Flobamora

Eposide di Q2 2021 ini berjudul Gernas BBI Flobamora: tiga buah singkatan yang kepanjangannya bisa dicari di Google. Akhir 2020, Menteri Kesehatan nan ekstra-inkompeten telah dicopot; pada Q1 2021 vaksinasi Covid-19 telah dimulai; dan aktivitas pengembangan sudah diminta dilanjutkan kembali. Kami beroleh tugas di provinsi NTT. Di awal, fokus hanya pada sebagian Flores dan Sumba, namun kemudian diperluas ke seluruh NTT. Aktivitas sangat diwarnai keterbatasan akibat berbagai pembatasan masa krisis; plus sempat juga ada topan Seroja di NTT di bulan April.

Kegiatan diawali di pertengahan Maret dengan pre-event yang dilaksanakan oleh Kemkominfo, Telkom, Dekranas, dan Bank Indonesia di Labuan Bajo. Telkom mengajukan tema Kilau Digital Permata NTT, yang oleh Staf Khusus Menkominfo, Pak Phillip Gobang, diubah menjadi Kilau Digital Permata Flobamora. Kegiatan direncanakan berupa piloting integrasi berbagai ekosistem digital yang mendukung ekonomi rakyat, termasuk UMKM, pertanian, perikanan, pariwisata, hingga layanan kesehatan dan pendidikan. Pelatihan awal dilakukan dalam bentuk training-for-trainers di RB Labuan Bajo — sebuah fasilitas milik para BUMN yang memang ditujukan untuk memberikan pembinaan dan layanan lain untuk UMKM.

Talkshow di Pre-Event Gernas BBI Flobamora di Labuan Bajo

Sempat terhenti akibat topan Seroja, kegiatan ini dilanjutkan di Kabupaten Sikka, Pulau Flores. Di Maumere, kegiatan dilakukan dengan penyelenggaraan pelatihan untuk UMKM, serta beberapa kunjungan pada UMKM yang memiliki keunggulan potensial untuk diangkat. Termasuk yang kami kunjungi adalah Workshop Tenun Lepo Lorun di Kecamatan Nita.

Talkshow Gernas BBI Flobamora di Maumere

Diasuh oleh Ibu Alfonsa Horeng, Workshop Tenun Lepo Lorun ini memungkinkan penduduk di Nita bekerja menghasilkan kain tenun tradisional Maumere yang berkualitas tinggi. Bahan-bahan serba alami. Bahkan kapas pun ditanam di sana. Ibu-ibu berusia lanjut memintal kapas menjadi benang dengan pintal kayu kecil dan jempol kaki. Benang kemudian ditarik pada sebuah papan, dan didesain pola warna tenunnya, dengan cara diikat dengan batang alang-alang kecil. Benang kemudian diwarnai dengan pewarna alam dari bahan yang ditanam di tempat pula: kunyit untuk kuning, nila untuk biru, kayu-kayu untuk coklat dan merah, dll. Proses ini diulangi hingga tersusun benang berwarna-warni. Dengan alat tenun tradisional, benang-benang ini ditenun menjadi kain tenun ikat dengan berbagai corak yang indah. Kapasitas produksi yang kurang memadai membuat Lepo Lorun dan banyak lokakarya setempat harus membeli benang jadi juga dari pasaran.

Pemintalan Benang di Lepo Lorun
Proses Mengikat Benang Tenun di Lepo Lorun
Proses Tenun di Lepo Lorun

Di hari berikutnya, kami kunjungi Desa Wisata Watublapi di kecamatan Hewokloang. Desa ini juga merupakan sentra industri berbasis komunitas untuk menghasilkan kain tenun berkualitas tinggi dengan cara tradisional. Di sini, proses produksi dipaparkan lebih lengkap, karena kami hadir bersama beberapa pejabat dari Kemkominfo, Kem-KUKM, dan Pemkab Sikka.

