#Koen

Blog Aggregator

The Northern Echo

Ternyata, selain di Darlington and Stockton Times, Dan Howlet akhirnya benar2 memasang kisah kesintinganku di The Northern Echo. Bahkan di tanggal yang sama dengan Darlington and Stockton. Aku ingat sekali waktu itu artikel ini tak ditemukan di The Northern Echo. Mungkin ada penataan arsip dll yang membuat artikel ini masuk ke sini.

Asik nggak sih, kalau aku iseng2 ke Darrowby a.k.a. Thirsk lagi? :)

Kewajiban Penerbitan Paper

Ada hal menarik minggu ini. Weekend lalu, Ditjen Dikti menerbitkan kebijakan yang mengharuskan para mahasiswa tingka S1, S2, dan S3 untuk menerbitkan paper di jurnal (untuk S1), jurnal terakreditasi Dikti (untuk S2), dan jurnal internasional (untuk S3). Penerbitan paper ini menjadi syarat bagi kelulusan di setiap level itu. Kebijakan ini dapat disimak pada Situs Ditjen Dikti. Ada kebijakan lain beberapa minggu sebelumnya, yang menetapkan bahwa jurnal-jurnal yang diakui adalah jurnal yang juga dapat diakses secara online.

Aku sempat menyinggung soal ini, baik di Twitter maupun Facebook. Dan karena ini adalah soal akademis, tanggapan yang masuk pun bernada jernih, dengan kadar pro dan kontra tertentu pada setiap pendapat.

Kebijakan itu sebenarnya bertujuan baik. Saat ini, di luar kampus, kepakaran akademis masyarakat Indonesia tidak menarik sama sekali. Kemampuan berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan, sangat rendah — tak mampu mengeksplorasi gagasan yang dalam, kompleks, apalagi melintas bidang. Komunikasi publik di Indonesia memang terkenal ramai. Indonesia jago di Twitter, Facebook, blog. Tapi komunikasinya dangkal, dengan argumen dan gagasan yang tak tergali. Komunikasi publik bersifat instan, tak lebih dalam dari komunikasi transaksi barang dagangan. Surat dari Dikti yang membandingkan kita dengan Malaysia pun valid dan menyentak. Tak perlu dengan UK, Jepang, dll; dengan tetangga pun kita jadi tampak primitif.

Keharusan menulis paper dalam konteks ini jadi relevan. Bukan hanya untuk mengejar terget angka yang bisa dibandingkan dengan negeri jiran, tentu. Somehow kita harus menyelamatkan dan menumbuhkan komunikasi publik dan komunikasi akademis yang lebih cerdas di masa mendatang. Paper, yang direview oleh sejawat seprofesi, adalah pendekatan yang jauh lebih baik daripada kolom atau artikel di media, yang direview sesuai selera editor atau sebaliknya oleh officer yang mungkin memiliki kompetensi berbeda. Paper juga tidak bisa digantikan oleh self-publishing text yang sebagian besar masih tanpa review. Memang tidak ada sesuatu yang sempurna; tetapi paper dengan peer-review masih menjadi pilihan terbaik dalam transaksi ide dan informasi ilmiah.

Yang mengkhawatirkan dari kebijakan ini memang gayanya yang mendadak. BTW, kapan kebijakan ini harus mulai berlaku? Apakah seketika berlaku, atau perlu memperoleh semacam ratifikasi dari kampus? Atau — seperti banyak kebijakan lain — tidak dijalankan sebelum juklak dibuat. Banyak hal tak menarik bisa timbul dari kebijakan yang mendadak diberlakukan. Kesiapan jurnal-jurnal misalnya. Cukupkah jumlah jurnal per bidang studi, dan kapasitas pengolahan paper setiap jurnal itu, menghadapi kebutuhan kelulusan mahasiswa (terutama S1) yang membanjir setiap tahun. Banyak kampus yang selama ini sudah menghalalkan segala cara untuk meluluskan mahasiswanya, agar bisa segera terlepas dari mahasiswa lama dan bisa menerima mahasiswa baru. Pemaksaan ini bisa berakibat terbitnya paper-paper sampah di jurnal-jurnal yang mendadak akan turun kualitasnya juga.

Aku rasa pemerintah harus belajar untuk mengimplementasikan kebijakan yang bijak dengan cara yang bijak juga: mempersiapkan, menumbuhkan, mendukung, dan mengajak serta komunitas akademis. Dengan demikian, tidak akan terjadi penolakan atau implementasi yang kontraproduktif.

Ada pendapat lain mengenai ini?

Sementara itu, khusus masyarakat ICT, IEEE Indonesia Section tahun ini akan menyelenggarakan setidaknya tiga konferensi dan satu simposium, tempat kita bisa memasukkan paper, mempresentasikan, dan menyaksikannya diterbitkan di IEEE Explore nan bergengsi itu. Sila simak:

  • IEEE International Conference on Computational Intelligence and Cybernetics (CyberneticsCom) [info] [site]
  • IEEE International Conference on Communication, Networks and Satellite (ComNetSat) [info] [site]
  • IEEE Conference on Control, Systems & Industrial Informatics (ICCSII) [info] [site]
  • IEEE Symposium on Green Technology and Systems (ISGTS) [info] [site]

Tentu masih ada jurnal online Indonesia Internetworking Journal, yang menerima paper dalam Bahasa Inggris (diutamakan) dan Bahasa Indonesia mengenai berbagai aspek ICT dengan penekanan pada implementasi di Indonesia.

