Flobamora

Eposide di Q2 2021 ini berjudul Gernas BBI Flobamora: tiga buah singkatan yang kepanjangannya bisa dicari di Google. Akhir 2020, Menteri Kesehatan nan ekstra-inkompeten telah dicopot; pada Q1 2021 vaksinasi Covid-19 telah dimulai; dan aktivitas pengembangan sudah diminta dilanjutkan kembali. Kami beroleh tugas di provinsi NTT. Di awal, fokus hanya pada sebagian Flores dan Sumba, namun kemudian diperluas ke seluruh NTT. Aktivitas sangat diwarnai keterbatasan akibat berbagai pembatasan masa krisis; plus sempat juga ada topan Seroja di NTT di bulan April.

Kegiatan diawali di pertengahan Maret dengan pre-event yang dilaksanakan oleh Kemkominfo, Telkom, Dekranas, dan Bank Indonesia di Labuan Bajo. Telkom mengajukan tema Kilau Digital Permata NTT, yang oleh Staf Khusus Menkominfo, Pak Phillip Gobang, diubah menjadi Kilau Digital Permata Flobamora. Kegiatan direncanakan berupa piloting integrasi berbagai ekosistem digital yang mendukung ekonomi rakyat, termasuk UMKM, pertanian, perikanan, pariwisata, hingga layanan kesehatan dan pendidikan. Pelatihan awal dilakukan dalam bentuk training-for-trainers di RB Labuan Bajo — sebuah fasilitas milik para BUMN yang memang ditujukan untuk memberikan pembinaan dan layanan lain untuk UMKM.

Talkshow di Pre-Event Gernas BBI Flobamora di Labuan Bajo

Sempat terhenti akibat topan Seroja, kegiatan ini dilanjutkan di Kabupaten Sikka, Pulau Flores. Di Maumere, kegiatan dilakukan dengan penyelenggaraan pelatihan untuk UMKM, serta beberapa kunjungan pada UMKM yang memiliki keunggulan potensial untuk diangkat. Termasuk yang kami kunjungi adalah Workshop Tenun Lepo Lorun di Kecamatan Nita.

Talkshow Gernas BBI Flobamora di Maumere

Diasuh oleh Ibu Alfonsa Horeng, Workshop Tenun Lepo Lorun ini memungkinkan penduduk di Nita bekerja menghasilkan kain tenun tradisional Maumere yang berkualitas tinggi. Bahan-bahan serba alami. Bahkan kapas pun ditanam di sana. Ibu-ibu berusia lanjut memintal kapas menjadi benang dengan pintal kayu kecil dan jempol kaki. Benang kemudian ditarik pada sebuah papan, dan didesain pola warna tenunnya, dengan cara diikat dengan batang alang-alang kecil. Benang kemudian diwarnai dengan pewarna alam dari bahan yang ditanam di tempat pula: kunyit untuk kuning, nila untuk biru, kayu-kayu untuk coklat dan merah, dll. Proses ini diulangi hingga tersusun benang berwarna-warni. Dengan alat tenun tradisional, benang-benang ini ditenun menjadi kain tenun ikat dengan berbagai corak yang indah. Kapasitas produksi yang kurang memadai membuat Lepo Lorun dan banyak lokakarya setempat harus membeli benang jadi juga dari pasaran.

Pemintalan Benang di Lepo Lorun
Proses Mengikat Benang Tenun di Lepo Lorun
Proses Tenun di Lepo Lorun

Di hari berikutnya, kami kunjungi Desa Wisata Watublapi di kecamatan Hewokloang. Desa ini juga merupakan sentra industri berbasis komunitas untuk menghasilkan kain tenun berkualitas tinggi dengan cara tradisional. Di sini, proses produksi dipaparkan lebih lengkap, karena kami hadir bersama beberapa pejabat dari Kemkominfo, Kem-KUKM, dan Pemkab Sikka.

