APWCS 2016

APWCS (Asia Pacific Wireless Communications Symposium) adalah konferensi regional Asia Pasifik yang dikelola oleh IEEE VTS (Vehicular Technology Society) dari chapter-chapter Tokyo, Seoul, Taipei, dan Singapore. Tak bisa disalahkan jika kita membandingkan dengan APCC yang dikelola IEEE bersama dengan IEICE, KICS, CICS. Tahun ini APWCS diselenggarakan di Tokyo City University, Tokyo; 25–26 Agustus 2016. Aku hadir ke simposium ini dalam misi untuk mengaktifkan VTS di Indonesia, termasuk mengajukan kesiapan Indonesia sebagai host APWCS berikutnya.

Kebetulan aku masih punya 76000 Garuda Miles, dan 70000-nya langsung dikonversikan jadi tiket Garuda Cengkareng–Haneda p.p. Berangkat tanggal 23 Agustus menjelang tengah malam, Garuda mendarat di Haneda tanggal 24 pagi. Mandi di airport, dan langsung menjelajah Tokyo. Kuliner pertama adalah sushi segar yang langsung dibuatkan di depan kita. Wow :). Tentu, didahului sop miso yang khas itu.

img_2016-09-30-222311

Kamis pagi, 25 Agustus, barulah mengarah ke Tokyo City University, di kawasan Setagaya, Tokyo. Khawatir dengan gaya Jepang yang seringkali formil, aku pakai suite dengan gaya yang klasik tapi tetap santai. Di sana, Prof Mamoru Sawahashi, General Chair dari APWCS 2016 siap menyambut. Eh, baru sadar, suite kami matching sekali. Prof Sawahashi menceritakan scope simposium, sebaran pesertanya, dan nature dari penyelenggaraan simposium ini. Setiap konferensi memiliki sifat yang berbeda, dan kadang hanya dapat dipahami dengan langsung mengikuti seluruh kegiatan di dalamnya.

img_2016-09-30-222333

Tak lama, Prof Sawahashi harus memutus percakapan, untuk secara resmi membuka APWCS 2016. Berderet keynote speakers dari kalangan akademisi dan industri bergantian memberikan paparan tentang filosofi dan rencana implementasi Jaringan 5G dengan berbagai aspeknya. Ini selalu jadi saat yang mendebarkan, saat kita memiliki kesempatan mendengarkan update terbaru dari researcher senior yang merupakan para inventor & innovator kelas dunia. VTS memiliki sifat yang lebih spesifik dan fokus daripada society yang besar, semisal Comsoc (IEEE Communications Society)  atau IEEE Computer Society. Jadi paparan para researcher ini betul-betul fokus di cutting-edge teknologi 5G.

img_2016-09-30-222346

Tengah hari, Prof Sawahashi mengajak makan siang ke ruang VIP. Di sini, sekaligus dilakukan General Meeting dari APWCS Board of Governor. Anggotanya bukan hanya dari Jepang, tapi dari berbagai negara stakeholder, dengan gaya masing-masing.

img_2016-09-30-222328

Di BoG meeting inilah, aku memaparkan situasi riset & industri mobile di Indonesia, kapabilitas dan peluangnya, serta kemudian mengajukan Indonesia sebagai host dari APWCS berikutnya. Berikutnya itu bukan 2017, karena simposium semacam ini memerlukan persiapan sangat panjang, dan unik. Jadi mereka membuka kesempatan Indonesia menjadi host pada 2019, jika Indonesia memang dapat meyakinkan komitmen & kapabilitasnya.

img_2016-09-30-222322

Cukup banyak masukan yang diberikan bagi Indonesia dalam meeting ini; terutama bahwa Indonesia belum memiliki VTS Chapter. Selain periset dan akademisi serius, mereka sebenarnya sekumpulan macan. Tapi aku semacam macan lokal juga sih. Dan aku bisa menunjukkan bahwa IEEE Indonesia Section memiliki leadership kuat untuk memastikan keberhasilan program ini. Jadi akhirnya mereka secara prinsip menyetujui Indonesia menjadi host. Namun dalam jangka waktu itu, kita harus menunjukkan langkah-langkah kesiapan.