Bahan-Bahan Pewarna Kain Tenun di Desa Wisata Watublapi
Proses Tenun di Desa Wisata Watublapi
Upacara Pengenaan Kain di Desa Watublapi

Di Maumere, ibukota kabupaten Sikka, team ekosistem pertanian juga menyiapkan kerjasama digitalisasi offtaking produk perikanan dan pertanian, yang didukung Pemkab Sikka.

Setelah Maumere, kunjungan berikutnya adalah Kupang, Ibukota Provinsi NTT, di Pulau Timor. Pelatihan UMKM di sini dilaksanakan oleh team dari Witel NTT; sedang talkshow dilakukan di Hotel Aston Kupang.

Talkshow Gernas BBI Flomabora di Kupang

Selain pelatihan untuk UMKM, kami juga mengunjungi pusat produksi tenun Inda Ndao. Walaupun terletak di Kupang, Ina Ndao banyak menampilkan motif dari Ndao, salah satu pulau kecil paling selatan di Indonesia, bersebelahan dengan Rote. Pemiliknya, Bu Dorce, pernah mendapatkan pembinaan dari Telkom dan BI, namun kini telah dapat membina UMKM lain, termasuk memiliki komunitas UKM Naik Kelas di Kupang.

Bersama Bu Dorce dan Pak Yus di Sentra Produksi Rumah Tenun Ina Ndao, Kupang

Di Maumere, kami juga ke La Moringa. Ini bukan kunjungan pembinaan dll, haha. Tapi memang cari tempat lunch yang bersuasana riang di Kupang. AM Telkom yang merangkap fasilitator UMKM di Kupang, Leevenia, menganjurkan ke La Moringa. Selain berupa resto & café, La Moringa juga memproduksi makanan oleh-oleh yang bahannya diambil dari daerah setempat, terutama daun kelor. Pelopor dan pemilik La Moringa ini seorang dokter; namun berbagai koordinasi dipercayakan pada PIC-nya, Edyth Coumans.

Bersama Ey Coumans di Booth La Moringa, Komodo

Sayangnya, akibat sempat terjadi topan Seroja, kegiatan-kegiatan ini sempat tertunda, jadi kami belum punya waktu untuk menjalankan program di Pulau Sumba. Bulan Juni sudah hadir, dan kami siapkan kegiatan puncak di Labuan Bajo. Pada kegiatan ini, dipercepat kembali kegiatan2 digitalisasi ekosistem di NTT, termasuk pembayaran digital di pasar di Kupang dan Labuan Bajo, offtaking di Sikka yang diperluas ke seluruh NTT, serta promosi produk UMKM NTT melalui Virtual Expo Flobamora. Juga dilakukan evaluasi kembali atas kegiatan yang tengah dilakukan di NTT. Salah satunya adalah dengan pemeriksaan kondisi di Desa Wisata Liang Ndara, binaan dari Telkom Indonesia.

Ditemani Bapak Kristo dalam kunjungan ke Desa Wisata Batu Cecer, Liang Ndara

Sebagai acara puncak, dilaksanakan ceremony yang dilaksanakan di Puncak Waringin, Labuan Bajo, pada 18 Juni 2021 ini. Ceremony dihadiri Menkomarves Luhut Panjaitan, Menkominfo Johny Plate, Gubernur NTT Viktor Laiskodat, Direktur Strategic Portfolio Telkom Indonesia Budi Setyawan, serta representative dari beberapa kementerian dan Bank Indonesia. Beberapa UMKM yang telah kami temui di Maumere, Kupang, dan Manggarai kami jumpai kembali di Puncak Waringin ini.

Beberapa UMKM Mitra Kerja Gernas BBI Flobamora

Kembali ke Jakarta, kegiatan Virtual Expo diperkaya dengan beberapa webinar yang menampilkan para pimpinan dari gerakan nasional ini, termasuk dari Dekranas, Bank Indonesia, Kemkominfo, BPOLBF, dan tentu dari Telkom Group sendiri. Para UMKM peserta Virtual Expo juga mulai diberikan akses ke pasar B2B ke para BUMN melalui PADI UMKM untuk memastikan kontinuitas transaksi.

