Transylvania

Punya domain KUN.CO.RO sejak tahun 2001, aku merasa punya kewajiban untuk berkunjung ke negeri yang jadi tuan rumah domain personalku ini: Romania. Namun ternyata banyak negeri lain yang harus dijelajahi, sehingga Romania akhirnya baru dikunjungi tahun ini. Airport di Romania yang terhubung ke luar negeri tidak banyak — hampir semua harus mendarat di Bucharest. Namun sehari setelah mendarat di Bucharest, aku memutuskan menjelajah jantung Romania: Transylvania.

 

Firenze

Tahun 2019 diproklamirkan sebagai 500 Tahun Renaissance — diperingati 500 tahun setelah wafatnya Leonardo da Vinci, Bapak Renaissance Dunia. Dan tentu kurang sempunya memperingati 2019 ini tanpa mengunjungi Ibukota Renaissance: Florence (Firenze), di Tuscany (Toscana), Italia.

Europe 2019 Plan

 

Tahun ini, kami merencanakan perjalanan keliling Eropa lagi. Dan kali ini, kami coba mengarah lebih timur lagi.

Rencana jalur perjananan:

  • Paris — tentu saja masih banyak artifak budaya yang belum dituntaskan di satu kota berjuta cerita ini. Kali ini kami akan berfokus pada kawasan Rive Gauche.
  • Genève — mengamati bagian Swiss yang berbudaya Perancis (khususnya Arpitan), dibandingkan kunjungan ke Zürich beberapa tahun lalu. Jika memungkinkan, akan disempatkan jalan ke Lausanne juga.
  • Firenze — ibukota renaissance, juga sekaligus ibukota Tuscany / Toscana.
  • Venezia — bagian akhir dari napak tilas Wagner sepanjang Leipzig, Dresden (2012), Zürich (2014), Bayreuth (2012), dan wafat di Venezia.
  • Bucuresti — ibukota negeri KUN.CO.RO, plus penjajakan ke Brasov dan negeri para Dracula.

 

 

Kurang variatif ya? Kenapa yang dikunjungi hanya kawasan-kawasan berbahasa Romance (French, Arpitan, Italian, Romanian), dibandingkan kunjungan sebelumnya yang disempatkan ke wilayah berbahasa Germanik, Slavia, Uralik (Finno/Ugrik)? Tenang — ada kunjungan berikutnya. Dan, paling-paling, kita pakai Bahasa Inggris juga di mana-mana, wkwkwk.

Visa Schengen telah diurus di Kedutaan Perancis. Memang pendaratan perdana adalah di Amsterdam Schiphol. Namun dari Schiphol, kami berencana naik Thalys antar negara (Belanda – Belgia – Perancis) untuk langsung tiba di kota Paris.

Perjalanan dari Indonesia ke Eropa akan menggunakan penerbangan kebanggaan nasional, Garuda Indonesia. Tiket diperoleh dengan menukarkan tabungan Garuda Miles, dibantu oleh diskon 50% dari Garuda untuk pembelian menggunakan Garuda Miles. Sebenarnya kami berencana terbang ke London untuk menjumpai tupai-tupai Greenwich; namun jadwal penerbangan Garuda yang memungkinkan adalah ke Amsterdam. Baiklah, tupai Greenwich bisa menunggu.

Europe 2019 Plan

 

Tahun ini, kami merencanakan perjalanan keliling Eropa lagi. Dan kali ini, kami coba mengarah lebih timur lagi.

Rencana jalur perjananan:

  • Paris — tentu saja masih banyak artifak budaya yang belum dituntaskan di satu kota berjuta cerita ini. Kali ini kami akan berfokus pada kawasan Rive Gauche.
  • Genève — mengamati bagian Swiss yang berbudaya Perancis (khususnya Arpitan), dibandingkan kunjungan ke Zürich beberapa tahun lalu. Jika memungkinkan, akan disempatkan jalan ke Lausanne juga.
  • Firenze — ibukota renaissance, juga sekaligus ibukota Tuscany / Toscana.
  • Venezia — bagian akhir dari napak tilas Wagner sepanjang Leipzig, Dresden (2012), Zürich (2014), Bayreuth (2012), dan wafat di Venezia.
  • Bucuresti — ibukota negeri KUN.CO.RO, plus penjajakan ke Brasov dan negeri para Dracula.

 

 

Kurang variatif ya? Kenapa yang dikunjungi hanya kawasan-kawasan berbahasa Romance (French, Arpitan, Italian, Romanian), dibandingkan kunjungan sebelumnya yang disempatkan ke wilayah berbahasa Germanik, Slavia, Uralik (Finno/Ugrik)? Tenang — ada kunjungan berikutnya. Dan, paling-paling, kita pakai Bahasa Inggris juga di mana-mana, wkwkwk.

Visa Schengen telah diurus di Kedutaan Perancis. Memang pendaratan perdana adalah di Amsterdam Schiphol. Namun dari Schiphol, kami berencana naik Thalys antar negara (Belanda – Belgia – Perancis) untuk langsung tiba di kota Paris.

