Bayreuth

Dresden sebenarnya merupakan kota bersejarah yang masih berkait dengan kota2 tujuan perjalanan sesi ini. Dresden pernah menjadi tempat tinggal Wagner selama beberapa tahun. Tannhauser dan Die Fliegende Hollander disusun di sini. Namun kemudian Wagner melibatkan diri sebagai salah satu pemimpin dalam pemberontakan kaum anarkis di tahun 1849, yang kemudian ditumpas tentara Prussia. Peristiwa ini membuat Wagner kehilangan karir, menjadi buron, dan hidup berpindah2 dalam tahun2 berikutnya: Paris, Zurich, dst.

Selama hidup serba kekurangan dalam pengasingan, Wagner justru dapat menyelesaikan sebagian besar dari karya agungnya: tetralogi opera Der Ring Des Nibelungen, serta Tristan & Isolde. Karya2 ini sering digunakan sebagai contoh mereka yang berkarya benar2 demi aktualisasi diri. Wagner bahkan saat itu tidak punya masa depan dan tidak memiliki peluang untuk menampilkan karyanya di mana pun. Sayangnya aku tidak punya banyak waktu untuk menjelajah Dresden dan melihat jejak Wagner di sana. Cuma sekedar mampir, turun dari Kereta Praha-Berlin, beli tiket, dan pindah ke Kereta Dresden-Nurenberg untuk turun di Bayreuth.

Balik ke mesin waktu lagi. Raja Bavaria, Ludwig II, yang baru naik tahta; ternyata mengagumi karya2 Wagner. Salah satunya adalah opera Lohengrin; tentang ksatria Templar bernama Lohengrin yang datang sebagai penolong ke wilayah Brabant mengendarai angsa besar. Ludwig pun membuat istana impian yang indah di atas perbukitan, dan dinamai Neuschwanstein (Karang Angsa Baru). Namun raja muda ini juga mengirim utusan untuk memanggil kembali Wagner ke negeri Jerman dan merehabilitasinya.

Wagner sempat tinggal di Munich. Namun orang2 berpengaruh di Bavaria sempat memaksa Ludwid II untuk meminta Wagner keluar dari Munich.

Wagner akhirnya memilih kota Bayreuth. Konon ia memilih kota itu karena terdapat Bayreuth Opernhaus yang panggungnya besar dan indah. Maka Wagner pun tinggal di Bayreuth. Namun setelah melakukan penjajagan, akhirnya Wagner justru membangun gedung opera tersendiri. Dana diperoleh dari kegiatan Wagner menggelar orchestra berkeliling Jerman, didukung penggalangan dana para pengagumnya, dan akhirnya oleh sumbangan yang besar dari Ludwig II. Di gedung opera baru ini, opera2 Wagner ditampilkan secara megah setiap tahun. Bahkan hingga kini.

Beralih dari Negara bagian Sachsen ke Bayern (Bavaria), kereta dari Dresden berhenti di stasiun Kirchenlaibach.Kami berpindah ke kereta mungil yang membawa kami dalam 10 menit ke kota Bayreuth. Di sana, kami dijemput walikota Bayreuth, Dian Ekawati.. Setidaknya mirip walikota, kerna tampaknya setiap orang di Bayreuth mengenal akrab tokoh yang satu ini. Menitipkan tas di hotel, Dian langsung mengajak kami sore itu juga ke rumah Wagner, tidak jauh dari hotel. (Tidak ada yang jauh. Ini kota memang mungil).

Seperti Parsifal yang berhasil kembali menemui markas Ksatria Templar, seperti Siegfried yang berhasil menembus gunung berpagar api, seperti Lohengrin yang lega turun di tepi sungai setelah capai mengendarai angsa (bayangin deh), akhirnya aku bisa menemui Wahnfried, rumah yang dirancang dan dihuni Richard Wagner. “Di sini kesintinganku beroleh kedamaian,” tulis Wagner di temboknya, “maka tempat ini kunamakan Wahnfried.”

Kami berkeliling di sekitar rumah. Di halaman belakang, tampak makam Richard dan Cosima Wagner. Ke luar dari rumah mereka dari belakang, kami masuk taman Hofgarten yang luas dan asri. Suasanya dingin.

Kami menghabiskan sisa hari di apartemen Dian. Sambil cuci2 baju (pakai koin, wkwkwk), dan disuguhi masakan ala Indonesia. Pantas Dian betah di Bayreuth. Ternyata ada Indonesia di dalam Bayreuth. Hari sudah sangat gelap waktu kami kembali ke hotel. Wahnfried ini tampak menyala terang di bawah cahaya keemasan. Terdengar music gelap penutup saat Parsifal kembali ke tempat para Ksatria Templar. Tapi tampaknya music misterius itu cuma ilusi lagi.

