Iswarayuda Bayu Agutama (Head of Bilateral Division,Centre of International Affairs, MCI, Indonesia), Ms. Ishariyaporn Smiprem (Director of Regional Cooperation Group International Affairs Division, Ministry of Digital Economy and Society, Thailand), and Mr. Firdaus Dahlan (Director of CIMT).

Posted in Ecosystem, IMTGT, MSME, ok | Comments Off on IMT-GT Strategic Planning — SWG ICT

Pelikan Souverän M1000

For the International Handwriting Day today I will display Pelikan M1000 as one of the best pens I have (considering, though, that almost all my pens are the best pens). This pen is the top member of the Pelikan Souverän family. This family consists of the M3xx, M4xx, M6xx, M8xx, and M10xx — with the higher numbers before xx are related to the increase in size. So this Souverän M1000 is also the flagship pen of Pelikan.


This pen has a gigantic nib made of Au750 — and it is virtually a perfect 18C gold that it writes so smoothly with the effect of a flexible nib. We can compare it with the magnificent Montblanc Meisterstück 149 with flex nib. Both have an Au750 nib. But not all 149 nibs are designed as flex nib — only those that are advertised so. So both writes excellently well for flexible nib effect. But then when we use them for simple signature, M1000 can simply transform to a cool signature pen, whle 149 flex would lose its magic without its flex effect. It means, to replace an M1000, I’d need a 149 with flex nib and another 149 without flex nib. But surely others may have different experiences.


M1000 has some alternative designs. But for the sake of why not and mwahahahahaha I have chosen a perfect black M1000 with golden cap and ring. Now I have more collection for my gold banded black pen. The barrel and the cap of the pen are made of cotton resin. The cap features a 24k gold-plated finial with a laser-etched relief logo of a pelican and its chick. This pen has an 18k gold bib.

Pelikan’s nib is so breathtaking. It has a unique design: a long and slender nib, with narrower shoulders and a shallower curvature. The face of the bi-color nib is stamped with a series of intersecting, graceful, swooping curves. The Pelikan logo is stamped in the middle of the nib face.

Some dimensions:

  • Length (capped): 145.6mm
  • Length (uncapped): 135.1mm
  • Length (posted): 173.6mm
  • Section diameter: 12.1mm
  • Barrel max diameter: 13.8mm
  • Cap max diameter: 16mm
  • Weight, uncapped (with ink and/or converter): 25g
  • Weight, capped (with ink and/or converter): 35g

Writing using M1000 giving a wet effect of the ink — a favourite for a calligrapher. But, no, it is very wet — but somehow I like it. The big nib is springy, allowing to make line variation as we wish. Again, it is a favourite for a calligrapher.

Pelikan is a 190 year old manufacturer of stationeries. It launched its first fountain pen in 1929. Pelikan is also credited as the pioneer of piston filling mechanism with a differential spindle gear aims to overcome the ink capacity issue in fountain pens. Hungarian engineer Theodor Kovacs is credited with the invention of the original filling mechanism before selling off the patent to Günther Wagner in 1927.

Yes, another Wagner. I know.

Posted in black, calligraphy, f-nib, flex-nib, Fountain Pen, germany, ok, pelikan | Comments Off on Pelikan Souverän M1000

BBI for 2021

At this special BBI coordinative meeting, the Coordinative Minister of Maritime & Invesment reminded us that the program expansion to leverage the MSME & national product should be accelerated in 2021; and the programs would include the quality improvement for the MSME & their products. Some MSMEs must be leveraged to the class of artisans, whose products will have better quality than the industry comparisons.

Telkom, with its definitive role as the architect of the platform-based digital ecosystem for MSME business will expand the digital market for the MSME, including generating and promoting a wider market demand for the MSME products & services. Some horizontal and vertical integrations have been planned to ensure the MSME economy will be part of national development strategy; and some new services could be established, including financing, certification, quality improvement, export facilities, etc.