Bahan-Bahan Pewarna Kain Tenun di Desa Wisata Watublapi
Proses Tenun di Desa Wisata Watublapi
Upacara Pengenaan Kain di Desa Watublapi

Di Maumere, ibukota kabupaten Sikka, team ekosistem pertanian juga menyiapkan kerjasama digitalisasi offtaking produk perikanan dan pertanian, yang didukung Pemkab Sikka.

Setelah Maumere, kunjungan berikutnya adalah Kupang, Ibukota Provinsi NTT, di Pulau Timor. Pelatihan UMKM di sini dilaksanakan oleh team dari Witel NTT; sedang talkshow dilakukan di Hotel Aston Kupang.

Talkshow Gernas BBI Flomabora di Kupang

Selain pelatihan untuk UMKM, kami juga mengunjungi pusat produksi tenun Inda Ndao. Walaupun terletak di Kupang, Ina Ndao banyak menampilkan motif dari Ndao, salah satu pulau kecil paling selatan di Indonesia, bersebelahan dengan Rote. Pemiliknya, Bu Dorce, pernah mendapatkan pembinaan dari Telkom dan BI, namun kini telah dapat membina UMKM lain, termasuk memiliki komunitas UKM Naik Kelas di Kupang.

Bersama Bu Dorce dan Pak Yus di Sentra Produksi Rumah Tenun Ina Ndao, Kupang

Di Maumere, kami juga ke La Moringa. Ini bukan kunjungan pembinaan dll, haha. Tapi memang cari tempat lunch yang bersuasana riang di Kupang. AM Telkom yang merangkap fasilitator UMKM di Kupang, Leevenia, menganjurkan ke La Moringa. Selain berupa resto & café, La Moringa juga memproduksi makanan oleh-oleh yang bahannya diambil dari daerah setempat, terutama daun kelor. Pelopor dan pemilik La Moringa ini seorang dokter; namun berbagai koordinasi dipercayakan pada PIC-nya, Edyth Coumans.

Bersama Ey Coumans di Booth La Moringa, Komodo

Sayangnya, akibat sempat terjadi topan Seroja, kegiatan-kegiatan ini sempat tertunda, jadi kami belum punya waktu untuk menjalankan program di Pulau Sumba. Bulan Juni sudah hadir, dan kami siapkan kegiatan puncak di Labuan Bajo. Pada kegiatan ini, dipercepat kembali kegiatan2 digitalisasi ekosistem di NTT, termasuk pembayaran digital di pasar di Kupang dan Labuan Bajo, offtaking di Sikka yang diperluas ke seluruh NTT, serta promosi produk UMKM NTT melalui Virtual Expo Flobamora. Juga dilakukan evaluasi kembali atas kegiatan yang tengah dilakukan di NTT. Salah satunya adalah dengan pemeriksaan kondisi di Desa Wisata Liang Ndara, binaan dari Telkom Indonesia.

Ditemani Bapak Kristo dalam kunjungan ke Desa Wisata Batu Cecer, Liang Ndara

Sebagai acara puncak, dilaksanakan ceremony yang dilaksanakan di Puncak Waringin, Labuan Bajo, pada 18 Juni 2021 ini. Ceremony dihadiri Menkomarves Luhut Panjaitan, Menkominfo Johny Plate, Gubernur NTT Viktor Laiskodat, Direktur Strategic Portfolio Telkom Indonesia Budi Setyawan, serta representative dari beberapa kementerian dan Bank Indonesia. Beberapa UMKM yang telah kami temui di Maumere, Kupang, dan Manggarai kami jumpai kembali di Puncak Waringin ini.

Beberapa UMKM Mitra Kerja Gernas BBI Flobamora

Kembali ke Jakarta, kegiatan Virtual Expo diperkaya dengan beberapa webinar yang menampilkan para pimpinan dari gerakan nasional ini, termasuk dari Dekranas, Bank Indonesia, Kemkominfo, BPOLBF, dan tentu dari Telkom Group sendiri. Para UMKM peserta Virtual Expo juga mulai diberikan akses ke pasar B2B ke para BUMN melalui PADI UMKM untuk memastikan kontinuitas transaksi.