Perjalanan dari Indonesia ke Eropa akan menggunakan penerbangan kebanggaan nasional, Garuda Indonesia. Tiket diperoleh dengan menukarkan tabungan Garuda Miles, dibantu oleh diskon 50% dari Garuda untuk pembelian menggunakan Garuda Miles. Sebenarnya kami berencana terbang ke London untuk menjumpai tupai-tupai Greenwich; namun jadwal penerbangan Garuda yang memungkinkan adalah ke Amsterdam. Baiklah, tupai Greenwich bisa menunggu.

Méridien de Paris

Biasanya aku mengaitkan sebuah kota dengan sebuah buku, sepotong musik, atau seorang tokoh. Tapi kota Paris punya sejarah panjang dan cerita yang kompleks. Beberapa kunjungan sebelumnya aku kaitkan dengan para filsuf, para ilmuwan, para penulis. Kali ini, aku mengambil tema seorang tokoh bernama François Arago.

Arago adalah seorang matematikawan, fisikawan, astronom, dan politisi Perancis. Di sekitar masa revolusi Perancis, ia bahkan sempat beberapa bulan menjadi semacam Perdana Menteri Perancis. Dalam bidang fisika, ia menjadi kontroversi saat mendukung teori cahaya sebagai gelombang. Permainannya yang lain adalah mencari kaitan benda bermuatan yang berputar terhadap logam magnetik. Tapi, di atas semua itu, ia paling dikenal sebagai Direktur Observatorium Paris.

Observatorium

Observatorium Paris didirikan di sekitar kawasan Montparnasse pada masa Raja Louis XIV di tahun 1667. Salah satu misi yang diemban observatorium itu adalah memperbaiki ketepatan perangkat dan peta untuk keperluan navigasi. Salah satu yang dilakukan adalah memastikan ketepatan posisi garis bujur (Utara – Selatan). Titik ukur, di tengah Observatoium Paris itu, kemudian menjadi garis meridian Paris, dan menjadi bakuan negara Perancis atas bujur nol derajat.

Saat Arago menjadi sekretaris di Observatorium itu, tugasnya adalah menentukan ketepatan garis meridian lebih jauh lagi. Ia menjelajah ke Catalonia, yaitu kota Barcelona (yang dilewati garis bujur ini), hingga ke Formentera (bagian dari Kepulauan Balearik). Sisi penting garis meridian ini adalah pada saat Perancis mengubah satuan-satuan fisika menjadi satuan metrik, yang menggantikan satuan imperial. Satuan panjang, yaitu satu meter, didefinisikan sebagai satu per sepuluh juta jarak dari kutub utara ke khatulistiwa, melalui meridian kota Paris. Secara spesifik, pengukuran dilakukan dari kota Dunkerque ke Barcelona.

Dunia internasional kemudian lebih memilih Prime Meridian (yaitu garis meridian yang melewati Greenwich di UK) pada 1884, menggantikan meridian Paris. Namun Perancis masih menggunakan meridian Paris hingga 1911. Meridian Paris terletak 2º 20’ 14” dari Prime Meridian. Posisi ini masih teramati dengan dipasangnya tanda berupa seratusan lempeng perunggu di jalan, trotoar, dan taman di sepanjang garis meridian ini. Piringan perunggu ini dinamai medali-medali Arago.

Penjelajahan garis meridian Paris bisa dimulai dari Observatorium Paris. Sedikit di sebelah kompleks observatorium, terdapat monumen Arago, dengan medali Arago berada sebagai bagian dari prasasti monumen itu.

Arago-v02

Memasuki kawasan observatorium, sebuah garis membelah taman, menunjukkan garis meridian.

Rumput
Sayangnya, aku datang pada hari yang kurang tepat. Observatorium (dan berbgai musium menarik lain di Paris) sedang ditutup di masa liburan musim panas. Padahal di dalamnya tersimpan jam atom sebagai pengukur waktu detik standar, serta standar metriks lainnya.

Di depan observatorium, sebuah boulevard dipisahkan taman rumput yang menandakan garis meridian. Kemudian jalan melebar. Beberapa patung dan monumen memisahkan jalan, dan semua berfungsi sebagai penanda garis meridian juga.

FrancisGarnier

Menyusuri garis ini, kita akan masuk ke Jardin de Luxembourg (taman Luxembourg) yang terkenal asri dan indah. Beberapa monumen masih dipasang di garis meridian ini. Kemudian sebuah lapangan rumput luas yang tidak boleh diinjak.

Jardin

Di ujung lapangan, kita dapat menemui kolam yang segar dengan kursi-kursi santai untuk para pengunjung. Hey, kita harus menikmati keindahan kota ini dulu sebelum meneruskan penjelajahan =).

JardindeLuxembourg

Trus beranjak ke utara. garis meridian ini melintasi puncak gedung senat, melewati Rue Garancière dan Boulevard Saint Germain, menyeberangi sungai Seine, dan masuk ke Museum Louvre. Di sini, piramid kaca besar di tengah halaman Louvre dipasang telat di garis meridian ini.

