Transylvania

Punya domain KUN.CO.RO sejak tahun 2001, aku merasa punya kewajiban untuk berkunjung ke negeri yang jadi tuan rumah domain personalku ini: Romania. Namun ternyata banyak negeri lain yang harus dijelajahi, sehingga Romania akhirnya baru dikunjungi tahun ini. Airport di Romania yang terhubung ke luar negeri tidak banyak — hampir semua harus mendarat di Bucharest. Namun sehari setelah mendarat di Bucharest, aku memutuskan menjelajah jantung Romania: Transylvania.

 

Firenze

Tahun 2019 diproklamirkan sebagai 500 Tahun Renaissance — diperingati 500 tahun setelah wafatnya Leonardo da Vinci, Bapak Renaissance Dunia. Dan tentu kurang sempunya memperingati 2019 ini tanpa mengunjungi Ibukota Renaissance: Florence (Firenze), di Tuscany (Toscana), Italia.

Europe 2019 Plan

 

Tahun ini, kami merencanakan perjalanan keliling Eropa lagi. Dan kali ini, kami coba mengarah lebih timur lagi.

Rencana jalur perjananan:

  • Paris — tentu saja masih banyak artifak budaya yang belum dituntaskan di satu kota berjuta cerita ini. Kali ini kami akan berfokus pada kawasan Rive Gauche.
  • Genève — mengamati bagian Swiss yang berbudaya Perancis (khususnya Arpitan), dibandingkan kunjungan ke Zürich beberapa tahun lalu. Jika memungkinkan, akan disempatkan jalan ke Lausanne juga.
  • Firenze — ibukota renaissance, juga sekaligus ibukota Tuscany / Toscana.
  • Venezia — bagian akhir dari napak tilas Wagner sepanjang Leipzig, Dresden (2012), Zürich (2014), Bayreuth (2012), dan wafat di Venezia.
  • Bucuresti — ibukota negeri KUN.CO.RO, plus penjajakan ke Brasov dan negeri para Dracula.

 

 

Kurang variatif ya? Kenapa yang dikunjungi hanya kawasan-kawasan berbahasa Romance (French, Arpitan, Italian, Romanian), dibandingkan kunjungan sebelumnya yang disempatkan ke wilayah berbahasa Germanik, Slavia, Uralik (Finno/Ugrik)? Tenang — ada kunjungan berikutnya. Dan, paling-paling, kita pakai Bahasa Inggris juga di mana-mana, wkwkwk.

Visa Schengen telah diurus di Kedutaan Perancis. Memang pendaratan perdana adalah di Amsterdam Schiphol. Namun dari Schiphol, kami berencana naik Thalys antar negara (Belanda – Belgia – Perancis) untuk langsung tiba di kota Paris.

Perjalanan dari Indonesia ke Eropa akan menggunakan penerbangan kebanggaan nasional, Garuda Indonesia. Tiket diperoleh dengan menukarkan tabungan Garuda Miles, dibantu oleh diskon 50% dari Garuda untuk pembelian menggunakan Garuda Miles. Sebenarnya kami berencana terbang ke London untuk menjumpai tupai-tupai Greenwich; namun jadwal penerbangan Garuda yang memungkinkan adalah ke Amsterdam. Baiklah, tupai Greenwich bisa menunggu.

Europe 2019 Plan

 

Tahun ini, kami merencanakan perjalanan keliling Eropa lagi. Dan kali ini, kami coba mengarah lebih timur lagi.

Rencana jalur perjananan:

  • Paris — tentu saja masih banyak artifak budaya yang belum dituntaskan di satu kota berjuta cerita ini. Kali ini kami akan berfokus pada kawasan Rive Gauche.
  • Genève — mengamati bagian Swiss yang berbudaya Perancis (khususnya Arpitan), dibandingkan kunjungan ke Zürich beberapa tahun lalu. Jika memungkinkan, akan disempatkan jalan ke Lausanne juga.
  • Firenze — ibukota renaissance, juga sekaligus ibukota Tuscany / Toscana.
  • Venezia — bagian akhir dari napak tilas Wagner sepanjang Leipzig, Dresden (2012), Zürich (2014), Bayreuth (2012), dan wafat di Venezia.
  • Bucuresti — ibukota negeri KUN.CO.RO, plus penjajakan ke Brasov dan negeri para Dracula.