Diskusi keberlangsungan program dengan Staf Khusus Menkominfo, Bapak Phillip Gobang, di Puncak Waringin
Bahas Rencana Lanjutan dengan Dir Pemasaran BPPLBF, Bu Raisa Lestari

Secara umum, kegiatan ini berhasil membentuk ekosistem, membentuk jejaring antar komunitas yang memiliki berbagai bentuk komitmen dan kapabilitas untuk bersama-sama mengembangkan ekonomi rakyat, khususnya UMKM dan pertanian di provinsi NTT; untuk kemudian pola serupa digunakan dalam ekspansi ke provinsi lain yang tentunya memiliki keunggulan dan keunikan masing-masing — dan menyimpan berbagai potensi menakjubkan yang hanya dapat dipahami saat kita turun dan melihat langsung ke berbagai pelosok Indonesia ini.

Tim kecilku, bagian dari Satgas BBI Flobamora: Haekal, Andien, Ervina, & special agent Leevenia

Oh, kami masih punya hutang untuk pergi ke Pulau Sumba.

IMT-GT eCommerce Tech Planning

When I was in Kupang (May 25th), I was invited by the Coordinative Ministry of Economy (Kemko-Ekon) and Ministry of ICT to discuss the implementation of IMT-GT e-Commerce plan. I presented some options we might choose using PADI UMKM as a national hub connected to the IMT-GT Mall. But then the Government addressed us to propose PADI UMKM as the core platform of the IMT-GT e-Commerce program instead.

On the next IMT-GT JBC (Joint Business Council) Meeting (May 28th), we stated the proposal to take over the development and operation of IMT-GT core platform with some alternative business models. At that time, Thailand expressed their dissatisfaction on the business operation plan of the IMT-GT Mall from Malaysia. Also the CIMT (Centre of the IMT-GT Cooperation) mentioned that PADI UMKM has been in operation since last year, while IMT-GT Mall from Malaysia is still in development plan stage.

Today (June 4th) we continue the JBC Meeting with CIMT. Malaysia has stated their desire to maintain their role as IMT-GT e-Commerce hub as decided in 2019; and representing Indonesia, I have agreed to let them continue leading this program with this determined timeline. PADI UMKM will continue to support as the connection between Indonesia MSMEs and the IMT-GT Mall. I also proposed that the operation of each national hub will be independent, so each country may have different business models in designing the operation business of the e-Commerce program. For example, JBC Malaysia prefers that the operation will be carried out by private sector; while Indonesia prefers to use MSME ecosystem program. This result will be reported on the next Convergence Meeting, scheduled on July.

BBI for 2021

At this special BBI coordinative meeting, the Coordinative Minister of Maritime & Invesment reminded us that the program expansion to leverage the MSME & national product should be accelerated in 2021; and the programs would include the quality improvement for the MSME & their products. Some MSMEs must be leveraged to the class of artisans, whose products will have better quality than the industry comparisons.

Telkom, with its definitive role as the architect of the platform-based digital ecosystem for MSME business will expand the digital market for the MSME, including generating and promoting a wider market demand for the MSME products & services. Some horizontal and vertical integrations have been planned to ensure the MSME economy will be part of national development strategy; and some new services could be established, including financing, certification, quality improvement, export facilities, etc.

BBI Q4/2020

BBI (Bangga Buatan Indonesia) is a coordinative & collaborative programs to improve the economy and commercialisation of national products with special emphasis on MSME products, led by the Government of Indonesia — in this case the Coordinative Minister of Maritime and Investment (Menkomarves). Telkom is actively involved in this program via its MSME Digital Ecosystem programs, incl PADI UMKM and Rumah BUMN.

This year, some footholds have been established, including the BBI program itself, PADI UMKM & Bela Pengadaan, and some programs related to MSME in Creative Economy and Maritime & Fishery. For Telkom, the main role is to build, establish, and expand the platform-based digital ecosystem for MSME business, including their development and economic improvement.

The next thing to do is to build a context for integration among those separated systems and applications, to establish a real ecosystem supported with integrated information and platform, where all programs and activities could provide mutual support in leveraging different segments of MSMEs, including small and medium business in agriculture, fishery, forestry, creative industry, etc.

