Gershwin’s Rhapsody in Montblanc

Rhapsody in Blue — a composition I used to wake myself up for years. As if understanding how hard it is to start a day, it starts with a slow and random clarinet melodies. But then it raises to an orchestra with dynamic harmonies to absorb the spirit with no stop to our soul. And that is how life used to begin for years.

Its composer, George Gershwin (September 26, 1898 – July 11, 1937), was an American composer and pianist whose compositions spanned both popular and classical genres. Besides Rhapsody in Blue, his best-known works are an orchestral work An American in Paris (1928), the jazz standard I Got Rhythm (1930), and the opera Porgy and Bess (1935) which gave birth to the hit Summertime.

Montblanc has an annual tradition to launch donation pen collection for honouring world-famous classical musicians. This program supports selected cultural projects from pioneering artists the world over with a donation of 20 euros per fountain pen (and 10 euros per ballpoint or rollerball). The edition of 2019 paid the tribute to George Gershwin.

The design of Gershwin fountain pen is quite distinctive — easily recognised. The clip is in the shape of a clarinet — a tribute to the clarinet opening from Gershwin’s Rhapsody in Blue. Another tribute to Rhapsody in Blue is the ink window which features a blue colour. The cap ring is inspired by the Brooklyn Bridge to symbolise the close relationship George Gershwin had with his place of birth. The cap and barrel are made out of black resin combined with platinum-coated fittings. The length of the pen with the cap is 15.6 cm, and the total weight is 89.84 grams.

Franz Kafka — Montblanc

Franz Kafka (3 July 1883 – 3 June 1924) was a Bohemian author, widely regarded as one of the major figures of 20th-century literature. His work fuses elements of realism and the fantastic. It typically features isolated protagonists facing bizarre or surrealistic predicaments and incomprehensible socio-bureaucratic powers. It has been interpreted as exploring themes of alienation, existential anxiety, guilt, and absurdity. His best known works include Die Verwandlung (The Metamorphosis), Der Process (The Trial), and Das Schloss (The Castle).

In 2004, Montblanc has launched a special edition for Franz Kafka. The design of the fountain pen of this series is not only reminiscent of the simple and yet artful style of its eponym, but also pays tribute to Kafka’s The Metamorphosis. In the fascinating change from square to round in the writing instrument’s form, the metamorphosis described in Kafka’s story has found its equivalent.

Top, clip and rings made of 925 sterling silver offer a thrilling contrast to the dark red translucent aura of the barrel. A further reference to The Metamorphosis is on the rhodium-plated 18-karat gold nib: a finely engraved cockroach.

Die ungeheure Welt, die ich im Kopfe habe. Aber wie mich befreien und sie befreien, ohne zu zerreißen. Und tausendmal lieber zerreißen, als in mir sie zurückhalten oder begraben. Dazu bin ich ja hier, das ist mir ganz klar

Franz Kafka 21-06-1913

Saint-Exupéry — Montblanc

Antoine de Saint-Exupéry (29 June 1900 – 31 July 1944), was a French author, journalist and pioneering aviator. He became a laureate of several of France’s highest literary awards and also won the United States National Book Award. He is best remembered for his novella Le Petit Prince (The Little Prince) and for his lyrical aviation writings, including Wind, Sand and Stars and Night Flight.

As a part of the Writer Series, in 2017 Montblanc has launched a special edition for Antoine de Saint-Exupéry. The overall design and shape of the fountain pen was inspired by St-Ex’ iconic Caudron Simoun plane and his famous novel Night Flight. Engravings on the barrel and cap show the sky as seen by Saint-Exupéry on November 1, 1929, at 23:00.

As the director of the newly formed company Aeroposta Argentina S.A, Antoine de Saint-Exupéry conducted Aeroposta’s inaugural flight on 1 November 1929, flying from an airfield at Villa Harding Green to Comodoro Rivadavia. The fittings are inspired by the cockpit of his plane.

The geographic positions of important cities in Saint-Exupéry’s life are engraved on the cone. The nib recalls his most famous novel, The Little Prince. This Writers Edition is limited to 1931 pieces, the year Saint-Exupéry published Night Flight.

Berlin

Berlin dingin dan berangin, membuat aku lupa bahwa baru beberapa hari sebelumnya aku tersengat matahari di London dan Paris. Hampir dua minggu berjalan kaki dengan lutut cedera, bikin aku agak manja. Dari terminal bis, aku memilih naik taksi ke Hotel Altberlin di kawasan Potsdamer Platz di pusat kota Berlin. Dan kayaknya, selama di Euro Area ini, selain dari Vienna Airport, aku selalu bayar taksi sebesar €15.

Hotel Altberlin bergaya klasik, tapi bukan yang bergaya keren kayak Lohmühle di Bayreuth. Kesannya malah kekar dan angker, mirip peninggalan zaman perang. Ah, tapi memang sejarah Jerman sebelum reunifikasi selalu berisi perang; dari penyatuan Jerman, PD I, PD II, hingga Perang Dingin. Brrrr. Hal2 ini tampaknya membuat penduduk Jerman masa kini lebih bergaya individualis (dalam arti tidak berminat mengatur hidup orang lain) dan toleran.