Lepas presentasi, beberapa anggota BoG mengajak berbincang. Sebagian untuk lebih kenal, sebagian lagi untuk meneruskan assessment :). Experience dari Section dan representative-nya pun (yours truly) dieksplorasi. Beberapa nama penting disebut. Entah kebetulan atau keberuntungan, nama-nama yang disebut itu punya hubungan baik dalam perjalanan networking di IEEE, termasuk incoming Director of IEEE Region 10, Prof Kukjin Chun, dan former Director of IEEE Comsoc Prof Byeong Gi Lee. So far so good.

Usai BoG meeting, aku masuk ke sesi-sesi paralel di simposium ini; menyimak beberapa hasil riset para researcher dan mahasiswa. Namun saat break, aku jumpa lagi dengan Chairman of APWCS BoG, Prof Li-Chun Wang. Kami berbincang cukup panjang di meja kecil. Di sini Prof Wang menyampaikan  concern sesungguhnya dari banyak anggota BoG. Fokus BoG sebenarnya bukan simposium atau conference; melainkan memastikan VTS tumbuh di region ini, dengan kegiatan yang terus bertumbuh. Simposium hanyalah sebuah cara untuk memastikan pertumbuhan kegiatan ini. Prof Wang juga menceritakan bagaimana akhirnya BoG bisa yakin untuk tetap mendukung Indonesia di 2019. OK, deal.

img_2016-09-30-222339

Selesai tugas, masih ada waktu untuk meneruskan belajar berbagai aspek dari vehicular technology, khususnya perkembangan 5G network yang menjadi fokus utama tahun ini. Menarik bahwa IoT masuk ke frame ini bukan sebagai requirement yang harus didukung dengan 5G, melainkan benar-benar merupakan bagian terpadu dari 5G itu sendiri.

Dan masih ada waktu juga untuk beristirahat dan berlibur beberapa hari. OK, yang ini kita sambung di blog lain. Aku masih punya travelling blog loh :).

img_2016-09-30-222316

APWCS 2016

APWCS (Asia Pacific Wireless Communications Symposium) adalah konferensi regional Asia Pasifik yang dikelola oleh IEEE VTS (Vehicular Technology Society) dari chapter-chapter Tokyo, Seoul, Taipei, dan Singapore. Tak bisa disalahkan jika kita membandingkan dengan APCC yang dikelola IEEE bersama dengan IEICE, KICS, CICS. Tahun ini APWCS diselenggarakan di Tokyo City University, Tokyo; 25–26 Agustus 2016. Aku hadir ke simposium ini dalam misi untuk mengaktifkan VTS di Indonesia, termasuk mengajukan kesiapan Indonesia sebagai host APWCS berikutnya.

Kebetulan aku masih punya 76000 Garuda Miles, dan 70000-nya langsung dikonversikan jadi tiket Garuda Cengkareng–Haneda p.p. Berangkat tanggal 23 Agustus menjelang tengah malam, Garuda mendarat di Haneda tanggal 24 pagi. Mandi di airport, dan langsung menjelajah Tokyo. Kuliner pertama adalah sushi segar yang langsung dibuatkan di depan kita. Wow :). Tentu, didahului sop miso yang khas itu.

img_2016-09-30-222311

Kamis pagi, 25 Agustus, barulah mengarah ke Tokyo City University, di kawasan Setagaya, Tokyo. Khawatir dengan gaya Jepang yang seringkali formil, aku pakai suite dengan gaya yang klasik tapi tetap santai. Di sana, Prof Mamoru Sawahashi, General Chair dari APWCS 2016 siap menyambut. Eh, baru sadar, suite kami matching sekali. Prof Sawahashi menceritakan scope simposium, sebaran pesertanya, dan nature dari penyelenggaraan simposium ini. Setiap konferensi memiliki sifat yang berbeda, dan kadang hanya dapat dipahami dengan langsung mengikuti seluruh kegiatan di dalamnya.

img_2016-09-30-222333

Tak lama, Prof Sawahashi harus memutus percakapan, untuk secara resmi membuka APWCS 2016. Berderet keynote speakers dari kalangan akademisi dan industri bergantian memberikan paparan tentang filosofi dan rencana implementasi Jaringan 5G dengan berbagai aspeknya. Ini selalu jadi saat yang mendebarkan, saat kita memiliki kesempatan mendengarkan update terbaru dari researcher senior yang merupakan para inventor & innovator kelas dunia. VTS memiliki sifat yang lebih spesifik dan fokus daripada society yang besar, semisal Comsoc (IEEE Communications Society)  atau IEEE Computer Society. Jadi paparan para researcher ini betul-betul fokus di cutting-edge teknologi 5G.