Transformasi di Masa Krisis

Aku mem-WFH-kan diri di awal Maret tahun ini karena mendadak kena flu, baru bergabung dengan WFH resmi yang berlangsung panjang hingga menjelang Juli. Pun di hari-hari awal, sambil melihat yang terjadi di RRC dan Eropa, aku mulai mencatat prediksi-prediksi yang tidak optimis, termasuk bahwa (a) virus ini tidak akan pergi, dan kita yang harus menyesuaikan diri, serta (b) andaipun wabah menghilang, perilaku orang sudah berubah, setelah mengalami bahwa banyak aktivitas sebenarnya dapat didigitalkan. Dilengkapi beberapa kajian paper tentang transformasi di level ekosistem dll, sebenarnya aku siap memaparkan pada IEEE Leadership Summit: Engineering in Covid-19 Crises beberapa bulan lalu. Namun, ternyata aku lebih mengasyiki jadi moderator daripada jadi speaker :).

Beberapa bagian dari rencana presentasi itu akhirnya dimanfaatkan hari ini. Atas undangan Mr Ford, hari ini aku bergabung sebagai salah satu speaker dalam diskusi meja bundar (Round Table) dengan judul Business Development in the COVID-19 era: Challenges and Opportunities. Diskusi diselenggarakan Southern Federal University (SFedU) di Rostov, Russia. Narasumber diskusi ini berasal dari kalangan bisnis dan akademisi dari Jepang, Italia, Thailand, Indonesia, dan tentu saja Russia sendiri.

Roundtable dengan MS Team

Paparanku dimulai dengan fakta bahwa dalam beberapa dekade terakhir, sebenarnya perusahaan global dan / atau perusahaan digital memiliki kecenderungan untuk mengembangkan bisnis dengan menumbuhkan ekosistem; dan hal ini mau-tak-mau telah mengubah perilaku dan budaya masyakarat. Jadi, bahkan tanpa krisis dan pandemi pun, transformasi digital dan ekosistem bisnis sudah menjadi keniscayaan. Pandemi hanya mempercepat.

Tahap Transformasi Yang Didorong Krisis

Krisis yang terjadi secara serba mendadak mengharuskan masyarakat untuk mempertahankan aktivitasnya dengan teknologi atau apa pun yang dapat dilakukan. Kantor tutup, tapi orang dapat berkoordinasi dengan teks atau vicon. Rapat dan koordinasi lain jalan terus. Sekolah pun berpindah ke kelas vicon. Ini adalah tahap emergency, saat masyarakat sekedar memanfaatkan teknologi untuk memindahkan aktivitas yang telah ada. Ini segera diikuti dengan fase adaptasi, saatu terjadi perbaikan atau perubahan yang saling adaptif, baik di sisi teknologi maupun di sisi perilaku. Rapat dan koordinasi dianggap wajar dari tempat dan waktu yang tidak harus berdekatan. Informasi yang terbaharui dan kompehensif dapat digunakan bersama untuk mengambil keputusan tanpa harus benar-benar bertemu. Terjadi perubahan yang lebih filosofis. “Mengapa harus rapat? Karena kita ingin semua informasi yang updated dan komprehensif dari berbagai pihak dapat dipertimbangkan dengan berbagai feedback untuk menghasilkan keputusan terbaik. Nah, sekarang, dapatkah ini dilakukan tanpa rapat?” Disiplin pembaharuan data, disiplin pengambilan keputusan dengan informasi komprehensif, serta sistem feedback — yang semuanya sebenarnay dapat dilakukan dengan teknologi informasi yang telah ada sekarang. Maka masuklah kita ke fase transformasi, dengan model aktivitas bisnis, pendidikan, perdagangan, logistik, dievaluasi kembali, dan ditransformasikan memanfaatkan teknologi digital. Ini akan menghasilkan kapabilitas-kapabilitas dan peluang-peluang baru, yang menariknya justru menjadikan krisis ini sebagai pemicu terjadinya ekspansi.