Karena belum terlalu lelah, kami malah jadi punya waktu untuk menikmati sore Berlin, yang biarpun sejuk tapi masih menampilkan langit dan awan berwarna  warni. Di peta, Hotel Altberlin berada tak jauh dari Berliner Philharmoniker. Jadi kuputuskan untuk berjalan ke arah sana. Ternyata cukup jalan 10 menit saja untuk sampai. Di sana, aku memilah2 program yang bisa ditampilkan, dan memutuskan untuk menyaksikan satu performansi orkestra di malam berikutnya. Jalan2 diteruskan. Berliner Philharmoniker merupakan gedung bergaya seni modern, terletak dalam kompleks yang bertetangga dengan Museum Musik, di depan Sony Centre. Cahaya matahari yang dipantulkan kaca di Sony Centre membuat warna coklat kuning di kompleks ini tampak seperti negeri dongeng.

Acara menunggu matahari terbenam sore itu dilanjutkan di sekitar Potsdamer Platz. Karena kami berada di pusat kota, maka kami juga berada di sekitar bekas tembol yang memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur, bekas masa Perang Dingin itu. Brrr. Di atas stasiun Potzdamer Platz kami melihat sisa2 tempok, bagian sangat kecil yang sengaja tidak diruntuhkan untuk jadi monumen.

Menyusuri sisa tembok, kami sampai di Gerbang Brandenburg (Branderburg Tor) yang merupakan landmark Jerman. Dulu, ini adalah satu dari sekian banyak gerbang kota Berlin. Tapi yang satu ini posisinya paling menarik: menghadap Tiergarten yang merupakan taman dan hutan yang sangat luas di tengah Berlin. Hutan luas di tengah kota — memang menarik :). Selama Perang Dingin (brrrr), gerbang ini terkurung pagar dan tak dapat bebas diakses kecuali oleh pejabat dari Blok Timur. Maka runtuhnya tembok, dan kemudian bersatunya Jerman (dan Berlin) dulu dirayakan besar2an secara simbolik di Gerbang Brandenburg ini. Namun gerbang ini kini bersuasana tenang dan damai. Di sekitarnya adalah kompleks2 pemerintahan dan kedutaan2 (termasuk Kedutaan AS tepat di sebelah gerbang).

Matahari tenggelam, dan nyaris tengah malam lagi. Melawan udara yang makin dingin, kami segera kembali ke Altberlin; kali ini naik bis.

Hari berikutnya, kami mau iseng mencobai transportasi umum di Berlin. Hotel Altberlin sungguh strategis: ada halte bis tepat di depan pintunya. Membeli Tageskarte (One day card) seharga €6.3, kami bisa naik bis, tram, U-Bahn, dan S-Bahn di dalam kota. Ternyata U-Bahn kadang ada di atas tanah, dan S-Bahn pun sering tenggelam di dalam tanah. Kami menjelajah bagian utara Berlin, dan mengunjungi Museum für Naturkunde, atau Museum Sains. Kami memang tak pernah bosan mengunjungi museum sains di manapun. Semua memiliki keunikan, baik materi, fokus perhatian, maupun metode menyampaikan informasi ilmiah secara populer kepada pengunjung.

Di museum ini, kita disambut oleh tiga dinosaurus raksasa. Aku rasa seharusnya aku bawa keponakan2ku, yang pasti hafal nama2 hewan raksasa yang malang itu. Di dalam, sebuah globe besar yang cukup presisi ditempel sebuah layar besar. Layar bergerak di atas globe, menampilkan sebuah bagian bumi, dan menceritakan sejarah geologi hingga ekologi yang berkaitan dengan visual bagian bumi itu. Cara yang kreatif. Bisa berjam2 aku di bagian itu, kalau tidak tertarik oleh penasaran pada ruang2 lain.

Di samping, ada penjelajahan tatasurya dan galaksi. Tapi aku suka melihat bagian sampingnya; tentang elemen2, dan bagaimana mereka bisa berada di bumi. Ada bagian yang mengingatkan aku pada sebuah diskusi di pengajian beberapa tahun lalu; bagaimana Al-Quran menyebutkan secara eksplisit bahwa besi itu diturunkan (dari atas, dari angkasa). Besi tidak mungkin diciptakan dengan tekanan dari benda sebesar planet atau bintang kecil. Harus ada bintang yang cukup besar, menyusun fusi jutaan tahun membentuk helium hingga karbon dan besi; kemudian ia harus meledak atau bertabrakan dengan bintang lain, melepas elemen2 relatif berat itu, dan suatu dari sebagian kecil kabutnya membentuk tatasurya atau bagian tatasurya yang baru, termasuk bumi. Di museum itu ditampilkan persentase probabilitas (dan bisa berarti distribusi) elemen di semesta; akibat proses fusi, ledakan dan penggabungan, peluruhan, fisi, dll.

Di belakang, adalah hewan2 yang diawetkan. Mirip museum zoologi di Bogor. Tapi lebih lengkap. Di ujung lain dari museum, ada pameran tentang kota Berlin. Hewan2 liar apa saja yang dapat ditemui di Berlin. Antara lain ada tupai merah :). Yang ini konon jauh lebih pemalu daripada rekan2nya tupai kelabu di Amerika dan Britania. Tapi di taman2 makam2 di sekitar Berlin, mereka cukup jinak karena sering berinteraksi dengan manusia. Ada juga rubah, dan bahkan celeng. Wah, Obelix bakal bahagia tinggal di sini. Di Paris mana ada mamalia liar — cuma ada burung2 gagak.