Diskusi keberlangsungan program dengan Staf Khusus Menkominfo, Bapak Phillip Gobang, di Puncak Waringin
Bahas Rencana Lanjutan dengan Dir Pemasaran BPPLBF, Bu Raisa Lestari

Secara umum, kegiatan ini berhasil membentuk ekosistem, membentuk jejaring antar komunitas yang memiliki berbagai bentuk komitmen dan kapabilitas untuk bersama-sama mengembangkan ekonomi rakyat, khususnya UMKM dan pertanian di provinsi NTT; untuk kemudian pola serupa digunakan dalam ekspansi ke provinsi lain yang tentunya memiliki keunggulan dan keunikan masing-masing — dan menyimpan berbagai potensi menakjubkan yang hanya dapat dipahami saat kita turun dan melihat langsung ke berbagai pelosok Indonesia ini.

Tim kecilku, bagian dari Satgas BBI Flobamora: Haekal, Andien, Ervina, & special agent Leevenia

Oh, kami masih punya hutang untuk pergi ke Pulau Sumba.

IMT-GT eCommerce Tech Planning

When I was in Kupang (May 25th), I was invited by the Coordinative Ministry of Economy (Kemko-Ekon) and Ministry of ICT to discuss the implementation of IMT-GT e-Commerce plan. I presented some options we might choose using PADI UMKM as a national hub connected to the IMT-GT Mall. But then the Government addressed us to propose PADI UMKM as the core platform of the IMT-GT e-Commerce program instead.

On the next IMT-GT JBC (Joint Business Council) Meeting (May 28th), we stated the proposal to take over the development and operation of IMT-GT core platform with some alternative business models. At that time, Thailand expressed their dissatisfaction on the business operation plan of the IMT-GT Mall from Malaysia. Also the CIMT (Centre of the IMT-GT Cooperation) mentioned that PADI UMKM has been in operation since last year, while IMT-GT Mall from Malaysia is still in development plan stage.

Today (June 4th) we continue the JBC Meeting with CIMT. Malaysia has stated their desire to maintain their role as IMT-GT e-Commerce hub as decided in 2019; and representing Indonesia, I have agreed to let them continue leading this program with this determined timeline. PADI UMKM will continue to support as the connection between Indonesia MSMEs and the IMT-GT Mall. I also proposed that the operation of each national hub will be independent, so each country may have different business models in designing the operation business of the e-Commerce program. For example, JBC Malaysia prefers that the operation will be carried out by private sector; while Indonesia prefers to use MSME ecosystem program. This result will be reported on the next Convergence Meeting, scheduled on July.

IMT-GT Strategic Planning — SWG ICT

Virtual Meeting on IMT-GT Strategic Planning Meeting (SPM) / Sub-Working Group on ICT was held today. The Standing Chairman of IMT-GT SWG on ICT is from Mme. Suhaila Yeop Johari (Communications Technology Division, Ministry of Communications and Multimedia Malaysia). I attended the meeting representing Telkom Indonesia as the platform owner of PADI UMKM — the platform chosen by the Indonesian Government for MSME exporting facility. The meeting was also attended by Mr. Iswarayuda Bayu Agutama (Head of Bilateral Division,Centre of International Affairs, MCI, Indonesia), Ms. Ishariyaporn Smiprem (Director of Regional Cooperation Group International Affairs Division, Ministry of Digital Economy and Society, Thailand), and Mr. Firdaus Dahlan (Director of CIMT).

BBI for 2021

At this special BBI coordinative meeting, the Coordinative Minister of Maritime & Invesment reminded us that the program expansion to leverage the MSME & national product should be accelerated in 2021; and the programs would include the quality improvement for the MSME & their products. Some MSMEs must be leveraged to the class of artisans, whose products will have better quality than the industry comparisons.