Melintasi piramid kaca, kita masih akan menemukan medali Arago lagi, terus mengarah ke utara, hingga ke dekat Gedung Opera.

Arago-v01

Trus … mungkin aku cerita dulu tentang opera. Lain hari kita sambung tentang Arago dan garis meridian Paris ini yah.

Méridien de Paris

Biasanya aku mengaitkan sebuah kota dengan sebuah buku, sepotong musik, atau seorang tokoh. Tapi kota Paris punya sejarah panjang dan cerita yang kompleks. Beberapa kunjungan sebelumnya aku kaitkan dengan para filsuf, para ilmuwan, para penulis. Kali ini, aku mengambil tema seorang tokoh bernama François Arago.

Arago adalah seorang matematikawan, fisikawan, astronom, dan politisi Perancis. Di sekitar masa revolusi Perancis, ia bahkan sempat beberapa bulan menjadi semacam Perdana Menteri Perancis. Dalam bidang fisika, ia menjadi kontroversi saat mendukung teori cahaya sebagai gelombang. Permainannya yang lain adalah mencari kaitan benda bermuatan yang berputar terhadap logam magnetik. Tapi, di atas semua itu, ia paling dikenal sebagai Direktur Observatorium Paris.

Observatorium

Observatorium Paris didirikan di sekitar kawasan Montparnasse pada masa Raja Louis XIV di tahun 1667. Salah satu misi yang diemban observatorium itu adalah memperbaiki ketepatan perangkat dan peta untuk keperluan navigasi. Salah satu yang dilakukan adalah memastikan ketepatan posisi garis bujur (Utara – Selatan). Titik ukur, di tengah Observatoium Paris itu, kemudian menjadi garis meridian Paris, dan menjadi bakuan negara Perancis atas bujur nol derajat.

Saat Arago menjadi sekretaris di Observatorium itu, tugasnya adalah menentukan ketepatan garis meridian lebih jauh lagi. Ia menjelajah ke Catalonia, yaitu kota Barcelona (yang dilewati garis bujur ini), hingga ke Formentera (bagian dari Kepulauan Balearik). Sisi penting garis meridian ini adalah pada saat Perancis mengubah satuan-satuan fisika menjadi satuan metrik, yang menggantikan satuan imperial. Satuan panjang, yaitu satu meter, didefinisikan sebagai satu per sepuluh juta jarak dari kutub utara ke khatulistiwa, melalui meridian kota Paris. Secara spesifik, pengukuran dilakukan dari kota Dunkerque ke Barcelona.

Dunia internasional kemudian lebih memilih Prime Meridian (yaitu garis meridian yang melewati Greenwich di UK) pada 1884, menggantikan meridian Paris. Namun Perancis masih menggunakan meridian Paris hingga 1911. Meridian Paris terletak 2º 20’ 14” dari Prime Meridian. Posisi ini masih teramati dengan dipasangnya tanda berupa seratusan lempeng perunggu di jalan, trotoar, dan taman di sepanjang garis meridian ini. Piringan perunggu ini dinamai medali-medali Arago.

Penjelajahan garis meridian Paris bisa dimulai dari Observatorium Paris. Sedikit di sebelah kompleks observatorium, terdapat monumen Arago, dengan medali Arago berada sebagai bagian dari prasasti monumen itu.

Arago-v02

Memasuki kawasan observatorium, sebuah garis membelah taman, menunjukkan garis meridian.

Rumput
Sayangnya, aku datang pada hari yang kurang tepat. Observatorium (dan berbgai musium menarik lain di Paris) sedang ditutup di masa liburan musim panas. Padahal di dalamnya tersimpan jam atom sebagai pengukur waktu detik standar, serta standar metriks lainnya.

Di depan observatorium, sebuah boulevard dipisahkan taman rumput yang menandakan garis meridian. Kemudian jalan melebar. Beberapa patung dan monumen memisahkan jalan, dan semua berfungsi sebagai penanda garis meridian juga.

FrancisGarnier

Menyusuri garis ini, kita akan masuk ke Jardin de Luxembourg (taman Luxembourg) yang terkenal asri dan indah. Beberapa monumen masih dipasang di garis meridian ini. Kemudian sebuah lapangan rumput luas yang tidak boleh diinjak.

Jardin

Di ujung lapangan, kita dapat menemui kolam yang segar dengan kursi-kursi santai untuk para pengunjung. Hey, kita harus menikmati keindahan kota ini dulu sebelum meneruskan penjelajahan =).

JardindeLuxembourg

Trus beranjak ke utara. garis meridian ini melintasi puncak gedung senat, melewati Rue Garancière dan Boulevard Saint Germain, menyeberangi sungai Seine, dan masuk ke Museum Louvre. Di sini, piramid kaca besar di tengah halaman Louvre dipasang telat di garis meridian ini.

Melintasi piramid kaca, kita masih akan menemukan medali Arago lagi, terus mengarah ke utara, hingga ke dekat Gedung Opera.