Berikutnya, menyusuri jalan2; trus kembali dengan S-Bahn ke Potsdamer Platz, dan seharusnya kembali ke hotel dengan bis. Tapi, ini benar2 ajaib. Bis di Berlin bukan saja bisa terlambat, atau sangat terlambat, tapi juga bisa cancel. Aku gak tahu ada apa di sisi kota yang lain; tapi semua bis ke arah hotelku ditunda atau dibatalkan. Tapi, tentu, cuma perlu 20 menit berjalan kaki untuk sampai di hotel.

Sore, rintik membasahi Berlin. Kami menembus rintik dengan bis disambung jalan kaki ke Berliner Philharmoniker lagi. Sedikit antri, kami dicecar di loket: cuma ada tiket mahal €80 dan tiket berdiri lho, katanya. Lho, mereka pikir berapa harga tiket di Wina, misalnya. Atau tiket pesawat ke Berlin. Tapi melihat setelan sebagian besar penonton yang agak hingga sangat resmi, dan membandingkan dengan kami yang mengenakan jaket sederhana (tapi rapi loh), plus badan kami yang kecil mungil, aku jadi berprasangka: jangan2 kami dituduh mahasiswa. Tapi kami akhirnya bisa dapat tiket.

Berliner Philharmoniker malam itu memainkan Missa Solemnis dari Beethoven. Sebagai choir adalah Bayerischer Rundfunk. Dan sebagai konduktor adalah Herbert Blomstedt. Mr Blomstedt lahir di tahun 1920an. Waktu Mama aku berusia 5 tahun, Mr Blomstedt sudah memperoleh gelar konduktor terbaik se-Eropa. Dan hingga tahun 2012 ini beliau masik aktif memimpin orkestra salah satu karya mutakhir Beethoven.

Missa Solemnis dianggap Beethoven sendiri sebagai salah satu karya puncaknya. Ia ditulis pada masa yang sama dengan Simfoni Kesembilan. Saat menulis karya ini, Beethoven sedang dalam masa krisis. Ketuliannya mengganggu aktivitasnya menyusun komposisi musik, sekaligus membuatnya makin terisolasi dari masyarakat. Pada masa ini, ia menyusun String Quarter terakhir, Simfoni Kesembilan, dan Missa Solemnis. Dari segi ide, mungkin memang ada kaitan antara melankoli Beethoven masa itu dengan keinginannya untuk lebih dekat pada Tuhan. Namun yang terdengar justru adalah kedalaman dan variasi yang luar biasa dari pikiran dan perasaan Beethoven sendiri. Strukturnya, tentu berbeda dengan simfoni-simfoni Beethoven. Keterasingan struktur ini (buat aku), justru menambah misteri karya besar ini.

Hari berikutnya, ke Tiersgarten, dan disusul persiapan pulang :). Dalam plan, memang Berlin tak terlalu diseriusi. Mirip terminal akhir tempat pulang. Tapi jelas Berlin bukan kota yang patut diabaikan. Kota ini memiliki keteraturan yang menarik, penduduk yang berdisiplin, dan memberikan perasaan kemerdekaan berkeksplorasi yang belum dapat diberikan oleh ibukota negara2 besar lain di Eropa (mis London dan Paris).

Sebenarnya, di awal Juni ini, bandara2 eks Berlin Barat dan Berlin Timur akan ditutup, menyusul dibukanya Brandenburg Airport yang baru dan besar. Namun ternyata pesawat kami masih akan diterbangkan dari Bandara Tegel. Aku tergoda naik taksi lagi ke Bandara Tegel. Lokasinya tak jauh dari kota, sopir taksi di Berlin gak bandel2 amat, dan kami punya 2 koper. Paling €30 – €40. Tapi, mendadak ada godaan lain, yaitu mencoba menggunakan transport umum nan lapang itu untuk ke airport bawa koper. Tentu waktunya dipilih sebelum para pekerja di Berlin pulang dari kantor :). Kami masih punya Tageskarte. Ini kami pakai naik bis ke S-Bahn, naik S-Bahn ke stasiun terakhir dekat airport, dan naik airport bus. Wow, dengan kartu ex jalan2 pagi hari itu, kami bisa sampai di Tegel Airport tanpa membayar apa pun! :)

Tegel Airport itu mungil. Memang sudah harus dipindahkan, atau dijadikan terminal domestik saja. Beristirahat di Starbucks (anggaplah Airport Lounge, wkwk); lalu check-in. Untuk check-in, kami boleh melewati antrean panjang, kerna sudah melakukan mobile check-in. Langsung masuk port di belakang tempat check-in, satu orang petugas imigrasi sudah menunggu untuk memeriksa paspor kami. Ia menghitung lama kami tinggal di Eropa menggunakan jari tangan. Wkwkwk. Dan begitu lolos, kami sudah di ruang persiapan boarding. Memang bandara mini yang unik, berbeda dengan semua bandara internasional. Tapi mungkin ini kali terakhir kami melihat Tegel Airport.