img_2016-09-30-222346

Tengah hari, Prof Sawahashi mengajak makan siang ke ruang VIP. Di sini, sekaligus dilakukan General Meeting dari APWCS Board of Governor. Anggotanya bukan hanya dari Jepang, tapi dari berbagai negara stakeholder, dengan gaya masing-masing.

img_2016-09-30-222328

Di BoG meeting inilah, aku memaparkan situasi riset & industri mobile di Indonesia, kapabilitas dan peluangnya, serta kemudian mengajukan Indonesia sebagai host dari APWCS berikutnya. Berikutnya itu bukan 2017, karena simposium semacam ini memerlukan persiapan sangat panjang, dan unik. Jadi mereka membuka kesempatan Indonesia menjadi host pada 2019, jika Indonesia memang dapat meyakinkan komitmen & kapabilitasnya.

img_2016-09-30-222322

Cukup banyak masukan yang diberikan bagi Indonesia dalam meeting ini; terutama bahwa Indonesia belum memiliki VTS Chapter. Selain periset dan akademisi serius, mereka sebenarnya sekumpulan macan. Tapi aku semacam macan lokal juga sih. Dan aku bisa menunjukkan bahwa IEEE Indonesia Section memiliki leadership kuat untuk memastikan keberhasilan program ini. Jadi akhirnya mereka secara prinsip menyetujui Indonesia menjadi host. Namun dalam jangka waktu itu, kita harus menunjukkan langkah-langkah kesiapan.

Lepas presentasi, beberapa anggota BoG mengajak berbincang. Sebagian untuk lebih kenal, sebagian lagi untuk meneruskan assessment :). Experience dari Section dan representative-nya pun (yours truly) dieksplorasi. Beberapa nama penting disebut. Entah kebetulan atau keberuntungan, nama-nama yang disebut itu punya hubungan baik dalam perjalanan networking di IEEE, termasuk incoming Director of IEEE Region 10, Prof Kukjin Chun, dan former Director of IEEE Comsoc Prof Byeong Gi Lee. So far so good.

Usai BoG meeting, aku masuk ke sesi-sesi paralel di simposium ini; menyimak beberapa hasil riset para researcher dan mahasiswa. Namun saat break, aku jumpa lagi dengan Chairman of APWCS BoG, Prof Li-Chun Wang. Kami berbincang cukup panjang di meja kecil. Di sini Prof Wang menyampaikan  concern sesungguhnya dari banyak anggota BoG. Fokus BoG sebenarnya bukan simposium atau conference; melainkan memastikan VTS tumbuh di region ini, dengan kegiatan yang terus bertumbuh. Simposium hanyalah sebuah cara untuk memastikan pertumbuhan kegiatan ini. Prof Wang juga menceritakan bagaimana akhirnya BoG bisa yakin untuk tetap mendukung Indonesia di 2019. OK, deal.

img_2016-09-30-222339

Selesai tugas, masih ada waktu untuk meneruskan belajar berbagai aspek dari vehicular technology, khususnya perkembangan 5G network yang menjadi fokus utama tahun ini. Menarik bahwa IoT masuk ke frame ini bukan sebagai requirement yang harus didukung dengan 5G, melainkan benar-benar merupakan bagian terpadu dari 5G itu sendiri.

Dan masih ada waktu juga untuk beristirahat dan berlibur beberapa hari. OK, yang ini kita sambung di blog lain. Aku masih punya travelling blog loh :).

img_2016-09-30-222316

IEEE VTS APWCS BoG Meeting

14196195_10154454931909328_9201202274291165904_o

Representing the IEEE Indonesia Section, presenting at IEEE VTS APWCS Board of Governor meeting, in Tokyo City University (東京都市大学), Setagaya, Tokyo, 25 August 2016.

Other pictures:

(1) With Prof Mamoru Sawahashi, the General Chair of APWCS 2016

img_0044

(2) With Prof Li-Chun Wang, the Chairman of APWCS BoG

img_0045

(3) With the BoG of IEEE VTS APWCS

img_0046

Nihonjin

Tulisan yang terlambat beberapa tahun. Tapi rasanya masih punya hutang kalau belum ditulis di sini. Plus nantinya beberapa versi buat negara lain. Jadi, ini kesan atas orang-orang di Jepang, dalam amatan bulan Juni 2011.