Arago-v01

Trus … mungkin aku cerita dulu tentang opera. Lain hari kita sambung tentang Arago dan garis meridian Paris ini yah.

Berlin

Berlin dingin dan berangin, membuat aku lupa bahwa baru beberapa hari sebelumnya aku tersengat matahari di London dan Paris. Hampir dua minggu berjalan kaki dengan lutut cedera, bikin aku agak manja. Dari terminal bis, aku memilih naik taksi ke Hotel Altberlin di kawasan Potsdamer Platz di pusat kota Berlin. Dan kayaknya, selama di Euro Area ini, selain dari Vienna Airport, aku selalu bayar taksi sebesar €15.

Hotel Altberlin bergaya klasik, tapi bukan yang bergaya keren kayak Lohmühle di Bayreuth. Kesannya malah kekar dan angker, mirip peninggalan zaman perang. Ah, tapi memang sejarah Jerman sebelum reunifikasi selalu berisi perang; dari penyatuan Jerman, PD I, PD II, hingga Perang Dingin. Brrrr. Hal2 ini tampaknya membuat penduduk Jerman masa kini lebih bergaya individualis (dalam arti tidak berminat mengatur hidup orang lain) dan toleran.

Karena belum terlalu lelah, kami malah jadi punya waktu untuk menikmati sore Berlin, yang biarpun sejuk tapi masih menampilkan langit dan awan berwarna  warni. Di peta, Hotel Altberlin berada tak jauh dari Berliner Philharmoniker. Jadi kuputuskan untuk berjalan ke arah sana. Ternyata cukup jalan 10 menit saja untuk sampai. Di sana, aku memilah2 program yang bisa ditampilkan, dan memutuskan untuk menyaksikan satu performansi orkestra di malam berikutnya. Jalan2 diteruskan. Berliner Philharmoniker merupakan gedung bergaya seni modern, terletak dalam kompleks yang bertetangga dengan Museum Musik, di depan Sony Centre. Cahaya matahari yang dipantulkan kaca di Sony Centre membuat warna coklat kuning di kompleks ini tampak seperti negeri dongeng.

Acara menunggu matahari terbenam sore itu dilanjutkan di sekitar Potsdamer Platz. Karena kami berada di pusat kota, maka kami juga berada di sekitar bekas tembol yang memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur, bekas masa Perang Dingin itu. Brrr. Di atas stasiun Potzdamer Platz kami melihat sisa2 tempok, bagian sangat kecil yang sengaja tidak diruntuhkan untuk jadi monumen.

Menyusuri sisa tembok, kami sampai di Gerbang Brandenburg (Branderburg Tor) yang merupakan landmark Jerman. Dulu, ini adalah satu dari sekian banyak gerbang kota Berlin. Tapi yang satu ini posisinya paling menarik: menghadap Tiergarten yang merupakan taman dan hutan yang sangat luas di tengah Berlin. Hutan luas di tengah kota — memang menarik :). Selama Perang Dingin (brrrr), gerbang ini terkurung pagar dan tak dapat bebas diakses kecuali oleh pejabat dari Blok Timur. Maka runtuhnya tembok, dan kemudian bersatunya Jerman (dan Berlin) dulu dirayakan besar2an secara simbolik di Gerbang Brandenburg ini. Namun gerbang ini kini bersuasana tenang dan damai. Di sekitarnya adalah kompleks2 pemerintahan dan kedutaan2 (termasuk Kedutaan AS tepat di sebelah gerbang).

Matahari tenggelam, dan nyaris tengah malam lagi. Melawan udara yang makin dingin, kami segera kembali ke Altberlin; kali ini naik bis.

Hari berikutnya, kami mau iseng mencobai transportasi umum di Berlin. Hotel Altberlin sungguh strategis: ada halte bis tepat di depan pintunya. Membeli Tageskarte (One day card) seharga €6.3, kami bisa naik bis, tram, U-Bahn, dan S-Bahn di dalam kota. Ternyata U-Bahn kadang ada di atas tanah, dan S-Bahn pun sering tenggelam di dalam tanah. Kami menjelajah bagian utara Berlin, dan mengunjungi Museum für Naturkunde, atau Museum Sains. Kami memang tak pernah bosan mengunjungi museum sains di manapun. Semua memiliki keunikan, baik materi, fokus perhatian, maupun metode menyampaikan informasi ilmiah secara populer kepada pengunjung.

Di museum ini, kita disambut oleh tiga dinosaurus raksasa. Aku rasa seharusnya aku bawa keponakan2ku, yang pasti hafal nama2 hewan raksasa yang malang itu. Di dalam, sebuah globe besar yang cukup presisi ditempel sebuah layar besar. Layar bergerak di atas globe, menampilkan sebuah bagian bumi, dan menceritakan sejarah geologi hingga ekologi yang berkaitan dengan visual bagian bumi itu. Cara yang kreatif. Bisa berjam2 aku di bagian itu, kalau tidak tertarik oleh penasaran pada ruang2 lain.