Selanjutnya …. kembali ke negeri kesayangan kami …. Indonesia :)

Berlin

Berlin dingin dan berangin, membuat aku lupa bahwa baru beberapa hari sebelumnya aku tersengat matahari di London dan Paris. Hampir dua minggu berjalan kaki dengan lutut cedera, bikin aku agak manja. Dari terminal bis, aku memilih naik taksi ke Hotel Altberlin di kawasan Potsdamer Platz di pusat kota Berlin. Dan kayaknya, selama di Euro Area ini, selain dari Vienna Airport, aku selalu bayar taksi sebesar €15.

Hotel Altberlin bergaya klasik, tapi bukan yang bergaya keren kayak Lohmühle di Bayreuth. Kesannya malah kekar dan angker, mirip peninggalan zaman perang. Ah, tapi memang sejarah Jerman sebelum reunifikasi selalu berisi perang; dari penyatuan Jerman, PD I, PD II, hingga Perang Dingin. Brrrr. Hal2 ini tampaknya membuat penduduk Jerman masa kini lebih bergaya individualis (dalam arti tidak berminat mengatur hidup orang lain) dan toleran.

Karena belum terlalu lelah, kami malah jadi punya waktu untuk menikmati sore Berlin, yang biarpun sejuk tapi masih menampilkan langit dan awan berwarna  warni. Di peta, Hotel Altberlin berada tak jauh dari Berliner Philharmoniker. Jadi kuputuskan untuk berjalan ke arah sana. Ternyata cukup jalan 10 menit saja untuk sampai. Di sana, aku memilah2 program yang bisa ditampilkan, dan memutuskan untuk menyaksikan satu performansi orkestra di malam berikutnya. Jalan2 diteruskan. Berliner Philharmoniker merupakan gedung bergaya seni modern, terletak dalam kompleks yang bertetangga dengan Museum Musik, di depan Sony Centre. Cahaya matahari yang dipantulkan kaca di Sony Centre membuat warna coklat kuning di kompleks ini tampak seperti negeri dongeng.

Acara menunggu matahari terbenam sore itu dilanjutkan di sekitar Potsdamer Platz. Karena kami berada di pusat kota, maka kami juga berada di sekitar bekas tembol yang memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur, bekas masa Perang Dingin itu. Brrr. Di atas stasiun Potzdamer Platz kami melihat sisa2 tempok, bagian sangat kecil yang sengaja tidak diruntuhkan untuk jadi monumen.

Menyusuri sisa tembok, kami sampai di Gerbang Brandenburg (Branderburg Tor) yang merupakan landmark Jerman. Dulu, ini adalah satu dari sekian banyak gerbang kota Berlin. Tapi yang satu ini posisinya paling menarik: menghadap Tiergarten yang merupakan taman dan hutan yang sangat luas di tengah Berlin. Hutan luas di tengah kota — memang menarik :). Selama Perang Dingin (brrrr), gerbang ini terkurung pagar dan tak dapat bebas diakses kecuali oleh pejabat dari Blok Timur. Maka runtuhnya tembok, dan kemudian bersatunya Jerman (dan Berlin) dulu dirayakan besar2an secara simbolik di Gerbang Brandenburg ini. Namun gerbang ini kini bersuasana tenang dan damai. Di sekitarnya adalah kompleks2 pemerintahan dan kedutaan2 (termasuk Kedutaan AS tepat di sebelah gerbang).

Matahari tenggelam, dan nyaris tengah malam lagi. Melawan udara yang makin dingin, kami segera kembali ke Altberlin; kali ini naik bis.

Hari berikutnya, kami mau iseng mencobai transportasi umum di Berlin. Hotel Altberlin sungguh strategis: ada halte bis tepat di depan pintunya. Membeli Tageskarte (One day card) seharga €6.3, kami bisa naik bis, tram, U-Bahn, dan S-Bahn di dalam kota. Ternyata U-Bahn kadang ada di atas tanah, dan S-Bahn pun sering tenggelam di dalam tanah. Kami menjelajah bagian utara Berlin, dan mengunjungi Museum für Naturkunde, atau Museum Sains. Kami memang tak pernah bosan mengunjungi museum sains di manapun. Semua memiliki keunikan, baik materi, fokus perhatian, maupun metode menyampaikan informasi ilmiah secara populer kepada pengunjung.

Di museum ini, kita disambut oleh tiga dinosaurus raksasa. Aku rasa seharusnya aku bawa keponakan2ku, yang pasti hafal nama2 hewan raksasa yang malang itu. Di dalam, sebuah globe besar yang cukup presisi ditempel sebuah layar besar. Layar bergerak di atas globe, menampilkan sebuah bagian bumi, dan menceritakan sejarah geologi hingga ekologi yang berkaitan dengan visual bagian bumi itu. Cara yang kreatif. Bisa berjam2 aku di bagian itu, kalau tidak tertarik oleh penasaran pada ruang2 lain.

Di samping, ada penjelajahan tatasurya dan galaksi. Tapi aku suka melihat bagian sampingnya; tentang elemen2, dan bagaimana mereka bisa berada di bumi. Ada bagian yang mengingatkan aku pada sebuah diskusi di pengajian beberapa tahun lalu; bagaimana Al-Quran menyebutkan secara eksplisit bahwa besi itu diturunkan (dari atas, dari angkasa). Besi tidak mungkin diciptakan dengan tekanan dari benda sebesar planet atau bintang kecil. Harus ada bintang yang cukup besar, menyusun fusi jutaan tahun membentuk helium hingga karbon dan besi; kemudian ia harus meledak atau bertabrakan dengan bintang lain, melepas elemen2 relatif berat itu, dan suatu dari sebagian kecil kabutnya membentuk tatasurya atau bagian tatasurya yang baru, termasuk bumi. Di museum itu ditampilkan persentase probabilitas (dan bisa berarti distribusi) elemen di semesta; akibat proses fusi, ledakan dan penggabungan, peluruhan, fisi, dll.