Posted in Digital Ecosystem, MSME, ok, Telkom | Comments Off on BBI for 2021

BBI Q4/2020

BBI (Bangga Buatan Indonesia) is a coordinative & collaborative programs to improve the economy and commercialisation of national products with special emphasis on MSME products, led by the Government of Indonesia — in this case the Coordinative Minister of Maritime and Investment (Menkomarves). Telkom is actively involved in this program via its MSME Digital Ecosystem programs, incl PADI UMKM and Rumah BUMN.

This year, some footholds have been established, including the BBI program itself, PADI UMKM & Bela Pengadaan, and some programs related to MSME in Creative Economy and Maritime & Fishery. For Telkom, the main role is to build, establish, and expand the platform-based digital ecosystem for MSME business, including their development and economic improvement.

The next thing to do is to build a context for integration among those separated systems and applications, to establish a real ecosystem supported with integrated information and platform, where all programs and activities could provide mutual support in leveraging different segments of MSMEs, including small and medium business in agriculture, fishery, forestry, creative industry, etc.

Posted in BBI, BUMN, Digital Ecosystem, MSME, ok, Telkom | Comments Off on BBI Q4/2020

Transformasi di Masa Krisis

Aku mem-WFH-kan diri di awal Maret tahun ini karena mendadak kena flu, baru bergabung dengan WFH resmi yang berlangsung panjang hingga menjelang Juli. Pun di hari-hari awal, sambil melihat yang terjadi di RRC dan Eropa, aku mulai mencatat prediksi-prediksi yang tidak optimis, termasuk bahwa (a) virus ini tidak akan pergi, dan kita yang harus menyesuaikan diri, serta (b) andaipun wabah menghilang, perilaku orang sudah berubah, setelah mengalami bahwa banyak aktivitas sebenarnya dapat didigitalkan. Dilengkapi beberapa kajian paper tentang transformasi di level ekosistem dll, sebenarnya aku siap memaparkan pada IEEE Leadership Summit: Engineering in Covid-19 Crises beberapa bulan lalu. Namun, ternyata aku lebih mengasyiki jadi moderator daripada jadi speaker :).

Beberapa bagian dari rencana presentasi itu akhirnya dimanfaatkan hari ini. Atas undangan Mr Ford, hari ini aku bergabung sebagai salah satu speaker dalam diskusi meja bundar (Round Table) dengan judul Business Development in the COVID-19 era: Challenges and Opportunities. Diskusi diselenggarakan Southern Federal University (SFedU) di Rostov, Russia. Narasumber diskusi ini berasal dari kalangan bisnis dan akademisi dari Jepang, Italia, Thailand, Indonesia, dan tentu saja Russia sendiri.

Roundtable dengan MS Team

Paparanku dimulai dengan fakta bahwa dalam beberapa dekade terakhir, sebenarnya perusahaan global dan / atau perusahaan digital memiliki kecenderungan untuk mengembangkan bisnis dengan menumbuhkan ekosistem; dan hal ini mau-tak-mau telah mengubah perilaku dan budaya masyakarat. Jadi, bahkan tanpa krisis dan pandemi pun, transformasi digital dan ekosistem bisnis sudah menjadi keniscayaan. Pandemi hanya mempercepat.