Telkom, with its definitive role as the architect of the platform-based digital ecosystem for MSME business will expand the digital market for the MSME, including generating and promoting a wider market demand for the MSME products & services. Some horizontal and vertical integrations have been planned to ensure the MSME economy will be part of national development strategy; and some new services could be established, including financing, certification, quality improvement, export facilities, etc.

BBI Q4/2020

BBI (Bangga Buatan Indonesia) is a coordinative & collaborative programs to improve the economy and commercialisation of national products with special emphasis on MSME products, led by the Government of Indonesia — in this case the Coordinative Minister of Maritime and Investment (Menkomarves). Telkom is actively involved in this program via its MSME Digital Ecosystem programs, incl PADI UMKM and Rumah BUMN.

This year, some footholds have been established, including the BBI program itself, PADI UMKM & Bela Pengadaan, and some programs related to MSME in Creative Economy and Maritime & Fishery. For Telkom, the main role is to build, establish, and expand the platform-based digital ecosystem for MSME business, including their development and economic improvement.

The next thing to do is to build a context for integration among those separated systems and applications, to establish a real ecosystem supported with integrated information and platform, where all programs and activities could provide mutual support in leveraging different segments of MSMEs, including small and medium business in agriculture, fishery, forestry, creative industry, etc.

Transformasi di Masa Krisis

Aku mem-WFH-kan diri di awal Maret tahun ini karena mendadak kena flu, baru bergabung dengan WFH resmi yang berlangsung panjang hingga menjelang Juli. Pun di hari-hari awal, sambil melihat yang terjadi di RRC dan Eropa, aku mulai mencatat prediksi-prediksi yang tidak optimis, termasuk bahwa (a) virus ini tidak akan pergi, dan kita yang harus menyesuaikan diri, serta (b) andaipun wabah menghilang, perilaku orang sudah berubah, setelah mengalami bahwa banyak aktivitas sebenarnya dapat didigitalkan. Dilengkapi beberapa kajian paper tentang transformasi di level ekosistem dll, sebenarnya aku siap memaparkan pada IEEE Leadership Summit: Engineering in Covid-19 Crises beberapa bulan lalu. Namun, ternyata aku lebih mengasyiki jadi moderator daripada jadi speaker :).

Beberapa bagian dari rencana presentasi itu akhirnya dimanfaatkan hari ini. Atas undangan Mr Ford, hari ini aku bergabung sebagai salah satu speaker dalam diskusi meja bundar (Round Table) dengan judul Business Development in the COVID-19 era: Challenges and Opportunities. Diskusi diselenggarakan Southern Federal University (SFedU) di Rostov, Russia. Narasumber diskusi ini berasal dari kalangan bisnis dan akademisi dari Jepang, Italia, Thailand, Indonesia, dan tentu saja Russia sendiri.

Roundtable dengan MS Team

Paparanku dimulai dengan fakta bahwa dalam beberapa dekade terakhir, sebenarnya perusahaan global dan / atau perusahaan digital memiliki kecenderungan untuk mengembangkan bisnis dengan menumbuhkan ekosistem; dan hal ini mau-tak-mau telah mengubah perilaku dan budaya masyakarat. Jadi, bahkan tanpa krisis dan pandemi pun, transformasi digital dan ekosistem bisnis sudah menjadi keniscayaan. Pandemi hanya mempercepat.