Di belakang, adalah hewan2 yang diawetkan. Mirip museum zoologi di Bogor. Tapi lebih lengkap. Di ujung lain dari museum, ada pameran tentang kota Berlin. Hewan2 liar apa saja yang dapat ditemui di Berlin. Antara lain ada tupai merah :). Yang ini konon jauh lebih pemalu daripada rekan2nya tupai kelabu di Amerika dan Britania. Tapi di taman2 makam2 di sekitar Berlin, mereka cukup jinak karena sering berinteraksi dengan manusia. Ada juga rubah, dan bahkan celeng. Wah, Obelix bakal bahagia tinggal di sini. Di Paris mana ada mamalia liar — cuma ada burung2 gagak.

Berikutnya, menyusuri jalan2; trus kembali dengan S-Bahn ke Potsdamer Platz, dan seharusnya kembali ke hotel dengan bis. Tapi, ini benar2 ajaib. Bis di Berlin bukan saja bisa terlambat, atau sangat terlambat, tapi juga bisa cancel. Aku gak tahu ada apa di sisi kota yang lain; tapi semua bis ke arah hotelku ditunda atau dibatalkan. Tapi, tentu, cuma perlu 20 menit berjalan kaki untuk sampai di hotel.

Sore, rintik membasahi Berlin. Kami menembus rintik dengan bis disambung jalan kaki ke Berliner Philharmoniker lagi. Sedikit antri, kami dicecar di loket: cuma ada tiket mahal €80 dan tiket berdiri lho, katanya. Lho, mereka pikir berapa harga tiket di Wina, misalnya. Atau tiket pesawat ke Berlin. Tapi melihat setelan sebagian besar penonton yang agak hingga sangat resmi, dan membandingkan dengan kami yang mengenakan jaket sederhana (tapi rapi loh), plus badan kami yang kecil mungil, aku jadi berprasangka: jangan2 kami dituduh mahasiswa. Tapi kami akhirnya bisa dapat tiket.

Berliner Philharmoniker malam itu memainkan Missa Solemnis dari Beethoven. Sebagai choir adalah Bayerischer Rundfunk. Dan sebagai konduktor adalah Herbert Blomstedt. Mr Blomstedt lahir di tahun 1920an. Waktu Mama aku berusia 5 tahun, Mr Blomstedt sudah memperoleh gelar konduktor terbaik se-Eropa. Dan hingga tahun 2012 ini beliau masik aktif memimpin orkestra salah satu karya mutakhir Beethoven.

Missa Solemnis dianggap Beethoven sendiri sebagai salah satu karya puncaknya. Ia ditulis pada masa yang sama dengan Simfoni Kesembilan. Saat menulis karya ini, Beethoven sedang dalam masa krisis. Ketuliannya mengganggu aktivitasnya menyusun komposisi musik, sekaligus membuatnya makin terisolasi dari masyarakat. Pada masa ini, ia menyusun String Quarter terakhir, Simfoni Kesembilan, dan Missa Solemnis. Dari segi ide, mungkin memang ada kaitan antara melankoli Beethoven masa itu dengan keinginannya untuk lebih dekat pada Tuhan. Namun yang terdengar justru adalah kedalaman dan variasi yang luar biasa dari pikiran dan perasaan Beethoven sendiri. Strukturnya, tentu berbeda dengan simfoni-simfoni Beethoven. Keterasingan struktur ini (buat aku), justru menambah misteri karya besar ini.

Hari berikutnya, ke Tiersgarten, dan disusul persiapan pulang :). Dalam plan, memang Berlin tak terlalu diseriusi. Mirip terminal akhir tempat pulang. Tapi jelas Berlin bukan kota yang patut diabaikan. Kota ini memiliki keteraturan yang menarik, penduduk yang berdisiplin, dan memberikan perasaan kemerdekaan berkeksplorasi yang belum dapat diberikan oleh ibukota negara2 besar lain di Eropa (mis London dan Paris).

Sebenarnya, di awal Juni ini, bandara2 eks Berlin Barat dan Berlin Timur akan ditutup, menyusul dibukanya Brandenburg Airport yang baru dan besar. Namun ternyata pesawat kami masih akan diterbangkan dari Bandara Tegel. Aku tergoda naik taksi lagi ke Bandara Tegel. Lokasinya tak jauh dari kota, sopir taksi di Berlin gak bandel2 amat, dan kami punya 2 koper. Paling €30 – €40. Tapi, mendadak ada godaan lain, yaitu mencoba menggunakan transport umum nan lapang itu untuk ke airport bawa koper. Tentu waktunya dipilih sebelum para pekerja di Berlin pulang dari kantor :). Kami masih punya Tageskarte. Ini kami pakai naik bis ke S-Bahn, naik S-Bahn ke stasiun terakhir dekat airport, dan naik airport bus. Wow, dengan kartu ex jalan2 pagi hari itu, kami bisa sampai di Tegel Airport tanpa membayar apa pun! :)