Pagi hari, kami baru mulai mengamati hotel kami. Lohmühle Hotel. Hotel mungil dan cantik dengan gaya Jerman tradisional. Bertahun2 lalu aku membayangkan bisa tinggal di salah satu bangunan putih dengan ornament kayu gelap menyilang semacam itu. Sayangnya kami tak berbasil berbahasa Inggris di sekitar sini. Semua berbahasa jerman, kecuali Mbak Ivo, yang memang orang Indonesia yang berbahasa Indonesia. Konon orang Indonesia di Bayreuth tinggal 3 orang.

Perjalanan pagi dimulai dengan menyusuri jalan2 kecil kota Bayreuth. Tujuan pertama adalah Bayreuth Opernhaus. Ini adalah gedung opera yang membuat Wagner memilih tinggal di kota ini. Bagian dalamnya memang indah, klasik, dan terpelihara. Kapasitas penonton tek terlalu besar. Tapi panggungnya sangat luas.

Masih ada beberapa istana, taman, dan toko buku yang wajib dikunjungi. Guidenya masih Dian. Bikin aku mendadak jadi useless satu hari penuh, wkwk. Sayangnya buku2nya berbahasa Jerman (Jadi, mau loo?). Akhirnya malah beli satu DVD pentas Lohengrin versi 2011. Yang 2012 baru akan dipentaskan bulan Juli ini.

Di akhir kunjungan singkat ke Bayreuth, kami mengunjungi Bayreuth Festspielhaus, gedung opera yang dibangun Richard Wagner. Dari depan, gedung ini menampilkan arsitektur zaman klasik akhir; tapi sebagian besar gedung hanya berupa susunan batu merah tanpa polesan. Sebuah kesederhanaan yang menarik.

Di Festspielhaus ini, akhirnya Der Ring Des Nibelungen dapat ditampilkan secara lengkap. Juga kemudian Parsifal. Dan setahun setelah Parsifal, Wagner wafat. Makamnya ada de belakang Wahnfried. Di depan Festspielhaus dipasang patung Wagner yang tengah merenung. Di depannya, seekor tupai kecil berwarna merah menikmati hari yang cerah. Kaget melihat kami, si tupai melompat ke atas pohon, dan cuma menampilkan ekornya yang lebat melambai heboh. Kadang ia meliriki kami sambil terus makan, dan membiarkan remah2 makanannya menjatuhi kami. Tupai bandel.

Tapi kami harus mengejar bis ke Berlin. Jadi kami turun lagi ke Stasiun Bayreuth., dadah2an ke Dian, lalu diangkat oleh bis bertingkat dua yang membawa kami kencang tanpa ampun meninggalkan jejak visual Wagner yang terakhir. Kali ini ilusi audio bukan lagi Parsifal; tapi Das Rheingold.

Bayreuth

Dresden sebenarnya merupakan kota bersejarah yang masih berkait dengan kota2 tujuan perjalanan sesi ini. Dresden pernah menjadi tempat tinggal Wagner selama beberapa tahun. Tannhauser dan Die Fliegende Hollander disusun di sini. Namun kemudian Wagner melibatkan diri sebagai salah satu pemimpin dalam pemberontakan kaum anarkis di tahun 1849, yang kemudian ditumpas tentara Prussia. Peristiwa ini membuat Wagner kehilangan karir, menjadi buron, dan hidup berpindah2 dalam tahun2 berikutnya: Paris, Zurich, dst.

Selama hidup serba kekurangan dalam pengasingan, Wagner justru dapat menyelesaikan sebagian besar dari karya agungnya: tetralogi opera Der Ring Des Nibelungen, serta Tristan & Isolde. Karya2 ini sering digunakan sebagai contoh mereka yang berkarya benar2 demi aktualisasi diri. Wagner bahkan saat itu tidak punya masa depan dan tidak memiliki peluang untuk menampilkan karyanya di mana pun. Sayangnya aku tidak punya banyak waktu untuk menjelajah Dresden dan melihat jejak Wagner di sana. Cuma sekedar mampir, turun dari Kereta Praha-Berlin, beli tiket, dan pindah ke Kereta Dresden-Nurenberg untuk turun di Bayreuth.