Tahap Transformasi Yang Didorong Krisis

Krisis yang terjadi secara serba mendadak mengharuskan masyarakat untuk mempertahankan aktivitasnya dengan teknologi atau apa pun yang dapat dilakukan. Kantor tutup, tapi orang dapat berkoordinasi dengan teks atau vicon. Rapat dan koordinasi lain jalan terus. Sekolah pun berpindah ke kelas vicon. Ini adalah tahap emergency, saat masyarakat sekedar memanfaatkan teknologi untuk memindahkan aktivitas yang telah ada. Ini segera diikuti dengan fase adaptasi, saatu terjadi perbaikan atau perubahan yang saling adaptif, baik di sisi teknologi maupun di sisi perilaku. Rapat dan koordinasi dianggap wajar dari tempat dan waktu yang tidak harus berdekatan. Informasi yang terbaharui dan kompehensif dapat digunakan bersama untuk mengambil keputusan tanpa harus benar-benar bertemu. Terjadi perubahan yang lebih filosofis. “Mengapa harus rapat? Karena kita ingin semua informasi yang updated dan komprehensif dari berbagai pihak dapat dipertimbangkan dengan berbagai feedback untuk menghasilkan keputusan terbaik. Nah, sekarang, dapatkah ini dilakukan tanpa rapat?” Disiplin pembaharuan data, disiplin pengambilan keputusan dengan informasi komprehensif, serta sistem feedback — yang semuanya sebenarnay dapat dilakukan dengan teknologi informasi yang telah ada sekarang. Maka masuklah kita ke fase transformasi, dengan model aktivitas bisnis, pendidikan, perdagangan, logistik, dievaluasi kembali, dan ditransformasikan memanfaatkan teknologi digital. Ini akan menghasilkan kapabilitas-kapabilitas dan peluang-peluang baru, yang menariknya justru menjadikan krisis ini sebagai pemicu terjadinya ekspansi.

Dan justru di masa krisis semacam ini, dengan keterbatasan yang luar biasa dalam pengembangan kapabilitas serta semakin rumitnya mencari peluang-peluang baru; maka secara pragmatis masyarakat dan bisnis mulai terbuka untuk saling memanfaatkan kapabilitas dan peluang dari pihak lain — terbentuk kolaborasi yang tidak harus bersifat formal, atau dengan kata lain: terbentuk model pertumbuhan melalui ekosistem.

Proses Pengembangan Ekosistem (?)

Ekosistem sendiri dapat tumbuh secara alami, atau tetap dapat ditumbuhkan melalui perencanaan. Ekosistem seperti media sosial, proliferasi aplikasi mobile, dan lain-lain sebagian dipengaruhi oleh strategi yang dirumuskan pengembang platform, sebagian besar diatur oleh para pemakai, termasuk yang menambahkan berbagai feature yang dapat berpeluang menjadi platform yang berbeda. Misalnya, siapa yang lebih platform: Android (yang bisa ditumpangi banyak media sosial) atau Facebook (yang dapat memanfaatkan berbagai sistem operasi)? Namun secara teknologi dan bisnis, tetap perlu dan dapat dilakukan perencanaan pengembangan ekosistem, seperti saat kita mengembangkan bisnis yang bersifat sangat adaptif dan agile. Ekosistem harus dirancang untuk bersifat sangat dan sangat-sangat adaptif sejak awal.

Posted in Bisnis, Covid, Digital, Ekosistem, Platform, Russia, Telkom, Transformasi | Comments Off on Transformasi di Masa Krisis

Круглый Стол в ЮФУ

This weekend, Mr Ford asked me to provide a presentation in a forum organised by the SFedU. The title of the forum is «Круглый Стол : Развитие Компаний в Период COVID-19: Вызовы и Возможнпсти» — or more or less: Round Table: Business development in the COVID-19 era: challenges and opportunities. SFedU, or Southern Federal University (Южный федеральный университет = ЮФУ) is a university in Rostov Oblast, Russia, with campuses located at Rostov-on-Don and Taganrog.

The speakers for this forum are from the academicians and business people from Japan, Italy, Thailand, and Indonesia.

In my presentation, I discussed again how these COVID-19 crises actually provide some contexts for us to design a strategic transformation by exploring the new opportunities and using potential collaborative innovations. In theory, we have all we need to start establishing it with synergistic efforts. I described in brief the way we can start planning the ecosystem.

Posted in Digital Ecosystem, Ecosystem, ok, Russia | Comments Off on Круглый Стол в ЮФУ