Tegel Airport itu mungil. Memang sudah harus dipindahkan, atau dijadikan terminal domestik saja. Beristirahat di Starbucks (anggaplah Airport Lounge, wkwk); lalu check-in. Untuk check-in, kami boleh melewati antrean panjang, kerna sudah melakukan mobile check-in. Langsung masuk port di belakang tempat check-in, satu orang petugas imigrasi sudah menunggu untuk memeriksa paspor kami. Ia menghitung lama kami tinggal di Eropa menggunakan jari tangan. Wkwkwk. Dan begitu lolos, kami sudah di ruang persiapan boarding. Memang bandara mini yang unik, berbeda dengan semua bandara internasional. Tapi mungkin ini kali terakhir kami melihat Tegel Airport.

Selanjutnya …. kembali ke negeri kesayangan kami …. Indonesia :)

Bayreuth

Dresden sebenarnya merupakan kota bersejarah yang masih berkait dengan kota2 tujuan perjalanan sesi ini. Dresden pernah menjadi tempat tinggal Wagner selama beberapa tahun. Tannhauser dan Die Fliegende Hollander disusun di sini. Namun kemudian Wagner melibatkan diri sebagai salah satu pemimpin dalam pemberontakan kaum anarkis di tahun 1849, yang kemudian ditumpas tentara Prussia. Peristiwa ini membuat Wagner kehilangan karir, menjadi buron, dan hidup berpindah2 dalam tahun2 berikutnya: Paris, Zurich, dst.

Selama hidup serba kekurangan dalam pengasingan, Wagner justru dapat menyelesaikan sebagian besar dari karya agungnya: tetralogi opera Der Ring Des Nibelungen, serta Tristan & Isolde. Karya2 ini sering digunakan sebagai contoh mereka yang berkarya benar2 demi aktualisasi diri. Wagner bahkan saat itu tidak punya masa depan dan tidak memiliki peluang untuk menampilkan karyanya di mana pun. Sayangnya aku tidak punya banyak waktu untuk menjelajah Dresden dan melihat jejak Wagner di sana. Cuma sekedar mampir, turun dari Kereta Praha-Berlin, beli tiket, dan pindah ke Kereta Dresden-Nurenberg untuk turun di Bayreuth.

Balik ke mesin waktu lagi. Raja Bavaria, Ludwig II, yang baru naik tahta; ternyata mengagumi karya2 Wagner. Salah satunya adalah opera Lohengrin; tentang ksatria Templar bernama Lohengrin yang datang sebagai penolong ke wilayah Brabant mengendarai angsa besar. Ludwig pun membuat istana impian yang indah di atas perbukitan, dan dinamai Neuschwanstein (Karang Angsa Baru). Namun raja muda ini juga mengirim utusan untuk memanggil kembali Wagner ke negeri Jerman dan merehabilitasinya.

Wagner sempat tinggal di Munich. Namun orang2 berpengaruh di Bavaria sempat memaksa Ludwid II untuk meminta Wagner keluar dari Munich.

Wagner akhirnya memilih kota Bayreuth. Konon ia memilih kota itu karena terdapat Bayreuth Opernhaus yang panggungnya besar dan indah. Maka Wagner pun tinggal di Bayreuth. Namun setelah melakukan penjajagan, akhirnya Wagner justru membangun gedung opera tersendiri. Dana diperoleh dari kegiatan Wagner menggelar orchestra berkeliling Jerman, didukung penggalangan dana para pengagumnya, dan akhirnya oleh sumbangan yang besar dari Ludwig II. Di gedung opera baru ini, opera2 Wagner ditampilkan secara megah setiap tahun. Bahkan hingga kini.

Beralih dari Negara bagian Sachsen ke Bayern (Bavaria), kereta dari Dresden berhenti di stasiun Kirchenlaibach.Kami berpindah ke kereta mungil yang membawa kami dalam 10 menit ke kota Bayreuth. Di sana, kami dijemput walikota Bayreuth, Dian Ekawati.. Setidaknya mirip walikota, kerna tampaknya setiap orang di Bayreuth mengenal akrab tokoh yang satu ini. Menitipkan tas di hotel, Dian langsung mengajak kami sore itu juga ke rumah Wagner, tidak jauh dari hotel. (Tidak ada yang jauh. Ini kota memang mungil).

Seperti Parsifal yang berhasil kembali menemui markas Ksatria Templar, seperti Siegfried yang berhasil menembus gunung berpagar api, seperti Lohengrin yang lega turun di tepi sungai setelah capai mengendarai angsa (bayangin deh), akhirnya aku bisa menemui Wahnfried, rumah yang dirancang dan dihuni Richard Wagner. “Di sini kesintinganku beroleh kedamaian,” tulis Wagner di temboknya, “maka tempat ini kunamakan Wahnfried.”

Kami berkeliling di sekitar rumah. Di halaman belakang, tampak makam Richard dan Cosima Wagner. Ke luar dari rumah mereka dari belakang, kami masuk taman Hofgarten yang luas dan asri. Suasanya dingin.