Balik ke mesin waktu lagi. Raja Bavaria, Ludwig II, yang baru naik tahta; ternyata mengagumi karya2 Wagner. Salah satunya adalah opera Lohengrin; tentang ksatria Templar bernama Lohengrin yang datang sebagai penolong ke wilayah Brabant mengendarai angsa besar. Ludwig pun membuat istana impian yang indah di atas perbukitan, dan dinamai Neuschwanstein (Karang Angsa Baru). Namun raja muda ini juga mengirim utusan untuk memanggil kembali Wagner ke negeri Jerman dan merehabilitasinya.

Wagner sempat tinggal di Munich. Namun orang2 berpengaruh di Bavaria sempat memaksa Ludwid II untuk meminta Wagner keluar dari Munich.

Wagner akhirnya memilih kota Bayreuth. Konon ia memilih kota itu karena terdapat Bayreuth Opernhaus yang panggungnya besar dan indah. Maka Wagner pun tinggal di Bayreuth. Namun setelah melakukan penjajagan, akhirnya Wagner justru membangun gedung opera tersendiri. Dana diperoleh dari kegiatan Wagner menggelar orchestra berkeliling Jerman, didukung penggalangan dana para pengagumnya, dan akhirnya oleh sumbangan yang besar dari Ludwig II. Di gedung opera baru ini, opera2 Wagner ditampilkan secara megah setiap tahun. Bahkan hingga kini.

Beralih dari Negara bagian Sachsen ke Bayern (Bavaria), kereta dari Dresden berhenti di stasiun Kirchenlaibach.Kami berpindah ke kereta mungil yang membawa kami dalam 10 menit ke kota Bayreuth. Di sana, kami dijemput walikota Bayreuth, Dian Ekawati.. Setidaknya mirip walikota, kerna tampaknya setiap orang di Bayreuth mengenal akrab tokoh yang satu ini. Menitipkan tas di hotel, Dian langsung mengajak kami sore itu juga ke rumah Wagner, tidak jauh dari hotel. (Tidak ada yang jauh. Ini kota memang mungil).

Seperti Parsifal yang berhasil kembali menemui markas Ksatria Templar, seperti Siegfried yang berhasil menembus gunung berpagar api, seperti Lohengrin yang lega turun di tepi sungai setelah capai mengendarai angsa (bayangin deh), akhirnya aku bisa menemui Wahnfried, rumah yang dirancang dan dihuni Richard Wagner. “Di sini kesintinganku beroleh kedamaian,” tulis Wagner di temboknya, “maka tempat ini kunamakan Wahnfried.”

Kami berkeliling di sekitar rumah. Di halaman belakang, tampak makam Richard dan Cosima Wagner. Ke luar dari rumah mereka dari belakang, kami masuk taman Hofgarten yang luas dan asri. Suasanya dingin.

Kami menghabiskan sisa hari di apartemen Dian. Sambil cuci2 baju (pakai koin, wkwkwk), dan disuguhi masakan ala Indonesia. Pantas Dian betah di Bayreuth. Ternyata ada Indonesia di dalam Bayreuth. Hari sudah sangat gelap waktu kami kembali ke hotel. Wahnfried ini tampak menyala terang di bawah cahaya keemasan. Terdengar music gelap penutup saat Parsifal kembali ke tempat para Ksatria Templar. Tapi tampaknya music misterius itu cuma ilusi lagi.

Pagi hari, kami baru mulai mengamati hotel kami. Lohmühle Hotel. Hotel mungil dan cantik dengan gaya Jerman tradisional. Bertahun2 lalu aku membayangkan bisa tinggal di salah satu bangunan putih dengan ornament kayu gelap menyilang semacam itu. Sayangnya kami tak berbasil berbahasa Inggris di sekitar sini. Semua berbahasa jerman, kecuali Mbak Ivo, yang memang orang Indonesia yang berbahasa Indonesia. Konon orang Indonesia di Bayreuth tinggal 3 orang.

Perjalanan pagi dimulai dengan menyusuri jalan2 kecil kota Bayreuth. Tujuan pertama adalah Bayreuth Opernhaus. Ini adalah gedung opera yang membuat Wagner memilih tinggal di kota ini. Bagian dalamnya memang indah, klasik, dan terpelihara. Kapasitas penonton tek terlalu besar. Tapi panggungnya sangat luas.

Masih ada beberapa istana, taman, dan toko buku yang wajib dikunjungi. Guidenya masih Dian. Bikin aku mendadak jadi useless satu hari penuh, wkwk. Sayangnya buku2nya berbahasa Jerman (Jadi, mau loo?). Akhirnya malah beli satu DVD pentas Lohengrin versi 2011. Yang 2012 baru akan dipentaskan bulan Juli ini.