Imigrasi Haneda
Petugas imigrasi (cowok, usia sedang) benar-benar memeriksa di hotel mana aku akan menginap malam itu. Waktu itu, hampir tengah malam. Dan aku memutuskan menunggu Shinkanzen pagi di airport. Petugas menunjukkan ketidaksukaannya bahwa aku tidak mereservasi hotel buat tidur malam itu. Mungkin dia merasa aneh ada orang mau membuang 6 jam sia-sia di airport.

Douane Haneda
Petugas (cewek, usia sedang) menanyakan tujuan kunjungan. Aku sampaikan, aku akan menghadiri summit. Dia lihat jaket travelingku dan koper kecilku. Sopan, dia minta izin memeriksa koper. Aku bantu buka, dan dia periksa secara rapi. Ada satu lapisan di atas koper. Dia minta izin buka. Begitu dia lihat isinya jas, dia bilang: oh. Sambil senyum. Pemeriksaan selesai. Kayaknya mukaku gak tampang summit.

Penjualan Tiket Bis, Haneda
Aku menanyakan tiket kereta. Si petugas (cewek, masih muda) bilang, dia hanya jual tiket bis. Tapi dia carikan buku jadwal kereta, dan menunjukkan jadwal kereta; plus di mana aku harus cari tiket kereta besok pagi. Dengan senyum dan keramahan 100%.

Penukaran Mata Uang Asing, Haneda
Dua petugas di sini (cowok, masih muda) lebih mirip main sinetron Korea; baik wajah maupun gaya becandanya. Kita diminta mengisi form. Dan mereka dengan keceriaan 100%, memberikan Yen yang kita minta. Padahal ini jam 1:00 malam. Gak ada tanda kantuk atau cela apa pun pada ekspresi mereka.

Penjualan Tiket Kereta, Tokyo
Papan bertuliskan bahwa loket akan dibuka pukul 6:00. Sampai 5:55, tidak ada tanda kehidupan apa pun di depan. Rolling door masih tertutup seperti mati. Satu petugas menyapu depan pintu. Aku coba tanya ke tukang sapu, dia diam saja. Jam 5:59, tidak ada perubahan. Jam 5:59:50, rolling door dibuka. Di dalam, lampu sudah menyala, semua petugas sudah duduk rapi di tempatnya, dengan keceriaan dan keramahan penuh.

Shinkanzen

Tunawisma, Tokyo
Seorang ibu tua yang lusuh tidur di trotoar, tak jauh dari tempat penjualan tiket kereta.

Petugas Tourist Centre, Kyoto
Petugas ini (cowok, agak tua) menanyakan berapa lama aku akan di Kyoto. Lalu memberikan saran tempat yang menarik untuk dikunjungi. Juga, ia memberikan beberapa voucher untuk diskon di tempat-tempat yang dia sarankan. BTW, di tempat2 itu, voucher diskon itu benar2 diminta dan digunakan.

Hotel Guest Service, Kyoto
Petugas yang ini (cewek, masih muda sekali) dengan tampilan prima, mengantar ke kamar. Dengan bahasa Inggris yang luar biasa (untuk ukuran Jepang), ia menunjukkan fasilitas yang ada di kamar; tapi dengan keramahan seperti seorang teman. Waktu kuserahkan tip, jawabannya tegas sekali: “We don’t have tipping system here.” Jawaban itu cukup untuk membuatku tidak memberikan tip buat siapa pun selama di Jepang.

Nara

Cleaning Service, Kyoto Station
Di sini aku baru tahu kenapa seluruh tempat di Jepang bersih. Memang, warga punya budaya untuk membuang sampah hanya di tempat sampah. Dipilah pula sampah organik dan sampah non organik. Budaya ini konon lumayan baru. Di tahun 1970-an, orang Jepang masih sejorok orang Indonesia. Bahkan waktu itu, orang masih sering tampak meludah di jalan. Tapi budaya bisa diubah.
Oh ya. Jadi faktor lain adalah bahwa petugas cleaning service bekerja keras. Mereka terus menerus membersihkan lantai dan ruangan, biarpun di mata kita sebenarnya masih bersih. Mereka bekerja keras. Jadi, mengelap pegangan tangga pun dilakukan dengan ekstra tenaga. Mungkin sekalian olah raga. Jadi, kebersihan di Jepang bukan diakibatkan GDP-nya yang tinggi atau posisinya di lintang utara. Tapi karena ada petugas yang bekerja keras setiap saat untuk melakukan pembersihan.