Tahap Transformasi Yang Didorong Krisis

Krisis yang terjadi secara serba mendadak mengharuskan masyarakat untuk mempertahankan aktivitasnya dengan teknologi atau apa pun yang dapat dilakukan. Kantor tutup, tapi orang dapat berkoordinasi dengan teks atau vicon. Rapat dan koordinasi lain jalan terus. Sekolah pun berpindah ke kelas vicon. Ini adalah tahap emergency, saat masyarakat sekedar memanfaatkan teknologi untuk memindahkan aktivitas yang telah ada. Ini segera diikuti dengan fase adaptasi, saatu terjadi perbaikan atau perubahan yang saling adaptif, baik di sisi teknologi maupun di sisi perilaku. Rapat dan koordinasi dianggap wajar dari tempat dan waktu yang tidak harus berdekatan. Informasi yang terbaharui dan kompehensif dapat digunakan bersama untuk mengambil keputusan tanpa harus benar-benar bertemu. Terjadi perubahan yang lebih filosofis. “Mengapa harus rapat? Karena kita ingin semua informasi yang updated dan komprehensif dari berbagai pihak dapat dipertimbangkan dengan berbagai feedback untuk menghasilkan keputusan terbaik. Nah, sekarang, dapatkah ini dilakukan tanpa rapat?” Disiplin pembaharuan data, disiplin pengambilan keputusan dengan informasi komprehensif, serta sistem feedback — yang semuanya sebenarnay dapat dilakukan dengan teknologi informasi yang telah ada sekarang. Maka masuklah kita ke fase transformasi, dengan model aktivitas bisnis, pendidikan, perdagangan, logistik, dievaluasi kembali, dan ditransformasikan memanfaatkan teknologi digital. Ini akan menghasilkan kapabilitas-kapabilitas dan peluang-peluang baru, yang menariknya justru menjadikan krisis ini sebagai pemicu terjadinya ekspansi.

Dan justru di masa krisis semacam ini, dengan keterbatasan yang luar biasa dalam pengembangan kapabilitas serta semakin rumitnya mencari peluang-peluang baru; maka secara pragmatis masyarakat dan bisnis mulai terbuka untuk saling memanfaatkan kapabilitas dan peluang dari pihak lain — terbentuk kolaborasi yang tidak harus bersifat formal, atau dengan kata lain: terbentuk model pertumbuhan melalui ekosistem.

Proses Pengembangan Ekosistem (?)

Ekosistem sendiri dapat tumbuh secara alami, atau tetap dapat ditumbuhkan melalui perencanaan. Ekosistem seperti media sosial, proliferasi aplikasi mobile, dan lain-lain sebagian dipengaruhi oleh strategi yang dirumuskan pengembang platform, sebagian besar diatur oleh para pemakai, termasuk yang menambahkan berbagai feature yang dapat berpeluang menjadi platform yang berbeda. Misalnya, siapa yang lebih platform: Android (yang bisa ditumpangi banyak media sosial) atau Facebook (yang dapat memanfaatkan berbagai sistem operasi)? Namun secara teknologi dan bisnis, tetap perlu dan dapat dilakukan perencanaan pengembangan ekosistem, seperti saat kita mengembangkan bisnis yang bersifat sangat adaptif dan agile. Ekosistem harus dirancang untuk bersifat sangat dan sangat-sangat adaptif sejak awal.

Круглый Стол в ЮФУ

This weekend, Mr Ford asked me to provide a presentation in a forum organised by the SFedU. The title of the forum is «Круглый Стол : Развитие Компаний в Период COVID-19: Вызовы и Возможнпсти» — or more or less: Round Table: Business development in the COVID-19 era: challenges and opportunities. SFedU, or Southern Federal University (Южный федеральный университет = ЮФУ) is a university in Rostov Oblast, Russia, with campuses located at Rostov-on-Don and Taganrog.

The speakers for this forum are from the academicians and business people from Japan, Italy, Thailand, and Indonesia.

In my presentation, I discussed again how these COVID-19 crises actually provide some contexts for us to design a strategic transformation by exploring the new opportunities and using potential collaborative innovations. In theory, we have all we need to start establishing it with synergistic efforts. I described in brief the way we can start planning the ecosystem.

Indonesian Computer Society Gathering

The IEEE Computer Society Indonesia Chapter has carried out a member gathering today. Apparently, during the COVID-19 crises, it is not very easy to organise such meeting, albeit an online one — so this gathering presented no less than six presenters; two of which are Prof Cecilia Meras, the Past President of the IEEE Computer Society, and yours truly.