Di samping, ada penjelajahan tatasurya dan galaksi. Tapi aku suka melihat bagian sampingnya; tentang elemen2, dan bagaimana mereka bisa berada di bumi. Ada bagian yang mengingatkan aku pada sebuah diskusi di pengajian beberapa tahun lalu; bagaimana Al-Quran menyebutkan secara eksplisit bahwa besi itu diturunkan (dari atas, dari angkasa). Besi tidak mungkin diciptakan dengan tekanan dari benda sebesar planet atau bintang kecil. Harus ada bintang yang cukup besar, menyusun fusi jutaan tahun membentuk helium hingga karbon dan besi; kemudian ia harus meledak atau bertabrakan dengan bintang lain, melepas elemen2 relatif berat itu, dan suatu dari sebagian kecil kabutnya membentuk tatasurya atau bagian tatasurya yang baru, termasuk bumi. Di museum itu ditampilkan persentase probabilitas (dan bisa berarti distribusi) elemen di semesta; akibat proses fusi, ledakan dan penggabungan, peluruhan, fisi, dll.

Di belakang, adalah hewan2 yang diawetkan. Mirip museum zoologi di Bogor. Tapi lebih lengkap. Di ujung lain dari museum, ada pameran tentang kota Berlin. Hewan2 liar apa saja yang dapat ditemui di Berlin. Antara lain ada tupai merah :). Yang ini konon jauh lebih pemalu daripada rekan2nya tupai kelabu di Amerika dan Britania. Tapi di taman2 makam2 di sekitar Berlin, mereka cukup jinak karena sering berinteraksi dengan manusia. Ada juga rubah, dan bahkan celeng. Wah, Obelix bakal bahagia tinggal di sini. Di Paris mana ada mamalia liar — cuma ada burung2 gagak.

Berikutnya, menyusuri jalan2; trus kembali dengan S-Bahn ke Potsdamer Platz, dan seharusnya kembali ke hotel dengan bis. Tapi, ini benar2 ajaib. Bis di Berlin bukan saja bisa terlambat, atau sangat terlambat, tapi juga bisa cancel. Aku gak tahu ada apa di sisi kota yang lain; tapi semua bis ke arah hotelku ditunda atau dibatalkan. Tapi, tentu, cuma perlu 20 menit berjalan kaki untuk sampai di hotel.

Sore, rintik membasahi Berlin. Kami menembus rintik dengan bis disambung jalan kaki ke Berliner Philharmoniker lagi. Sedikit antri, kami dicecar di loket: cuma ada tiket mahal €80 dan tiket berdiri lho, katanya. Lho, mereka pikir berapa harga tiket di Wina, misalnya. Atau tiket pesawat ke Berlin. Tapi melihat setelan sebagian besar penonton yang agak hingga sangat resmi, dan membandingkan dengan kami yang mengenakan jaket sederhana (tapi rapi loh), plus badan kami yang kecil mungil, aku jadi berprasangka: jangan2 kami dituduh mahasiswa. Tapi kami akhirnya bisa dapat tiket.

Berliner Philharmoniker malam itu memainkan Missa Solemnis dari Beethoven. Sebagai choir adalah Bayerischer Rundfunk. Dan sebagai konduktor adalah Herbert Blomstedt. Mr Blomstedt lahir di tahun 1920an. Waktu Mama aku berusia 5 tahun, Mr Blomstedt sudah memperoleh gelar konduktor terbaik se-Eropa. Dan hingga tahun 2012 ini beliau masik aktif memimpin orkestra salah satu karya mutakhir Beethoven.

Missa Solemnis dianggap Beethoven sendiri sebagai salah satu karya puncaknya. Ia ditulis pada masa yang sama dengan Simfoni Kesembilan. Saat menulis karya ini, Beethoven sedang dalam masa krisis. Ketuliannya mengganggu aktivitasnya menyusun komposisi musik, sekaligus membuatnya makin terisolasi dari masyarakat. Pada masa ini, ia menyusun String Quarter terakhir, Simfoni Kesembilan, dan Missa Solemnis. Dari segi ide, mungkin memang ada kaitan antara melankoli Beethoven masa itu dengan keinginannya untuk lebih dekat pada Tuhan. Namun yang terdengar justru adalah kedalaman dan variasi yang luar biasa dari pikiran dan perasaan Beethoven sendiri. Strukturnya, tentu berbeda dengan simfoni-simfoni Beethoven. Keterasingan struktur ini (buat aku), justru menambah misteri karya besar ini.

Hari berikutnya, ke Tiersgarten, dan disusul persiapan pulang :). Dalam plan, memang Berlin tak terlalu diseriusi. Mirip terminal akhir tempat pulang. Tapi jelas Berlin bukan kota yang patut diabaikan. Kota ini memiliki keteraturan yang menarik, penduduk yang berdisiplin, dan memberikan perasaan kemerdekaan berkeksplorasi yang belum dapat diberikan oleh ibukota negara2 besar lain di Eropa (mis London dan Paris).