Di akhir kunjungan singkat ke Bayreuth, kami mengunjungi Bayreuth Festspielhaus, gedung opera yang dibangun Richard Wagner. Dari depan, gedung ini menampilkan arsitektur zaman klasik akhir; tapi sebagian besar gedung hanya berupa susunan batu merah tanpa polesan. Sebuah kesederhanaan yang menarik.

Di Festspielhaus ini, akhirnya Der Ring Des Nibelungen dapat ditampilkan secara lengkap. Juga kemudian Parsifal. Dan setahun setelah Parsifal, Wagner wafat. Makamnya ada de belakang Wahnfried. Di depan Festspielhaus dipasang patung Wagner yang tengah merenung. Di depannya, seekor tupai kecil berwarna merah menikmati hari yang cerah. Kaget melihat kami, si tupai melompat ke atas pohon, dan cuma menampilkan ekornya yang lebat melambai heboh. Kadang ia meliriki kami sambil terus makan, dan membiarkan remah2 makanannya menjatuhi kami. Tupai bandel.

Tapi kami harus mengejar bis ke Berlin. Jadi kami turun lagi ke Stasiun Bayreuth., dadah2an ke Dian, lalu diangkat oleh bis bertingkat dua yang membawa kami kencang tanpa ampun meninggalkan jejak visual Wagner yang terakhir. Kali ini ilusi audio bukan lagi Parsifal; tapi Das Rheingold.

Wien

Dari pesawat Vuelling, aku bisa menikmati pemandangan pegunungan Alpen yang puncak dan lerengnya masih dipenuhi garis-garis salju di akhir musim semi ini. Namun tak lama pesawat mulai merendah, dan pemandangan berubah menjadi padang2 dan ladang hijau yang luas, diselingi kota2 dan desa2 kecil. Lalu pesawat mendarat di Flughafen Wien — Bandara Wina. Wien, Vienna, Vienne, atau biarlah kutulis versi Indonesianya: Wina. Ibukota Austria ini ada di timur laut negara; berada tak jauh dari kota Bratislava yang merupakan ibukota Slovenska.

Mendarat di sini, aku berharap mudah2an orang Austria mau berbahasa Inggris. Aku nggak bisa bahasa Jerman sepicing pun :D. Tapi harapanku terlaksana. Maklumat di Wina ditulis atau dilantunkan dwibahasa, dan nyaris semua warga segala usia mau berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Baru asik baca jadwal kereta ke kota Wina, aku ditawari naik taksi yang harganya tak berbeda jauh dengan kereta untuk dua orang. Wow :). Jadilah kami diantar private taxi itu ke hotel.

Hotel kami, Austria Trend Lasalle, berada dekat sungai Danube. Kami menikmati sore di tepi sungai. Berbeda dengan London dan Paris yang luar biasa panas; di Wina kami merasakan kembali suasana Eropa yang kami bayangkan: sejuk :). Wina menggunakan waktu yang sama dengan Paris, padahal posisinya jauh lebih timur. Maka di sini matahari terbenam 1 jam lebih cepat dari di Paris: sekitar pukul 20:40. Sungai Danube berwarna ungu, menampilkan bayangan langit senja. Tampak lebar. Padahal itu baru setengah sungai. Yang kami lihat di ujung bukan tepi sungai, tetapi sebenarnya pulau di tengah sungai. Bahkan sebelum melihat kota Wina, aku sudah berasa betah di sini. Tapi dinginnya mulai serius. Brrrr.

Hotel Lasalle sebenarnya tak terlalu murah. Tapi kami beroleh diskon cukup besar, jadi tak terasa mahal. Hotelnya bagus, keren, dengan fasilitas lengkap. Ini hotel dengan fasilitas terlengkap dalam perjalanan Eropa 2012 ini. Tapi ternyata kami masih kena charge untuk sarapan sebesar €15 per orang per pagi. Mahal ya? Resepsionis sangat helpful. Selain bisa menjawab berbagai hal tentang Wina, mereka juga bisa memesankan berbagai macam tiket, dan dapat menjual Vienna Card yang merupakan travel ticket untuk semua transportasi publik di Wina. Vienna Card berharga €19, dan dapat digunakan 3 hari setelah aktivasi awal. Aktivasi dapat dilakukan di stasiun U-Bahn atau di bis. Tapi, tiket ini cuma kami beli, diaktifkan, dan disimpan rapi di dompet. Semua pintu sudah terbuka tanpa harus menggunakan tiket ini; dan tidak ada satu petugaspun yang memeriksa tiket. Semua bekerja berdasar kepercayaan semata. Di Eropa bagian agak timur ini (Austria, Ceska, Jerman), tampaknya ini menjadi aturan umum; berbeda dengan di Inggris (Tube) atau Perancis (Metro, RER), dimana kita harus menggunakan tiket atau kartu untuk bisa masuk ke gerbang di stasiun.