KyotoCleaner

Pengunjung Café, Kyoto
Hanya di Jepang sini, aku bisa memilih kursi kafe di luar ruangan (outdoor). Ketik-ketik dengan notebook. Trus masuk ke dalam buat pesan kopi lagi, meninggalkan notebook di luar, dengan perasaan aman dan nyaman. Jangan dicoba di negara Eropa yang mana pun. Jangan dicoba di Singapore. Kalau mau coba, hanya coba di Jepang saja.

Warga Kota Yang Baik, Nishikasai
Aku berkeliling, bawa nama hotel dan alamatnya, dalam huruf latin dan kanji. Biarpun sudah ambil paket roaming unlimited dari Telkomsel, Softbank tanpa ampun tak memberiku akses Internet. Tersesat di area kecil. Hotelku seharusnya dekat stasiun. Tapi, siapa pun yang aku tanya, gak bisa bantu menunjukkan alamat dalam huruf latin dan huruf kanji itu. Berputar-putar agak jauh. Akhirnya aku tertolong seorang warga pendatang. Mukanya agak-agak India atau Melayu. Hotelnya memang dekat sekali dengan stasiun.

Antri

Warga Kota Yang Baik, Tokyo
Tiketku ternyata gak bisa digunakan ke Haneda. Aku tanya petugas, dan diarahkan ke loket. Di loket, aku beli tiket lagi. Trus naik kereta. Di kereta, somehow, aku gak menemukan passportku (!). Aku turun. Naik kereta lagi, balik ke stasiun semula, ke loket. Mau tanya, barangkali ada yang lihat passport-ku. Di depan loket, masih tampak passportku, di lantai. Pasti tadi jatuh, dan kebetulan lantai belum dipel. Tak tampak terinjak, padahal stasiun agak penuh. Aku ambil, balik ke kereta lagi.

Nihonjin

Tulisan yang terlambat beberapa tahun. Tapi rasanya masih punya hutang kalau belum ditulis di sini. Plus nantinya beberapa versi buat negara lain. Jadi, ini kesan atas orang-orang di Jepang, dalam amatan bulan Juni 2011.

Imigrasi Haneda
Petugas imigrasi (cowok, usia sedang) benar-benar memeriksa di hotel mana aku akan menginap malam itu. Waktu itu, hampir tengah malam. Dan aku memutuskan menunggu Shinkanzen pagi di airport. Petugas menunjukkan ketidaksukaannya bahwa aku tidak mereservasi hotel buat tidur malam itu. Mungkin dia merasa aneh ada orang mau membuang 6 jam sia-sia di airport.

Douane Haneda
Petugas (cewek, usia sedang) menanyakan tujuan kunjungan. Aku sampaikan, aku akan menghadiri summit. Dia lihat jaket travelingku dan koper kecilku. Sopan, dia minta izin memeriksa koper. Aku bantu buka, dan dia periksa secara rapi. Ada satu lapisan di atas koper. Dia minta izin buka. Begitu dia lihat isinya jas, dia bilang: oh. Sambil senyum. Pemeriksaan selesai. Kayaknya mukaku gak tampang summit.

Penjualan Tiket Bis, Haneda
Aku menanyakan tiket kereta. Si petugas (cewek, masih muda) bilang, dia hanya jual tiket bis. Tapi dia carikan buku jadwal kereta, dan menunjukkan jadwal kereta; plus di mana aku harus cari tiket kereta besok pagi. Dengan senyum dan keramahan 100%.

Penukaran Mata Uang Asing, Haneda
Dua petugas di sini (cowok, masih muda) lebih mirip main sinetron Korea; baik wajah maupun gaya becandanya. Kita diminta mengisi form. Dan mereka dengan keceriaan 100%, memberikan Yen yang kita minta. Padahal ini jam 1:00 malam. Gak ada tanda kantuk atau cela apa pun pada ekspresi mereka.