Sebenarnya, di awal Juni ini, bandara2 eks Berlin Barat dan Berlin Timur akan ditutup, menyusul dibukanya Brandenburg Airport yang baru dan besar. Namun ternyata pesawat kami masih akan diterbangkan dari Bandara Tegel. Aku tergoda naik taksi lagi ke Bandara Tegel. Lokasinya tak jauh dari kota, sopir taksi di Berlin gak bandel2 amat, dan kami punya 2 koper. Paling €30 – €40. Tapi, mendadak ada godaan lain, yaitu mencoba menggunakan transport umum nan lapang itu untuk ke airport bawa koper. Tentu waktunya dipilih sebelum para pekerja di Berlin pulang dari kantor :). Kami masih punya Tageskarte. Ini kami pakai naik bis ke S-Bahn, naik S-Bahn ke stasiun terakhir dekat airport, dan naik airport bus. Wow, dengan kartu ex jalan2 pagi hari itu, kami bisa sampai di Tegel Airport tanpa membayar apa pun! :)

Tegel Airport itu mungil. Memang sudah harus dipindahkan, atau dijadikan terminal domestik saja. Beristirahat di Starbucks (anggaplah Airport Lounge, wkwk); lalu check-in. Untuk check-in, kami boleh melewati antrean panjang, kerna sudah melakukan mobile check-in. Langsung masuk port di belakang tempat check-in, satu orang petugas imigrasi sudah menunggu untuk memeriksa paspor kami. Ia menghitung lama kami tinggal di Eropa menggunakan jari tangan. Wkwkwk. Dan begitu lolos, kami sudah di ruang persiapan boarding. Memang bandara mini yang unik, berbeda dengan semua bandara internasional. Tapi mungkin ini kali terakhir kami melihat Tegel Airport.

Selanjutnya …. kembali ke negeri kesayangan kami …. Indonesia :)

Berlin

Berlin dingin dan berangin, membuat aku lupa bahwa baru beberapa hari sebelumnya aku tersengat matahari di London dan Paris. Hampir dua minggu berjalan kaki dengan lutut cedera, bikin aku agak manja. Dari terminal bis, aku memilih naik taksi ke Hotel Altberlin di kawasan Potsdamer Platz di pusat kota Berlin. Dan kayaknya, selama di Euro Area ini, selain dari Vienna Airport, aku selalu bayar taksi sebesar €15.

Hotel Altberlin bergaya klasik, tapi bukan yang bergaya keren kayak Lohmühle di Bayreuth. Kesannya malah kekar dan angker, mirip peninggalan zaman perang. Ah, tapi memang sejarah Jerman sebelum reunifikasi selalu berisi perang; dari penyatuan Jerman, PD I, PD II, hingga Perang Dingin. Brrrr. Hal2 ini tampaknya membuat penduduk Jerman masa kini lebih bergaya individualis (dalam arti tidak berminat mengatur hidup orang lain) dan toleran.

Karena belum terlalu lelah, kami malah jadi punya waktu untuk menikmati sore Berlin, yang biarpun sejuk tapi masih menampilkan langit dan awan berwarna  warni. Di peta, Hotel Altberlin berada tak jauh dari Berliner Philharmoniker. Jadi kuputuskan untuk berjalan ke arah sana. Ternyata cukup jalan 10 menit saja untuk sampai. Di sana, aku memilah2 program yang bisa ditampilkan, dan memutuskan untuk menyaksikan satu performansi orkestra di malam berikutnya. Jalan2 diteruskan. Berliner Philharmoniker merupakan gedung bergaya seni modern, terletak dalam kompleks yang bertetangga dengan Museum Musik, di depan Sony Centre. Cahaya matahari yang dipantulkan kaca di Sony Centre membuat warna coklat kuning di kompleks ini tampak seperti negeri dongeng.

Acara menunggu matahari terbenam sore itu dilanjutkan di sekitar Potsdamer Platz. Karena kami berada di pusat kota, maka kami juga berada di sekitar bekas tembol yang memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur, bekas masa Perang Dingin itu. Brrr. Di atas stasiun Potzdamer Platz kami melihat sisa2 tempok, bagian sangat kecil yang sengaja tidak diruntuhkan untuk jadi monumen.

Menyusuri sisa tembok, kami sampai di Gerbang Brandenburg (Branderburg Tor) yang merupakan landmark Jerman. Dulu, ini adalah satu dari sekian banyak gerbang kota Berlin. Tapi yang satu ini posisinya paling menarik: menghadap Tiergarten yang merupakan taman dan hutan yang sangat luas di tengah Berlin. Hutan luas di tengah kota — memang menarik :). Selama Perang Dingin (brrrr), gerbang ini terkurung pagar dan tak dapat bebas diakses kecuali oleh pejabat dari Blok Timur. Maka runtuhnya tembok, dan kemudian bersatunya Jerman (dan Berlin) dulu dirayakan besar2an secara simbolik di Gerbang Brandenburg ini. Namun gerbang ini kini bersuasana tenang dan damai. Di sekitarnya adalah kompleks2 pemerintahan dan kedutaan2 (termasuk Kedutaan AS tepat di sebelah gerbang).