Pagi, setelah menikmati sarapan yang sehat dan penuh buah2an :), kami menjelajah U-Bahn. Keluar di Karlplatz, kami langsung disambut oleh Wiener Staatsoper. Ini adalah tempat performansi reguler dari Wiener Philharmoniker; satu dari tiga orkestra terbaik di dunia (di samping Koninklijk Concertgebouw dan Berliner Philharmoniker). Tapi sayangnya, dalam hari kunjungan kami, sedang tidak ada konser menarik di sana.

Tak jauh dari Staatsoper, kami temui Hofburg, kompleks istana Dinasti Habsburg. Dinasti Habsburg adalah dinasti terakhir dari Kekaisaran Roma (Holy Roman Empire) yang berawal dari Charlemagne di Milenium I. Kekuasaan Roma ini bersejarah panjang dan tak selalu mulus: kadang turun temurun dan kadang memerlukan pemilihan dari para raja dan pangeran di Eropa; kadang memerlukan pengangkatan oleh Paus tapi seringkali juga tidak perlu. Kaisar terakhir yang berkuasa sebelum Dinasti Habsburg adalah Raja Bohemia Charles IV (akan kita temui peninggalannya di Praha) dan kemudian putranya Sigismund. Dinasti Habsburg berkuasa dari pertengahan abad ke-15 hingga abad ke-19, dengan kaisar terakhir Francis I. Sebagai reaksi atas melemahnya kekuasaan Roma, dan berkuasanya Napoleon sebagai Kaisar di Perancis; Kaisar Francis I  membentuk Kekaisaran Austria (Kaisertum Österreich). Kekaisaran ini masih melemah, dan kemudian direformasi di akhir abad ke-19 menjadi Kesatuan Kekaisaran Austria dan Kerajaan Hongaria (lupa nama aslinya). Kekaisaran Habsburg ini pun akhirnya melemah, mencoba menyusun konfigurasi baru dengan Perang Dunia I, namun kalah dan akhirnya runtuh; meninggalkan Republik Austria dan negara-negara di sekitarnya yang merdeka dari cengkeraman kekaisaran. Austria sempat diduduki Jerman pada Perang Dunia II, nyaris tanpa perlawanan. Setelah PD II usai, negara ini dibagi empat, mirip Jerman. Namun Austria hanya dianggap salah satu korban perang. Empat negara sekutu (Inggris, Perancis, Amerika Serikat, Uni Soviet) akhirnya mengembalikan kedaulatan negara ini sebagai republik yang bersatu (tak seperti Jerman yang dibagi dua); namun dengan perjanjian bahwa negara ini akan tetap netral.

Austria sudah jadi republik; namun kompleks istana kekaisaran Austria masih terpelihara rapi, dan digunakan untuk keperluan publik: museum, perpustakaan, tempat pameran, dll. Jadi, memang terdapat banyak sekali museum di Hofburg, dari museum seni, budaya rakyat, buku, botani, dll. Ditambah cuaca Wina yang sejuk dan kadang hangat, tempat ini benar2 membuat feel at home. Juga karena bendera kota Wina adalah Merah Putih seperti Indonesia. (Bendera Austria, tentu, adalah Merah-Putih-Merah).

Masih di sekitar Hofburg, mendadak terbaca nama Ruang Studi Wittgenstein. Haha. Mungkin bukan ruang studi yang pernah dipakai Ludwig Wittgenstein, tapi sekedar mengenang nama filsuf itu untuk ruang studi. Wittgenstein memang tumbuh besar di Wina. Ia pernah jadi matematikawan, fisikawan, veteran perang, guru SD, tapi akhirnya memilih jadi filsuf. Bukunya yang sangat berpengaruh adalah Tractatus Logico-Philosophicus. Pernah ada kelompok filsuf Lingkaran Wina (Der Wiener Kreis) yang begitu memujanya. Tapi Wittgenstein tak mau mengidentifikasikan diri sebagai bagian kelompok itu. Filsuf Karl Popper, yang berminat bergabung dengan Lingkaran Wina, justru ditolak. Itu membuat Karl Popper jadi penuh dendam dan selalu ingin mengalahkan Wittgenstein :).