Dan justru di masa krisis semacam ini, dengan keterbatasan yang luar biasa dalam pengembangan kapabilitas serta semakin rumitnya mencari peluang-peluang baru; maka secara pragmatis masyarakat dan bisnis mulai terbuka untuk saling memanfaatkan kapabilitas dan peluang dari pihak lain — terbentuk kolaborasi yang tidak harus bersifat formal, atau dengan kata lain: terbentuk model pertumbuhan melalui ekosistem.

Proses Pengembangan Ekosistem (?)

Ekosistem sendiri dapat tumbuh secara alami, atau tetap dapat ditumbuhkan melalui perencanaan. Ekosistem seperti media sosial, proliferasi aplikasi mobile, dan lain-lain sebagian dipengaruhi oleh strategi yang dirumuskan pengembang platform, sebagian besar diatur oleh para pemakai, termasuk yang menambahkan berbagai feature yang dapat berpeluang menjadi platform yang berbeda. Misalnya, siapa yang lebih platform: Android (yang bisa ditumpangi banyak media sosial) atau Facebook (yang dapat memanfaatkan berbagai sistem operasi)? Namun secara teknologi dan bisnis, tetap perlu dan dapat dilakukan perencanaan pengembangan ekosistem, seperti saat kita mengembangkan bisnis yang bersifat sangat adaptif dan agile. Ekosistem harus dirancang untuk bersifat sangat dan sangat-sangat adaptif sejak awal.

MSME Ecosystem

Since 2016 I have a new role in Telkom Indonesia as the AVP (now Project Leader) of the Industry Synergy. The role of Synergy Department is simply developing the capabilities (mainly digital capabilities) and expanding opportunities of Telkom Group by maximising the collaboration with the industry. As a government policy at that time, the collaborations are prioritised with the state-owned companies (BUMN) in Indonesia. More than three years have passed then. We have changed the Ministry of BUMN, Telkom’s CEO, Telkom’s BOD in charge of Synergy programs, SVP and VP of Synergy, etc. But we are still developing our paradigm of digital synergy, i.e. developing digitally supported economic ecosystems in different sectors.

Using a metaphor from the environment, an innovation ecosystems consists of interdependent parties with different or often competing objectives and concerns, living and growing together in a common digital space, unified using one platform or more to enable them to live better and grow faster. Co-creation, collaboration, and competition are some key activities of the innovation ecosystems.

Last year, the new Minister of BUMN has addressed Telkom Indonesia to develop five ecosystems: Tourism, Agriculture, Logistics, Education, and Healthcare. We even hired a prominent global consultant to help us design the ecosystem. But this February, I requested an approval from the uplinks to add another ecosystem: the MSME ecosystem, to support non-digital micro, small, and medium business in digital way.

Previously we have had a program called RKB to develop the capability of SMEs in Indonesia. RKBs (BUMN’s creative house) have been established in 245 of 514 cities and regencies in Indonesia. In RKB, BUMNs provide training, consulting, and other facilities to leverage the capabilities of the SMEs in three product categories: culinary, craft, and fashion. But RKBs have failed to attract the SMEs since they do not really improve the sales of the SME products. An MSME ecosystem, on the contrary, should start with MSME commercialisation in mind.

We started with a small design by utilising a multichannel marketing application called SAKOO as our first platform. In March, many cities and locations in Indonesia (and other part of the world) are locked down (until the time I’m writing this post, btw) due to COVID-19 pandemic. We found some contexts for the usecase of the platform. To generate market, we will use BUMNs (and public, using campaigns supported by BUMNs) to create demands for the MSME market. BUMNs may buy the products of the MSMEs for their need, or as an aid to support the communities or health facilities in. Surely we first tried it with Telkom. Telkom has started purchasing MSMEs products using this platform, and has also sent support to communities in Depok.