 

 

Kurang variatif ya? Kenapa yang dikunjungi hanya kawasan-kawasan berbahasa Romance (French, Arpitan, Italian, Romanian), dibandingkan kunjungan sebelumnya yang disempatkan ke wilayah berbahasa Germanik, Slavia, Uralik (Finno/Ugrik)? Tenang — ada kunjungan berikutnya. Dan, paling-paling, kita pakai Bahasa Inggris juga di mana-mana, wkwkwk.

Visa Schengen telah diurus di Kedutaan Perancis. Memang pendaratan perdana adalah di Amsterdam Schiphol. Namun dari Schiphol, kami berencana naik Thalys antar negara (Belanda – Belgia – Perancis) untuk langsung tiba di kota Paris.

Perjalanan dari Indonesia ke Eropa akan menggunakan penerbangan kebanggaan nasional, Garuda Indonesia. Tiket diperoleh dengan menukarkan tabungan Garuda Miles, dibantu oleh diskon 50% dari Garuda untuk pembelian menggunakan Garuda Miles. Sebenarnya kami berencana terbang ke London untuk menjumpai tupai-tupai Greenwich; namun jadwal penerbangan Garuda yang memungkinkan adalah ke Amsterdam. Baiklah, tupai Greenwich bisa menunggu.

Covaré

Akhir tahun 2017, kami berada dalam persiapan sebuah kegiatan para BUMN di Paritohan, di sekitar Danau Toba, Sumatera Utara. Suasana dingin berkabut, karena persiapan dimulai sejak dini hari. Namun tampak sebuah pemandangan indah di tengah kabut: PT PPI menyajikan kopi Toba. Di tengah kesegaran yang ditawarkan kopi panas Covaré itu, PPI memberikan kejutan dengan memberikan begitu saja kopi-kopi Toba Covaré kepada siapa pun yang mengaku pecinta kopi.

Di tahun 2018, aku sempat beberapa kali bekerja sama dengan PPI, sebuah BUMN yang berfokus pada perdagangan umum dan khusus atas beraneka produk sejak dari hulu hingga hilir, baik lokal maupun lintas negara; bahkan beberapa kali berjumpa dengan Bapak Agus Andiyani, Dirut PPI yang sungguh visioner namun sangat rendah hati. Namun di awal 2019, kembali PPI teridentikkan dengan kopi.

Pada paruh pertama 2019 ini, para BUMN sedang mempersiapkan alat pembayaran bersama — LinkAja. LinkAja harus dapat digunakan di berbagai produk, layanan, event, dan situs BUMN. Termasuk di antaranya adalah rest area dan pom bensin di jalan tol. Kami tengah mempersiapkan soft launch sebuah rest area di KM 260 — sebuah kawasan bekas pabrik gula di Banjaratma, Brebes, bersama Direktur Pertamina Pak Mas’ud Khamid. Kawasan ini akan diujudkan sebagai kawasan wisata (transit-oriented development) yang memanfaatkan bekas instalasi pabrik gula. Hall besar di Banjaratma dimanfaatkan sebagai café, resto, dan penjualan produk nasional. Di tengah persiapan yang melelahkan, tampak café yang sangat rapi, dengan brand Covaré yang terkenal itu, dan masih buka di tengah malam. Sambil lelah, kami langsung menyerbu café itu, pesan brewed coffee Wamena, Gayo, dll. Setelah kesadaran agak pulih, kami baru sadar bahwa sang barrista di café itu tak lain dari Dirut PPI, Pak Agus Andiyani sendiri. Hoooo.

Melayani curiosity kami, berceritalah Pak Agus. PPI memang mendapatkan tugas khusus dari Pemerintah RI untuk membina kawasan-kawasan rakyat yang potensial menghasilkan kopi bermutu sangat tinggi. Pembinaan diujudkan dengan menentukan kawasan pilot, memberikan pembinaan langsung kepada rakyat, memberikan bantuan benih dll, melakukan pendampingan dan menjaga keterjaminan mutu, hingga membeli kopi-kopi olahan rakyat itu, serta mengemasnya secara istimewa, dan mendistribusikannya ke seluruh dunia. Kawasan pembinaan lengkap dari Aceh hingga Papua.

Semakin istimewa rasanya kopi Covare ini.


Covaré: Koen, Jokowi, and a fan.

BTW, Covaré dapat dibeli di Blanja: http://blanja.com/store/covare