Pusat kota Wina cukup besar juga. Tak bisa dihabisi dengan jalan kaki. Jadi iseng kami coba naik kereta kuda. Hey, kami kan turis. Kusir kereta kuda berlaku juga sebagai guide yang menceritakan tempat2 yang kami lalui. Di sini tempat Mozart pertama kali memainkan simfoni di Wina setelah datang dari Salzburg pada usia 6 tahun. Di sini ini itu, di sini bla bla bla. Toko buku di Wina banyak sekali, dari buku baru sampai buku bekas, dari toko buku modern sampai yang klasik dan kuno. Belum puas naik kereta kuda, kali ini aku coba naik tram. Dulu Jakarta, Bandung, Malang, dan kota2 di Indonesia sempat punya tram. Tapi lenyap seiring jatuhnya administrasi kebelandaan; dan tak dibangun lagi di zaman republik. Mungkin jalan tram dianggap lebih baik dipakai mobil pribadi atau mobil umum. Tapi kini di Jakarta jalannya dipotong permanen lagi, dedicated untuk Transjakarta. Kenapa nggak balik ke tram lagi ya? :).

Sore, kami ke Schloss Schönbrunn. Ini adalah satu istana peristirahatan milik kekaisaran. Tempat ini memiliki taman yang luas, kolam yang besar, dan aneka karya seni. Tapi kami ke Schloss Schönbrunn untuk menikmati musik kamar khas Wina. Performansi bukan dalam bentuk orkestra yang serius. Bertempat di ruang pertemuan yang besar, 15 pemain memainkan musik-musik khas Austria dari Mozart dan keluarga Strauss; dipimpin seorang konduktor. Seorang penyanyi tenor dan sopran kadang mengiringi. Suasananya santai, dan kadang penuh canda. Buat yang mau menikmati musik klasik yang menyenangkan, sambil tertawa dan bertepuk tangan, ini adalah performansi yang tepat :).

Hari berikutnya, kami bermain ke sekitar Stephanplatz. Keluar stasiun U-Bahn, kami langsung dihadapi pintu depan Stephansdom, atau Katedral St Stephan yang tinggi dan besar sekali. Katedral ini dikelilingi bangunan klasik, toko2 klasik, dan semacam bazaar tempat berbagai kerajinan diperjualbelikan. Kabur naik U-Bahn lagi, kami menuju Meidling. Kali ini suasananya seperti kota modern, tapi tetap tak terlalu ramai. Nyaman untuk berjalan2 sambil melihat suasana tenang dari penduduk setempat, minus turis2. Loh, padahal kami kan turis.

Lepas tengah hari, kami menuju Stasiun Wien Meidling, membeli tiket kereta ke arah Praha. Tiket ini tidak diberi jam atau nomor. Jadi aku boleh naik kereta yang mana saja, asal ke Praha. Maka kami memilih kereta Smetana pukul 14:33, dan dengan menyesal meninggalkan Wina. Menyesal, kerna cuma mencadangkan waktu yang singkat untuk berkenalan dengan kota ini. Tapi, kan namanya perkenalan. Lain hari tentu ada waktu untuk mengenal lebih jauh :).

Auf Wiederschauen, Wien! Terima kasih buat keramahannya yang tulus.

Wien

Dari pesawat Vuelling, aku bisa menikmati pemandangan pegunungan Alpen yang puncak dan lerengnya masih dipenuhi garis-garis salju di akhir musim semi ini. Namun tak lama pesawat mulai merendah, dan pemandangan berubah menjadi padang2 dan ladang hijau yang luas, diselingi kota2 dan desa2 kecil. Lalu pesawat mendarat di Flughafen Wien — Bandara Wina. Wien, Vienna, Vienne, atau biarlah kutulis versi Indonesianya: Wina. Ibukota Austria ini ada di timur laut negara; berada tak jauh dari kota Bratislava yang merupakan ibukota Slovenska.

Mendarat di sini, aku berharap mudah2an orang Austria mau berbahasa Inggris. Aku nggak bisa bahasa Jerman sepicing pun :D. Tapi harapanku terlaksana. Maklumat di Wina ditulis atau dilantunkan dwibahasa, dan nyaris semua warga segala usia mau berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Baru asik baca jadwal kereta ke kota Wina, aku ditawari naik taksi yang harganya tak berbeda jauh dengan kereta untuk dua orang. Wow :). Jadilah kami diantar private taxi itu ke hotel.

Hotel kami, Austria Trend Lasalle, berada dekat sungai Danube. Kami menikmati sore di tepi sungai. Berbeda dengan London dan Paris yang luar biasa panas; di Wina kami merasakan kembali suasana Eropa yang kami bayangkan: sejuk :). Wina menggunakan waktu yang sama dengan Paris, padahal posisinya jauh lebih timur. Maka di sini matahari terbenam 1 jam lebih cepat dari di Paris: sekitar pukul 20:40. Sungai Danube berwarna ungu, menampilkan bayangan langit senja. Tampak lebar. Padahal itu baru setengah sungai. Yang kami lihat di ujung bukan tepi sungai, tetapi sebenarnya pulau di tengah sungai. Bahkan sebelum melihat kota Wina, aku sudah berasa betah di sini. Tapi dinginnya mulai serius. Brrrr.