The Minister of BUMN has a new expert staff: Ms Loto S Ginting — a smart lady working previously as a Director in the Ministry of Finance, managing sovereign bond. Now she advises the Minister of BUMN in the issues of Finance and MSME development. Our BUMN Law (UU 19/2003) mentions indeed that the strategic roles of the BUMNs include providing services for public, counterweight for private business, and support to develop small business and co-operatives. We approached her to discuss this first stage of MSME Ecosystem development program. She enthusiastically accepted the program. In addition, she improve the plan to add B2B transaction facility to the first stage of the program. The transaction data from B2B and B2C are further combined with data taken from e-Procurement systems of the BUMNs to make a dashboard to ensure the increase absorption of MSMEs products and services by the BUMNs. She calls this program PADI UMKM, stands for Pasar Digital UMKM / MSME Digital Market.

Meanwhile, the Covid-19 pandemic has brought the nation into an economic crisis. To survive, MSMEs and their employees need the public involvement. The Minister addressed to rush the MSME platform development. We work with our startup partners: Anchanto, Tees, Payfast, etc to enrich PADI UMKM platform with wider multichannel, logistics management, B2B capability, financing facility, etc. We need to finish it next month (June), so we can start the transaction on July. Eight BUMNs have been selected for pilot project. A new PMO has been assigned to finish this project.

It still felt like a miracle that everything was only in ideation last February, and all activities are carried out during lockdown periods, with all meetings held using vicon, and coordination using whatsapp. Let’s hope we can finish it on June, to support more prosperous small business in Indonesia in long term, or at least, for now, just to have them survive these crises.

IEEE R10 Professional Activity Mico

Tahun ini IEEE Indonesia Section berkesempatan menjadi tuan rumah bagi IEEE Humanitarian Technology Conference (HTC), yaitu flag conference ketiga milik IEEE Region 10, setelah TENCON dan TENSYMP. HTC 2019 diselenggarakan di Universitas Indonesia, Depok. Aku hanya berperan sebagai advisor di konferensi ini, jadi tak banyak berperan selain di perencanaan awal. Di HTC 2017 di Bangladesh, sebenarnya aku diundang jadi salah satu invited speaker — namun saat itu gagal berangkat gara-gara kerumitan pengurusan visa Bangladesh.

Seperti juga TENCON dan TENSYMP, ada cukup aktivitas tambahan pada konferensi ini, mengambil kesempatan banyaknya international expert yang hadir di satu tempat — sayang kalau tidak dimanfaatkan secara maksimal. Salah satu aktivitas tambahan ini adalah mini conference (mico) tentang IEEE Professional Activity.

IEEE R10 Professional Activity Mico diselenggarakan di Hotel Margo, Depok. Kegiatan ini umumnya menampilkan speaker dari kalangan akademisi dan industri. Speaker dalam sesi tahun ini adalah Prof Akinori Nishihara (Director of IEEE R10), Prof Takako Hashimoto (Secretary of IEEE 10 Excom), Nirmal Nair (Professional Activity Coord of IEEE 10), Prof Kalamullah Ramli (Univ of Indonesia), dan si aku dari Telkom Indonesia. Hadir juga dalam aktivitas ini: Prof Wisnu Jatmiko (IEEE Indonesia Section Chair)Emi Yano (IEEE R10 WIE Coordinator), Prakash Lohana (IEEE R10 Humanitarian Technology Coordinator), dll.

Karena paparan diharapkan berkaitan dengan eksplorasi engineering secara profesi, aku menyiapkan presentasi bertema inovasi kolaboratif dalam kerangka ekosistem. Namun panitia mendadak memberi subjudul tentang smart city. Maka jadilah presentasi ini berjudul: Smart City — a context for digital ecosystem collaborative development.

Diawali dengan pengenalan kembali akan konsep ekosistem, yang mengambil metafora dari ekosistem hayati. Ekosistem disusun sebagai kerangka pertumbuhan bersama dengan memanfaatkan kapabilitas dan ruang hidup (opportunity) bersama. Di dalamnya terjadi proses ko-kreasi hingga kompetisi, seperti juga ekosistem hayati. Sebagai pengikat untuk memastikan pertumbuhan efisien dan tidak liar, dibentuklah platform-platform. Pertumbuhan platform, komunitas, aplikasi, dll di dalamnya tidak sepenuhnya alami — karena itu diperlukan perencanaan dalam bentuk arsitektur sistem yang disusun bersama oleh para stakeholder awal (untuk kemudian tetap dapat dikembangkan). Teori arsitektur sistem kemudian juga dieksplorasi. Contoh kasus, tentu saja, tentang pengembangan smart city, sesuai pesanan panitia.