Kami menghabiskan sisa hari di apartemen Dian. Sambil cuci2 baju (pakai koin, wkwkwk), dan disuguhi masakan ala Indonesia. Pantas Dian betah di Bayreuth. Ternyata ada Indonesia di dalam Bayreuth. Hari sudah sangat gelap waktu kami kembali ke hotel. Wahnfried ini tampak menyala terang di bawah cahaya keemasan. Terdengar music gelap penutup saat Parsifal kembali ke tempat para Ksatria Templar. Tapi tampaknya music misterius itu cuma ilusi lagi.

Pagi hari, kami baru mulai mengamati hotel kami. Lohmühle Hotel. Hotel mungil dan cantik dengan gaya Jerman tradisional. Bertahun2 lalu aku membayangkan bisa tinggal di salah satu bangunan putih dengan ornament kayu gelap menyilang semacam itu. Sayangnya kami tak berbasil berbahasa Inggris di sekitar sini. Semua berbahasa jerman, kecuali Mbak Ivo, yang memang orang Indonesia yang berbahasa Indonesia. Konon orang Indonesia di Bayreuth tinggal 3 orang.

Perjalanan pagi dimulai dengan menyusuri jalan2 kecil kota Bayreuth. Tujuan pertama adalah Bayreuth Opernhaus. Ini adalah gedung opera yang membuat Wagner memilih tinggal di kota ini. Bagian dalamnya memang indah, klasik, dan terpelihara. Kapasitas penonton tek terlalu besar. Tapi panggungnya sangat luas.

Masih ada beberapa istana, taman, dan toko buku yang wajib dikunjungi. Guidenya masih Dian. Bikin aku mendadak jadi useless satu hari penuh, wkwk. Sayangnya buku2nya berbahasa Jerman (Jadi, mau loo?). Akhirnya malah beli satu DVD pentas Lohengrin versi 2011. Yang 2012 baru akan dipentaskan bulan Juli ini.

Di akhir kunjungan singkat ke Bayreuth, kami mengunjungi Bayreuth Festspielhaus, gedung opera yang dibangun Richard Wagner. Dari depan, gedung ini menampilkan arsitektur zaman klasik akhir; tapi sebagian besar gedung hanya berupa susunan batu merah tanpa polesan. Sebuah kesederhanaan yang menarik.

Di Festspielhaus ini, akhirnya Der Ring Des Nibelungen dapat ditampilkan secara lengkap. Juga kemudian Parsifal. Dan setahun setelah Parsifal, Wagner wafat. Makamnya ada de belakang Wahnfried. Di depan Festspielhaus dipasang patung Wagner yang tengah merenung. Di depannya, seekor tupai kecil berwarna merah menikmati hari yang cerah. Kaget melihat kami, si tupai melompat ke atas pohon, dan cuma menampilkan ekornya yang lebat melambai heboh. Kadang ia meliriki kami sambil terus makan, dan membiarkan remah2 makanannya menjatuhi kami. Tupai bandel.

Tapi kami harus mengejar bis ke Berlin. Jadi kami turun lagi ke Stasiun Bayreuth., dadah2an ke Dian, lalu diangkat oleh bis bertingkat dua yang membawa kami kencang tanpa ampun meninggalkan jejak visual Wagner yang terakhir. Kali ini ilusi audio bukan lagi Parsifal; tapi Das Rheingold.

Bayreuth

Dresden sebenarnya merupakan kota bersejarah yang masih berkait dengan kota2 tujuan perjalanan sesi ini. Dresden pernah menjadi tempat tinggal Wagner selama beberapa tahun. Tannhauser dan Die Fliegende Hollander disusun di sini. Namun kemudian Wagner melibatkan diri sebagai salah satu pemimpin dalam pemberontakan kaum anarkis di tahun 1849, yang kemudian ditumpas tentara Prussia. Peristiwa ini membuat Wagner kehilangan karir, menjadi buron, dan hidup berpindah2 dalam tahun2 berikutnya: Paris, Zurich, dst.

Selama hidup serba kekurangan dalam pengasingan, Wagner justru dapat menyelesaikan sebagian besar dari karya agungnya: tetralogi opera Der Ring Des Nibelungen, serta Tristan & Isolde. Karya2 ini sering digunakan sebagai contoh mereka yang berkarya benar2 demi aktualisasi diri. Wagner bahkan saat itu tidak punya masa depan dan tidak memiliki peluang untuk menampilkan karyanya di mana pun. Sayangnya aku tidak punya banyak waktu untuk menjelajah Dresden dan melihat jejak Wagner di sana. Cuma sekedar mampir, turun dari Kereta Praha-Berlin, beli tiket, dan pindah ke Kereta Dresden-Nurenberg untuk turun di Bayreuth.

Balik ke mesin waktu lagi. Raja Bavaria, Ludwig II, yang baru naik tahta; ternyata mengagumi karya2 Wagner. Salah satunya adalah opera Lohengrin; tentang ksatria Templar bernama Lohengrin yang datang sebagai penolong ke wilayah Brabant mengendarai angsa besar. Ludwig pun membuat istana impian yang indah di atas perbukitan, dan dinamai Neuschwanstein (Karang Angsa Baru). Namun raja muda ini juga mengirim utusan untuk memanggil kembali Wagner ke negeri Jerman dan merehabilitasinya.

Wagner sempat tinggal di Munich. Namun orang2 berpengaruh di Bavaria sempat memaksa Ludwid II untuk meminta Wagner keluar dari Munich.