Hotel Lasalle sebenarnya tak terlalu murah. Tapi kami beroleh diskon cukup besar, jadi tak terasa mahal. Hotelnya bagus, keren, dengan fasilitas lengkap. Ini hotel dengan fasilitas terlengkap dalam perjalanan Eropa 2012 ini. Tapi ternyata kami masih kena charge untuk sarapan sebesar €15 per orang per pagi. Mahal ya? Resepsionis sangat helpful. Selain bisa menjawab berbagai hal tentang Wina, mereka juga bisa memesankan berbagai macam tiket, dan dapat menjual Vienna Card yang merupakan travel ticket untuk semua transportasi publik di Wina. Vienna Card berharga €19, dan dapat digunakan 3 hari setelah aktivasi awal. Aktivasi dapat dilakukan di stasiun U-Bahn atau di bis. Tapi, tiket ini cuma kami beli, diaktifkan, dan disimpan rapi di dompet. Semua pintu sudah terbuka tanpa harus menggunakan tiket ini; dan tidak ada satu petugaspun yang memeriksa tiket. Semua bekerja berdasar kepercayaan semata. Di Eropa bagian agak timur ini (Austria, Ceska, Jerman), tampaknya ini menjadi aturan umum; berbeda dengan di Inggris (Tube) atau Perancis (Metro, RER), dimana kita harus menggunakan tiket atau kartu untuk bisa masuk ke gerbang di stasiun.

Pagi, setelah menikmati sarapan yang sehat dan penuh buah2an :), kami menjelajah U-Bahn. Keluar di Karlplatz, kami langsung disambut oleh Wiener Staatsoper. Ini adalah tempat performansi reguler dari Wiener Philharmoniker; satu dari tiga orkestra terbaik di dunia (di samping Koninklijk Concertgebouw dan Berliner Philharmoniker). Tapi sayangnya, dalam hari kunjungan kami, sedang tidak ada konser menarik di sana.

Tak jauh dari Staatsoper, kami temui Hofburg, kompleks istana Dinasti Habsburg. Dinasti Habsburg adalah dinasti terakhir dari Kekaisaran Roma (Holy Roman Empire) yang berawal dari Charlemagne di Milenium I. Kekuasaan Roma ini bersejarah panjang dan tak selalu mulus: kadang turun temurun dan kadang memerlukan pemilihan dari para raja dan pangeran di Eropa; kadang memerlukan pengangkatan oleh Paus tapi seringkali juga tidak perlu. Kaisar terakhir yang berkuasa sebelum Dinasti Habsburg adalah Raja Bohemia Charles IV (akan kita temui peninggalannya di Praha) dan kemudian putranya Sigismund. Dinasti Habsburg berkuasa dari pertengahan abad ke-15 hingga abad ke-19, dengan kaisar terakhir Francis I. Sebagai reaksi atas melemahnya kekuasaan Roma, dan berkuasanya Napoleon sebagai Kaisar di Perancis; Kaisar Francis I  membentuk Kekaisaran Austria (Kaisertum Österreich). Kekaisaran ini masih melemah, dan kemudian direformasi di akhir abad ke-19 menjadi Kesatuan Kekaisaran Austria dan Kerajaan Hongaria (lupa nama aslinya). Kekaisaran Habsburg ini pun akhirnya melemah, mencoba menyusun konfigurasi baru dengan Perang Dunia I, namun kalah dan akhirnya runtuh; meninggalkan Republik Austria dan negara-negara di sekitarnya yang merdeka dari cengkeraman kekaisaran. Austria sempat diduduki Jerman pada Perang Dunia II, nyaris tanpa perlawanan. Setelah PD II usai, negara ini dibagi empat, mirip Jerman. Namun Austria hanya dianggap salah satu korban perang. Empat negara sekutu (Inggris, Perancis, Amerika Serikat, Uni Soviet) akhirnya mengembalikan kedaulatan negara ini sebagai republik yang bersatu (tak seperti Jerman yang dibagi dua); namun dengan perjanjian bahwa negara ini akan tetap netral.