Usai presentasi dan diskusi-diskusi, mico dilanjutkan dengan pameran mini perangkat-perangkat IoT untuk dukungan program kemanusiaan, oleh mahasiswa UI. Diskusi dilanjutkan lebih informal pada sesi makan siang yang asik dan akrab, yang sekaligus mengakhiri mico ini. Kalau lebih panjang, namanya bukan mico.

Imagine | Focus | Action

Di dinding sasaran, tertulis mantra besar ini: Imagine, Focus, Action. Ini adalah satu bagian dari kerangka corporate culture Telkom Indonesia, yaitu Key Behaviours as the Practices to be The Winner. Di setiap pelatihan kepemimpinan, practices ini ditanamkan dalam bentuk praktek (hrrrr), i.e. berlatih menembak.

Ini menarik, karena di negara Indonesia yang amat sangat sipil ini, kesempatan warga untuk belajar menembak sangat kecil. Belajar menembak di Kampus Gegerkalong (Le Campus Guerlain) jadi bonus yang dinantikan di pelatihan-pelatihan kepemimpinan. Kans untuk jadi the winner pun merata, karena tak banyak yang pernah berlatih sebelumnya.

Dalam waktu singkat, para peserta dilatih memegang senapan, mengokang, mengintai sasaran, dan sisanya …. “Coba praktekkan yang tertulis di dinding itu. Bayangkan saat peluru mencapai sasaran. Atur posisi senapan tepat pada fokus. Pastikan tepat. Pastikan akurat. Begitu fokus sudah tepat, action! Tembak. Kalau tidak segera action, fokus akan lepas. Silakan dicoba.” Kira-kira cuma seperti itu teorinya.

Hasilnya? The winner!

Itu praktek yang harus dijalankan di dunia bisnis. Di samping hal-hal yang lebih fundamental, hal-hal praktis memerlukan kedisiplinan pemikiran dan tindakan. Tentukan target, pastikan ketepatan, dan segera ambil tindakan setelah dipastikan. Indecisiveness dan kelambatan bertindak adalah kunci kegagalan.

Lesson learnt lain? Saat menembak, hanya ada kita dan sasaran. Tidak ada hal lain. Tidak ada musuh, tidak ada kompetitor. Menembak memerlukan fokus pikiran ke diri sendiri dan ke target, bukan ke hal-hal lain. Keinginan, harapan, kekhawatiran, kebergegasan, semua jadi musuh. Menang tidak dapat dilakukan dengan mengalahkan orang lain — karena orang lain tidak ada, tidak boleh dipikirkan. Untuk menang, kita hanya bisa mengalahkan diri sendiri. Untuk menang, kita harus mengalahkan diri sendiri.

Shooting Games

Imagine — Focus — Action. Those key behaviours are written — firm & clear — on the wall of the shooting arena. This morning we learn our prominent practices to be the winner here. The instructions are clear: set your imagination as a winner, put focus on your target, and once you’re there … with no doubt …. with confidence & only confidence to your commitment & competence …. action! Timely! No doubt!

And the winner this morning is yours truly. Thank you, everybody.

 

IEEE Tencon 2017 – Industry Forum

IEEE Tencon 2017 was held in Georgetown, Penang, Malaysia. As a part of this great event, the IEEE R10 Industry Relations Committee has planned to carry out a higher-level Industry Forum to boost the engagement of the engineers from the regional industries & involvement of the IEEE in the industrial world. The speakers for this forum is none other than the IEEE President, Karen Bartleson, accompanied by representatives from regional innovative industries, including Telkom Indonesia.

This is arguably a paradox, though. Just after this forum, I had to resign my position (and any involvement) at R10 Excom, and chose instead to spend more time to solve real issues in Indonesia using technological (and digital) approaches. This will include small industry & entrepreneurship, agriculture, youth involvement, digital incubation, etc.