Matahari tenggelam, dan nyaris tengah malam lagi. Melawan udara yang makin dingin, kami segera kembali ke Altberlin; kali ini naik bis.

Hari berikutnya, kami mau iseng mencobai transportasi umum di Berlin. Hotel Altberlin sungguh strategis: ada halte bis tepat di depan pintunya. Membeli Tageskarte (One day card) seharga €6.3, kami bisa naik bis, tram, U-Bahn, dan S-Bahn di dalam kota. Ternyata U-Bahn kadang ada di atas tanah, dan S-Bahn pun sering tenggelam di dalam tanah. Kami menjelajah bagian utara Berlin, dan mengunjungi Museum für Naturkunde, atau Museum Sains. Kami memang tak pernah bosan mengunjungi museum sains di manapun. Semua memiliki keunikan, baik materi, fokus perhatian, maupun metode menyampaikan informasi ilmiah secara populer kepada pengunjung.

Di museum ini, kita disambut oleh tiga dinosaurus raksasa. Aku rasa seharusnya aku bawa keponakan2ku, yang pasti hafal nama2 hewan raksasa yang malang itu. Di dalam, sebuah globe besar yang cukup presisi ditempel sebuah layar besar. Layar bergerak di atas globe, menampilkan sebuah bagian bumi, dan menceritakan sejarah geologi hingga ekologi yang berkaitan dengan visual bagian bumi itu. Cara yang kreatif. Bisa berjam2 aku di bagian itu, kalau tidak tertarik oleh penasaran pada ruang2 lain.

Di samping, ada penjelajahan tatasurya dan galaksi. Tapi aku suka melihat bagian sampingnya; tentang elemen2, dan bagaimana mereka bisa berada di bumi. Ada bagian yang mengingatkan aku pada sebuah diskusi di pengajian beberapa tahun lalu; bagaimana Al-Quran menyebutkan secara eksplisit bahwa besi itu diturunkan (dari atas, dari angkasa). Besi tidak mungkin diciptakan dengan tekanan dari benda sebesar planet atau bintang kecil. Harus ada bintang yang cukup besar, menyusun fusi jutaan tahun membentuk helium hingga karbon dan besi; kemudian ia harus meledak atau bertabrakan dengan bintang lain, melepas elemen2 relatif berat itu, dan suatu dari sebagian kecil kabutnya membentuk tatasurya atau bagian tatasurya yang baru, termasuk bumi. Di museum itu ditampilkan persentase probabilitas (dan bisa berarti distribusi) elemen di semesta; akibat proses fusi, ledakan dan penggabungan, peluruhan, fisi, dll.

Di belakang, adalah hewan2 yang diawetkan. Mirip museum zoologi di Bogor. Tapi lebih lengkap. Di ujung lain dari museum, ada pameran tentang kota Berlin. Hewan2 liar apa saja yang dapat ditemui di Berlin. Antara lain ada tupai merah :). Yang ini konon jauh lebih pemalu daripada rekan2nya tupai kelabu di Amerika dan Britania. Tapi di taman2 makam2 di sekitar Berlin, mereka cukup jinak karena sering berinteraksi dengan manusia. Ada juga rubah, dan bahkan celeng. Wah, Obelix bakal bahagia tinggal di sini. Di Paris mana ada mamalia liar — cuma ada burung2 gagak.

Berikutnya, menyusuri jalan2; trus kembali dengan S-Bahn ke Potsdamer Platz, dan seharusnya kembali ke hotel dengan bis. Tapi, ini benar2 ajaib. Bis di Berlin bukan saja bisa terlambat, atau sangat terlambat, tapi juga bisa cancel. Aku gak tahu ada apa di sisi kota yang lain; tapi semua bis ke arah hotelku ditunda atau dibatalkan. Tapi, tentu, cuma perlu 20 menit berjalan kaki untuk sampai di hotel.

Sore, rintik membasahi Berlin. Kami menembus rintik dengan bis disambung jalan kaki ke Berliner Philharmoniker lagi. Sedikit antri, kami dicecar di loket: cuma ada tiket mahal €80 dan tiket berdiri lho, katanya. Lho, mereka pikir berapa harga tiket di Wina, misalnya. Atau tiket pesawat ke Berlin. Tapi melihat setelan sebagian besar penonton yang agak hingga sangat resmi, dan membandingkan dengan kami yang mengenakan jaket sederhana (tapi rapi loh), plus badan kami yang kecil mungil, aku jadi berprasangka: jangan2 kami dituduh mahasiswa. Tapi kami akhirnya bisa dapat tiket.

Berliner Philharmoniker malam itu memainkan Missa Solemnis dari Beethoven. Sebagai choir adalah Bayerischer Rundfunk. Dan sebagai konduktor adalah Herbert Blomstedt. Mr Blomstedt lahir di tahun 1920an. Waktu Mama aku berusia 5 tahun, Mr Blomstedt sudah memperoleh gelar konduktor terbaik se-Eropa. Dan hingga tahun 2012 ini beliau masik aktif memimpin orkestra salah satu karya mutakhir Beethoven.