Penjualan Tiket Kereta, Tokyo
Papan bertuliskan bahwa loket akan dibuka pukul 6:00. Sampai 5:55, tidak ada tanda kehidupan apa pun di depan. Rolling door masih tertutup seperti mati. Satu petugas menyapu depan pintu. Aku coba tanya ke tukang sapu, dia diam saja. Jam 5:59, tidak ada perubahan. Jam 5:59:50, rolling door dibuka. Di dalam, lampu sudah menyala, semua petugas sudah duduk rapi di tempatnya, dengan keceriaan dan keramahan penuh.

Shinkanzen

Tunawisma, Tokyo
Seorang ibu tua yang lusuh tidur di trotoar, tak jauh dari tempat penjualan tiket kereta.

Petugas Tourist Centre, Kyoto
Petugas ini (cowok, agak tua) menanyakan berapa lama aku akan di Kyoto. Lalu memberikan saran tempat yang menarik untuk dikunjungi. Juga, ia memberikan beberapa voucher untuk diskon di tempat-tempat yang dia sarankan. BTW, di tempat2 itu, voucher diskon itu benar2 diminta dan digunakan.

Hotel Guest Service, Kyoto
Petugas yang ini (cewek, masih muda sekali) dengan tampilan prima, mengantar ke kamar. Dengan bahasa Inggris yang luar biasa (untuk ukuran Jepang), ia menunjukkan fasilitas yang ada di kamar; tapi dengan keramahan seperti seorang teman. Waktu kuserahkan tip, jawabannya tegas sekali: “We don’t have tipping system here.” Jawaban itu cukup untuk membuatku tidak memberikan tip buat siapa pun selama di Jepang.

Nara

Cleaning Service, Kyoto Station
Di sini aku baru tahu kenapa seluruh tempat di Jepang bersih. Memang, warga punya budaya untuk membuang sampah hanya di tempat sampah. Dipilah pula sampah organik dan sampah non organik. Budaya ini konon lumayan baru. Di tahun 1970-an, orang Jepang masih sejorok orang Indonesia. Bahkan waktu itu, orang masih sering tampak meludah di jalan. Tapi budaya bisa diubah.
Oh ya. Jadi faktor lain adalah bahwa petugas cleaning service bekerja keras. Mereka terus menerus membersihkan lantai dan ruangan, biarpun di mata kita sebenarnya masih bersih. Mereka bekerja keras. Jadi, mengelap pegangan tangga pun dilakukan dengan ekstra tenaga. Mungkin sekalian olah raga. Jadi, kebersihan di Jepang bukan diakibatkan GDP-nya yang tinggi atau posisinya di lintang utara. Tapi karena ada petugas yang bekerja keras setiap saat untuk melakukan pembersihan.

KyotoCleaner

Pengunjung Café, Kyoto
Hanya di Jepang sini, aku bisa memilih kursi kafe di luar ruangan (outdoor). Ketik-ketik dengan notebook. Trus masuk ke dalam buat pesan kopi lagi, meninggalkan notebook di luar, dengan perasaan aman dan nyaman. Jangan dicoba di negara Eropa yang mana pun. Jangan dicoba di Singapore. Kalau mau coba, hanya coba di Jepang saja.

Warga Kota Yang Baik, Nishikasai
Aku berkeliling, bawa nama hotel dan alamatnya, dalam huruf latin dan kanji. Biarpun sudah ambil paket roaming unlimited dari Telkomsel, Softbank tanpa ampun tak memberiku akses Internet. Tersesat di area kecil. Hotelku seharusnya dekat stasiun. Tapi, siapa pun yang aku tanya, gak bisa bantu menunjukkan alamat dalam huruf latin dan huruf kanji itu. Berputar-putar agak jauh. Akhirnya aku tertolong seorang warga pendatang. Mukanya agak-agak India atau Melayu. Hotelnya memang dekat sekali dengan stasiun.

Antri

Warga Kota Yang Baik, Tokyo
Tiketku ternyata gak bisa digunakan ke Haneda. Aku tanya petugas, dan diarahkan ke loket. Di loket, aku beli tiket lagi. Trus naik kereta. Di kereta, somehow, aku gak menemukan passportku (!). Aku turun. Naik kereta lagi, balik ke stasiun semula, ke loket. Mau tanya, barangkali ada yang lihat passport-ku. Di depan loket, masih tampak passportku, di lantai. Pasti tadi jatuh, dan kebetulan lantai belum dipel. Tak tampak terinjak, padahal stasiun agak penuh. Aku ambil, balik ke kereta lagi.