Austria sudah jadi republik; namun kompleks istana kekaisaran Austria masih terpelihara rapi, dan digunakan untuk keperluan publik: museum, perpustakaan, tempat pameran, dll. Jadi, memang terdapat banyak sekali museum di Hofburg, dari museum seni, budaya rakyat, buku, botani, dll. Ditambah cuaca Wina yang sejuk dan kadang hangat, tempat ini benar2 membuat feel at home. Juga karena bendera kota Wina adalah Merah Putih seperti Indonesia. (Bendera Austria, tentu, adalah Merah-Putih-Merah).

Masih di sekitar Hofburg, mendadak terbaca nama Ruang Studi Wittgenstein. Haha. Mungkin bukan ruang studi yang pernah dipakai Ludwig Wittgenstein, tapi sekedar mengenang nama filsuf itu untuk ruang studi. Wittgenstein memang tumbuh besar di Wina. Ia pernah jadi matematikawan, fisikawan, veteran perang, guru SD, tapi akhirnya memilih jadi filsuf. Bukunya yang sangat berpengaruh adalah Tractatus Logico-Philosophicus. Pernah ada kelompok filsuf Lingkaran Wina (Der Wiener Kreis) yang begitu memujanya. Tapi Wittgenstein tak mau mengidentifikasikan diri sebagai bagian kelompok itu. Filsuf Karl Popper, yang berminat bergabung dengan Lingkaran Wina, justru ditolak. Itu membuat Karl Popper jadi penuh dendam dan selalu ingin mengalahkan Wittgenstein :).

Pusat kota Wina cukup besar juga. Tak bisa dihabisi dengan jalan kaki. Jadi iseng kami coba naik kereta kuda. Hey, kami kan turis. Kusir kereta kuda berlaku juga sebagai guide yang menceritakan tempat2 yang kami lalui. Di sini tempat Mozart pertama kali memainkan simfoni di Wina setelah datang dari Salzburg pada usia 6 tahun. Di sini ini itu, di sini bla bla bla. Toko buku di Wina banyak sekali, dari buku baru sampai buku bekas, dari toko buku modern sampai yang klasik dan kuno. Belum puas naik kereta kuda, kali ini aku coba naik tram. Dulu Jakarta, Bandung, Malang, dan kota2 di Indonesia sempat punya tram. Tapi lenyap seiring jatuhnya administrasi kebelandaan; dan tak dibangun lagi di zaman republik. Mungkin jalan tram dianggap lebih baik dipakai mobil pribadi atau mobil umum. Tapi kini di Jakarta jalannya dipotong permanen lagi, dedicated untuk Transjakarta. Kenapa nggak balik ke tram lagi ya? :).

Sore, kami ke Schloss Schönbrunn. Ini adalah satu istana peristirahatan milik kekaisaran. Tempat ini memiliki taman yang luas, kolam yang besar, dan aneka karya seni. Tapi kami ke Schloss Schönbrunn untuk menikmati musik kamar khas Wina. Performansi bukan dalam bentuk orkestra yang serius. Bertempat di ruang pertemuan yang besar, 15 pemain memainkan musik-musik khas Austria dari Mozart dan keluarga Strauss; dipimpin seorang konduktor. Seorang penyanyi tenor dan sopran kadang mengiringi. Suasananya santai, dan kadang penuh canda. Buat yang mau menikmati musik klasik yang menyenangkan, sambil tertawa dan bertepuk tangan, ini adalah performansi yang tepat :).

Hari berikutnya, kami bermain ke sekitar Stephanplatz. Keluar stasiun U-Bahn, kami langsung dihadapi pintu depan Stephansdom, atau Katedral St Stephan yang tinggi dan besar sekali. Katedral ini dikelilingi bangunan klasik, toko2 klasik, dan semacam bazaar tempat berbagai kerajinan diperjualbelikan. Kabur naik U-Bahn lagi, kami menuju Meidling. Kali ini suasananya seperti kota modern, tapi tetap tak terlalu ramai. Nyaman untuk berjalan2 sambil melihat suasana tenang dari penduduk setempat, minus turis2. Loh, padahal kami kan turis.

Lepas tengah hari, kami menuju Stasiun Wien Meidling, membeli tiket kereta ke arah Praha. Tiket ini tidak diberi jam atau nomor. Jadi aku boleh naik kereta yang mana saja, asal ke Praha. Maka kami memilih kereta Smetana pukul 14:33, dan dengan menyesal meninggalkan Wina. Menyesal, kerna cuma mencadangkan waktu yang singkat untuk berkenalan dengan kota ini. Tapi, kan namanya perkenalan. Lain hari tentu ada waktu untuk mengenal lebih jauh :).

Auf Wiederschauen, Wien! Terima kasih buat keramahannya yang tulus.