Missa Solemnis dianggap Beethoven sendiri sebagai salah satu karya puncaknya. Ia ditulis pada masa yang sama dengan Simfoni Kesembilan. Saat menulis karya ini, Beethoven sedang dalam masa krisis. Ketuliannya mengganggu aktivitasnya menyusun komposisi musik, sekaligus membuatnya makin terisolasi dari masyarakat. Pada masa ini, ia menyusun String Quarter terakhir, Simfoni Kesembilan, dan Missa Solemnis. Dari segi ide, mungkin memang ada kaitan antara melankoli Beethoven masa itu dengan keinginannya untuk lebih dekat pada Tuhan. Namun yang terdengar justru adalah kedalaman dan variasi yang luar biasa dari pikiran dan perasaan Beethoven sendiri. Strukturnya, tentu berbeda dengan simfoni-simfoni Beethoven. Keterasingan struktur ini (buat aku), justru menambah misteri karya besar ini.

Hari berikutnya, ke Tiersgarten, dan disusul persiapan pulang :). Dalam plan, memang Berlin tak terlalu diseriusi. Mirip terminal akhir tempat pulang. Tapi jelas Berlin bukan kota yang patut diabaikan. Kota ini memiliki keteraturan yang menarik, penduduk yang berdisiplin, dan memberikan perasaan kemerdekaan berkeksplorasi yang belum dapat diberikan oleh ibukota negara2 besar lain di Eropa (mis London dan Paris).

Sebenarnya, di awal Juni ini, bandara2 eks Berlin Barat dan Berlin Timur akan ditutup, menyusul dibukanya Brandenburg Airport yang baru dan besar. Namun ternyata pesawat kami masih akan diterbangkan dari Bandara Tegel. Aku tergoda naik taksi lagi ke Bandara Tegel. Lokasinya tak jauh dari kota, sopir taksi di Berlin gak bandel2 amat, dan kami punya 2 koper. Paling €30 – €40. Tapi, mendadak ada godaan lain, yaitu mencoba menggunakan transport umum nan lapang itu untuk ke airport bawa koper. Tentu waktunya dipilih sebelum para pekerja di Berlin pulang dari kantor :). Kami masih punya Tageskarte. Ini kami pakai naik bis ke S-Bahn, naik S-Bahn ke stasiun terakhir dekat airport, dan naik airport bus. Wow, dengan kartu ex jalan2 pagi hari itu, kami bisa sampai di Tegel Airport tanpa membayar apa pun! :)

Tegel Airport itu mungil. Memang sudah harus dipindahkan, atau dijadikan terminal domestik saja. Beristirahat di Starbucks (anggaplah Airport Lounge, wkwk); lalu check-in. Untuk check-in, kami boleh melewati antrean panjang, kerna sudah melakukan mobile check-in. Langsung masuk port di belakang tempat check-in, satu orang petugas imigrasi sudah menunggu untuk memeriksa paspor kami. Ia menghitung lama kami tinggal di Eropa menggunakan jari tangan. Wkwkwk. Dan begitu lolos, kami sudah di ruang persiapan boarding. Memang bandara mini yang unik, berbeda dengan semua bandara internasional. Tapi mungkin ini kali terakhir kami melihat Tegel Airport.

Selanjutnya …. kembali ke negeri kesayangan kami …. Indonesia :)

UEFA Euro 2012

Wow! Ternyata, dari 5 negara yang kami kunjungi dalam sesi Europe 2012, empat di antaranya masuk Perempat Final dalam UEFA Euro 2012! Kejutan memang terjadi pada Ceska, yang sempat kalah 1-4 dari Russia di awal kompetisi; tapi ia cepat mengejar ketinggalan dengan mengalahkan Polandia, sementara Russia justru kalah melawan Yunani.

Satu negara lagi, Austria, malah tidak lolos kualifikasi untuk Euro 2012. Well, on ne peut pas bon en tout. Tapi, kata taxi driver di Wina sendiri: “Rakyat kami memang lebih suka musik dan menyanyi daripada sepakbola.” Wkwkwk. Masa sih?

UEFA Euro 2012

Wow! Ternyata, dari 5 negara yang kami kunjungi dalam sesi Europe 2012, empat di antaranya masuk Perempat Final dalam UEFA Euro 2012! Kejutan memang terjadi pada Ceska, yang sempat kalah 1-4 dari Russia di awal kompetisi; tapi ia cepat mengejar ketinggalan dengan mengalahkan Polandia, sementara Russia justru kalah melawan Yunani.

Satu negara lagi, Austria, malah tidak lolos kualifikasi untuk Euro 2012. Well, on ne peut pas bon en tout. Tapi, kata taxi driver di Wina sendiri: “Rakyat kami memang lebih suka musik dan menyanyi daripada sepakbola.” Wkwkwk. Masa sih?