My presentation was titled «Digital Platforms for Society Resilience in Time of Crises». We have understood that these crises have motivated businesses to plan, do, or speed up some kinds of digital transformation. But the transformation should not only stop at adapting the business to the new situations — whatever they are. Instead, it is actually a just-in-time context to design a strategic transformation by exploring the new opportunities and using potential collaborative innovations. In theory, we have all we need to start establishing it with synergistic efforts.

Gershwin’s Rhapsody in Montblanc

Rhapsody in Blue — a composition I used to wake myself up for years. As if understanding how hard it is to start a day, it starts with a slow and random clarinet melodies. But then it raises to an orchestra with dynamic harmonies to absorb the spirit with no stop to our soul. And that is how life used to begin for years.

Its composer, George Gershwin (September 26, 1898 – July 11, 1937), was an American composer and pianist whose compositions spanned both popular and classical genres. Besides Rhapsody in Blue, his best-known works are an orchestral work An American in Paris (1928), the jazz standard I Got Rhythm (1930), and the opera Porgy and Bess (1935) which gave birth to the hit Summertime.

Montblanc has an annual tradition to launch donation pen collection for honouring world-famous classical musicians. This program supports selected cultural projects from pioneering artists the world over with a donation of 20 euros per fountain pen (and 10 euros per ballpoint or rollerball). The edition of 2019 paid the tribute to George Gershwin.

The design of Gershwin fountain pen is quite distinctive — easily recognised. The clip is in the shape of a clarinet — a tribute to the clarinet opening from Gershwin’s Rhapsody in Blue. Another tribute to Rhapsody in Blue is the ink window which features a blue colour. The cap ring is inspired by the Brooklyn Bridge to symbolise the close relationship George Gershwin had with his place of birth. The cap and barrel are made out of black resin combined with platinum-coated fittings. The length of the pen with the cap is 15.6 cm, and the total weight is 89.84 grams.

Parker Duofold

This year the world commemorate 75 years of the end of the World War II. After the surrender of the German on June, Japan decided to surrender on August, due to the continuous defeat at the Pacific theatre, the dropping of two atomic bombs in Hiroshima and Nagasaki, but especially by the declaration of war and attacks from Russia. Like Germany, Japan chose to surrender to the US rather than being occupied by Russia. Hey, those mad Russians had even murdered their own Tsar on World War I and almost all of their own heroes just before the World War II..

Now, please forget those clumsy Russias with their bad fountain pens (at that time), and focus to the US. Dwight D. Eisenhower and Douglas MacArthur were US Generals with quite different personalities, but — being American patriots — they both used the same brand of pen for the surrender documents 75 years ago. Eisenhower had chosen Parker 51, but MacArthur preferred to use Parker Duofold. Eisenhower’s Parker 51 was used to sign the German Instrument of Surrender in Reims (07 May 1945). MacArthur used a Parker Duofold to sign the Japanese Instrument of Surrender on the deck of the USS Missouri (02 September 1945). Both were two of the most popular pens of their time. But the Duofold was a design that was 20 years older than the 51.

Parker started producing Duofold in 1921. It was a large pen compared with other pens at the time. Almost all other pens at the time were black, but Duofold was available in a bright red/orange color. Even at the USS Missouri, there were multiple pens used to sign the multiple copies of the Japanese Instrument of Surrender — all were standard black pens, except that one Duofold.

The Duofold design is based on the era of Jazz and Art Deco and reflects the abundance and style of the time. It is actually a collection of writing instruments with exceptional character and outstanding design. The Duofold pen is available in 3 sizes, the large Centennial, classical International, or the smaller Demi. The one displayed here is a Parker Duofold Centennial, launched to celebrate 100 years of Parker pens, i.e. in 1988. Crafted from solid acrylic with highly distinguished, contrasting contrasting platinum details. The pen has an 18 kt gold nib in F sizes.

Some dimensions info:
Weight 28 gram
Length closed 135mm
Length barrel 127mm
Length posted 172mm
Diameter 13mm

Now I need to know — besides the usual arrow design of Parker pens — the story behind the ace of spade symbols on both the nib and the cap of this great pen.