Bandung: IC3INA 2014

IC3INA (International Conference on Computer, Control, Informatics and its Applications) is an annual conference, organised byResearch Center for Informatics, Indonesian Institute of Sciences (LIPI). Since 2013, the IEEE Indonesia Section co-organised this conference as technical sponsor. This year, IC3INA was conducted in Bandung, October 21st-23rd.

I attended this conference as one of Scientific Committee member, and as the chair of the IEEE Indonesia Section. Last year (2013), they made me the moderator of all keynote speech session on opening day. But this year (2014), they only wanted me to present a 5 minutes speech as an IEEE representative.

IC3INA 2014 v01

Here’s what I read:

Assalaamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakaatuh.

Distinguished Ladies & Gentlemen,

It’s always enchanting to be around the community of scientist, researchers, academicians, and technology professionals. Representing the IEEE, and especially the IEEE Indonesia Section, I would like to express our gratitude to be involved for this distinguished event, the IC3INA 2014 in Bandung, Indonesia, organised by LIPI.

We have known that the IEEE was established more than 125 years ago. This organisation is a home for scientists and engineers from the industrial world and academic domain to synergise their idea, and to collaborate their efforts to understand more about the nature and to engineer it toward a better life. In Indonesia, the Section was established only 26 years ago, and is now actively fostering the academic and professional engineering activities in Indonesia with its 10 chapters representing 15 different fields, and 7 student branches. It is a place for the engineering ecosystem to work in partnership and collaboration to enhance the dynamics and quality of our researches, our academic and professional works, for our mission to advance the technology for humanity.

The second decade of the 21st century has been witnessing new paradigms for the Information Technology. The Internet, which has previously revolutionized the communication and interaction among people, has started its next evolution to be the Internet-of-Things (IOT), with the ability to connect any digital entity or virtually anything to the network of information and knowledge. Information processing does not stop with just doing computation over data input, but would also enrich the information with aggregation of various supporting knowledge, with context-awareness. Big data technology allows the aggregation of large amounts of information from various sources intelligently to obtain results that are sometimes unpredictable.

But the challenge is to develop and to implement those new computing paradigms in real applications to enhance the value of human life. While we carry out researches on Big Data, we keep in mind that this is one of the key technologies to improve the quality of life. We expect better understanding to the universe and human, better education approach, personalised health care, smart city integrated with ubiquitous sensing networks, smart businesses that understand their customers in person, better approach for environment conservation, and others. The interesting thing about Big Data is the necessity on its implementation to maximize the role of the ecosystem, to involve all stakeholders in designing a disruptive lifestyle with this technology.

So let’s have some discussions, and warm networkings. All the best for you; all the best for the profession. Thank you.

Bandung, 21 October 2014

Kuncoro Wastuwibowo
Chair, IEEE Indonesia Section
IC3INA 2014 v02

Jangan-Jangan, Kopi Baik Buat Jantung

Peringatan: Artikel ini tidak menggantikan, menambahi, dan tak tak dapat dibandingkan dengan nasehat dan konsultasi dokter.

Aku mendadak terantuk ke tulisan lama (17 Juni 2008) di Boing-Boing. Konon waktu itu ada sebuah penelitian justru menunjukkan bahwa peminum kopi justu lebih rendah kemungkinannya meninggal karena penyakit-penyakit seperti serangan jantung, stroke, dan aritmia. Hmmm, apakah ini kausalitas? Dan kalau ya, ke arah mana? Haha.

Edidemiologists dari Universitas Madrid telah menganalisis data dari lebih dari 120.000 pria dan wanita. Menurut penelitian mereka, perempuan yang minum empat atau lima cangkir kopi dalam sehari mengalami kemungkinan 34 persen lebih kecil untuk mati akibat penyakit jantung. Pria yang minum lebih dari lima cangkir sehari itu 44 persen lebih kecil kemungkinannya untuk ditaklukkan penyakit jantung. Namun, ada terlalu banyak variabel dan anasir tak diketahui dalam penelitian ini, sehingga belum dirasa patut untuk dijadikan rekomendasi pengobatan.

heart_coffee

Sang peneliti, Esther Lopez-Garcia, berspekulasi bahwa senyawa anti-inflamasi yang ditemukan dalam kopi mungkin berpengaruh atas manfaat kesehatan ini. Walaupun tingkat kafein yang tinggi dapat meningkatkan kemungkinan menderita serangan jantung dengan meningkatkan tekanan darah, katanya, namun … “hipotesis kami adalah bahwa kafein memiliki efek jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang, aspek lain dari kopi adalah lebih kuat.”

Patut diperhatikan bahwa banyak penelitian lain yang justru menunjukkan hasil yang sebaliknya. Pada tahun 2007, Epidemiolog Francesco Sofi dari Universitas Florence menganalisis lebih dari 20 penelitian yang berkaitan dengan kopi dan kesehatan, dan menemukan hanya sedikit kesepakatan. Mungkin ini juga terkait dengan genetika. Pada tahun 2006, sebuah tim peneliti Kanada menemukan bahwa orang dengan mutasi pada gen yang berkait dalam metabolma kafein memiliki tingkat serangan jantung yang lebih tinggi dibandingkan orang tanpa mutasi.

Kopi Menurunkan Fibrosis Hati?

Peringatan: Artikel ini tidak menggantikan, menambahi, dan tak tak dapat dibandingkan dengan nasehat dan konsultasi dokter.

Sebuah berita dari UPI yang diretweet oleh Pak Nukman menyampaikan kesimpulan dari para peneliti, bahwa pasien penyakit hati (liver) — yang diakibatkan virus hepatitis C kronis — yang mengkonsumsi sekitar 2 cangkir kopi berkafein setiap hari akan mengalami penurunan tingkat fibrosis hati. Peneliti utama Dr Apurva Modi dkk dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases menemukan bahwa untuk pasien dengan virus hepatitis C kronis, sumber-sumber kafein lain tidak memiliki efek terapi yang sama.

Fibrosis hati, atau jaringan parut pada hati, adalah tahap kedua dari penyakit hati, yang dicirikan oleh kerusakan fungsi hati akibat akumulasi jaringan ikat.

Dari Januari 2006 hingga November 2008, semua pasien dievaluasi di Cabang Penyakit Hati di Institut Kesehatan Nasional. Mereka diminta mengisi kuesioner untuk menentukan konsumsi kafein. Pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan: minuman biasa atau diet; kopi biasa atau kopi tanpa kafein; teh hitam, hijau, atau herbal; dan pertanyaan2 lain yang berkait dengan konsumsi kafein. Hasilnya adalah kesimpulan bahwa efek yang menguntungkan ini memerlukan konsumsi kafein di atas ambang batas sekitar 2 cangkir kopi atau setara setiap hari. Kesimpulan lain adalah bahwa konsumsi soda, teh hitam, teh hijau atau bahan lain yang mengandung kafein tidak berhubungan dengan pengurangan fibrosis hati. Penelitian ini lalu diterbitkan dalam jurnal Hepatology.