Wagner akhirnya memilih kota Bayreuth. Konon ia memilih kota itu karena terdapat Bayreuth Opernhaus yang panggungnya besar dan indah. Maka Wagner pun tinggal di Bayreuth. Namun setelah melakukan penjajagan, akhirnya Wagner justru membangun gedung opera tersendiri. Dana diperoleh dari kegiatan Wagner menggelar orchestra berkeliling Jerman, didukung penggalangan dana para pengagumnya, dan akhirnya oleh sumbangan yang besar dari Ludwig II. Di gedung opera baru ini, opera2 Wagner ditampilkan secara megah setiap tahun. Bahkan hingga kini.

Beralih dari Negara bagian Sachsen ke Bayern (Bavaria), kereta dari Dresden berhenti di stasiun Kirchenlaibach.Kami berpindah ke kereta mungil yang membawa kami dalam 10 menit ke kota Bayreuth. Di sana, kami dijemput walikota Bayreuth, Dian Ekawati.. Setidaknya mirip walikota, kerna tampaknya setiap orang di Bayreuth mengenal akrab tokoh yang satu ini. Menitipkan tas di hotel, Dian langsung mengajak kami sore itu juga ke rumah Wagner, tidak jauh dari hotel. (Tidak ada yang jauh. Ini kota memang mungil).

Seperti Parsifal yang berhasil kembali menemui markas Ksatria Templar, seperti Siegfried yang berhasil menembus gunung berpagar api, seperti Lohengrin yang lega turun di tepi sungai setelah capai mengendarai angsa (bayangin deh), akhirnya aku bisa menemui Wahnfried, rumah yang dirancang dan dihuni Richard Wagner. “Di sini kesintinganku beroleh kedamaian,” tulis Wagner di temboknya, “maka tempat ini kunamakan Wahnfried.”

Kami berkeliling di sekitar rumah. Di halaman belakang, tampak makam Richard dan Cosima Wagner. Ke luar dari rumah mereka dari belakang, kami masuk taman Hofgarten yang luas dan asri. Suasanya dingin.

Kami menghabiskan sisa hari di apartemen Dian. Sambil cuci2 baju (pakai koin, wkwkwk), dan disuguhi masakan ala Indonesia. Pantas Dian betah di Bayreuth. Ternyata ada Indonesia di dalam Bayreuth. Hari sudah sangat gelap waktu kami kembali ke hotel. Wahnfried ini tampak menyala terang di bawah cahaya keemasan. Terdengar music gelap penutup saat Parsifal kembali ke tempat para Ksatria Templar. Tapi tampaknya music misterius itu cuma ilusi lagi.

Pagi hari, kami baru mulai mengamati hotel kami. Lohmühle Hotel. Hotel mungil dan cantik dengan gaya Jerman tradisional. Bertahun2 lalu aku membayangkan bisa tinggal di salah satu bangunan putih dengan ornament kayu gelap menyilang semacam itu. Sayangnya kami tak berbasil berbahasa Inggris di sekitar sini. Semua berbahasa jerman, kecuali Mbak Ivo, yang memang orang Indonesia yang berbahasa Indonesia. Konon orang Indonesia di Bayreuth tinggal 3 orang.

Perjalanan pagi dimulai dengan menyusuri jalan2 kecil kota Bayreuth. Tujuan pertama adalah Bayreuth Opernhaus. Ini adalah gedung opera yang membuat Wagner memilih tinggal di kota ini. Bagian dalamnya memang indah, klasik, dan terpelihara. Kapasitas penonton tek terlalu besar. Tapi panggungnya sangat luas.

Masih ada beberapa istana, taman, dan toko buku yang wajib dikunjungi. Guidenya masih Dian. Bikin aku mendadak jadi useless satu hari penuh, wkwk. Sayangnya buku2nya berbahasa Jerman (Jadi, mau loo?). Akhirnya malah beli satu DVD pentas Lohengrin versi 2011. Yang 2012 baru akan dipentaskan bulan Juli ini.

Di akhir kunjungan singkat ke Bayreuth, kami mengunjungi Bayreuth Festspielhaus, gedung opera yang dibangun Richard Wagner. Dari depan, gedung ini menampilkan arsitektur zaman klasik akhir; tapi sebagian besar gedung hanya berupa susunan batu merah tanpa polesan. Sebuah kesederhanaan yang menarik.

Di Festspielhaus ini, akhirnya Der Ring Des Nibelungen dapat ditampilkan secara lengkap. Juga kemudian Parsifal. Dan setahun setelah Parsifal, Wagner wafat. Makamnya ada de belakang Wahnfried. Di depan Festspielhaus dipasang patung Wagner yang tengah merenung. Di depannya, seekor tupai kecil berwarna merah menikmati hari yang cerah. Kaget melihat kami, si tupai melompat ke atas pohon, dan cuma menampilkan ekornya yang lebat melambai heboh. Kadang ia meliriki kami sambil terus makan, dan membiarkan remah2 makanannya menjatuhi kami. Tupai bandel.

Tapi kami harus mengejar bis ke Berlin. Jadi kami turun lagi ke Stasiun Bayreuth., dadah2an ke Dian, lalu diangkat oleh bis bertingkat dua yang membawa kami kencang tanpa ampun meninggalkan jejak visual Wagner yang terakhir. Kali ini ilusi audio bukan lagi Parsifal; tapi Das Rheingold.