Ketua Baru Comsoc Indonesia

Sebagai salah satu society yang terkuat di IEEE, Communications Society (Comsoc) memiliki tata atur yang bersifat otonom terhadap organisasi induknya (IEEE). Jabatan President di Comsoc misalnya, memiliki masa bakti dua tahun. Ini berbeda dengan IEEE, dimana seorang yang terpilih menjadi presiden akan memangku jabatan President-Elect selama 1 tahun, President selama 1 tahun, dan Past-President selama 1 tahun. Di Indonesia, tengah diupayakan pola yang serupa untuk IEEE Comsoc Indonesia Chapter: chair dipilih setiap 2 tahun. Sayangnya, ini kadang tak berhasil. Misalnya, awal tahun 2011 lalu, Election Committee menyampaikan bahwa aku harus memegang posisi chairman di tahun ketiga, dan dengan demikian menjadi chairman pertama yang memegang posisi ini selama tiga tahun. Tahun ini, aku memastikan bahwa ini tidak akan terjadi lagi. Dan mudah2an di tahun2 berikutnya tidak akan terjadi lagi :).

Tahun ini, Election Committee telah melaksanakan tugasnya di pertengahan Januari, dan memilih ketua baru Comsoc Indonesia sbb:

IEEE Indonesia Section sendiri baru didirikan pertengahan 1980an. Di pertengahan 1990an, didirikan Joint Chapter of Computer & Communications Society, untuk mewadahi spesialisasi dari dua IEEE society yang memiliki anggota terbanyak. Di tahun 2003, diputuskan untuk memisahkan joint chapter ini menjadi IEEE Computer Society Indonesia Chapter dan IEEE Communications Society Indonesia Chapter. Selama 10 tahun ini, Comsoc Chapter mengalami kepemimpinan enam chair.

Kegiatan Comsoc selama beberapa tahun terakhir ini cukup banyak; dan sebagian sudah aku paparkan cukup rinci di blog ini. Section Chair sempat menyebut bahwa Comsoc Chapter adalah chapter teraktif di Indonesia. Jumlah anggota juga meningkat cukup significant di tahun terakhir. Tapi peningkatan ini sangat didukung oleh kebijakan Comsoc (pusat) memberlakukan keanggotaan Comsoc secara gratis di tahun pertama bagi setiap anggota IEEE yang memperpanjang keanggotaannya :).

Secara realistis, walaupun promosi ke masyarakat, baik masyarakat akademik, masyarakat industri, maupun masyarakat umum terus menerus dilakukan dengan berbagai style, namun minat masyarakat Indonesia untuk bergabung dan beraktivitas di organisasi teknis akademis semacam ini belum terlalu besar. Membandingkan dengan Jepang atau UK mungkin terlalu jauh; tapi di negara2 yang masyarakatnya sadar bahwa budaya digital adalah peluang untuk tumbuh sebagai manufacturer dan bukan sebagai konsumen, misalnya India dan Cina, jumlah anggota IEEE meningkat tajam, sehingga Section harus dipecah per wilayah untuk dapat menampung aktivitas anggota.

So, selamat bekerja, New Chairman dan tim yang akan dibentuknya. Tentu kami, para engineer di dunia telekomunikasi Indonesia, akan memberikan dukungan yang maksimal selalu.

Aku sendiri di tahun 2012 ini belum akan off dari kegiatan di IEEE. Aku masih akan bertugas di Technical Committee di COMNETSAT.

Internetworking Indonesia, Fall 2011

Seperti yang beberapa minggu lalu aku kicaukan di Twitter, Internetworking Indonesia Journal edisi Musim Gugur / Musim Dingin 2011 telah terbit. Kali ini ia merupakan terbitan khusus, bertajuk Special Issue on Social Implications of ICTs in the Indonesian Context. Ada beberapa hal yang istimewa pada terbitan ini. Pertama, kali ini (dan mudah-mudahan untuk seterusnya) semua paper telah ditulis dalam Bahasa Inggris. Memang IIJ bersifat dwibahasa, dan memperkenankan paper ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Namun kita tentu paham bahwa paper dalam Bahasa Inggris akan memiliki jangkauan pembaca yang jauh lebih luas. Kedua, edisi kali ini membahas topik yang diminati banyak kalangan, dari para peneliti, pengamat amatir, hobby-ist, pebisnis, dan developer, yaitu Media Sosial.

Editor tamu pada edisi ini adalah Prof. Merlyna Lim dari Arizona State University dan Dr. Yanuar Nugroho dari University of Manchester. Keduanya kebetulan secara personal pernah berinteraksi denganku, dan lucunya lebih banyak dalam konteks keseriusan yang bersalut candaan.

Paper pada edisi ini meliputi:

  • Guest Editors’ Introduction, by Merlyna Lim and Yanuar Nugroho
  • Cyber Taman Mini Indonesia Indah: Ethnicity and Imagination in Blogging Culture, by Endah Triastuti and Inaya Rakhmani
  • An assessment of Mobile Broadband Access in Indonesia: a Demand or Supply Problem?  by Ibrahim Kholilul Rohman and Erik Bohlin
  • The Internet and the Public Sphere in Indonesia’s New Democracy: a Study of Politikana.com, by Agustina Wayansari
  • The Experience of NGOs in Indonesia to Develop Participatory Democracy by the Use of the Internet, by Yohanes Widodo
  • The Role of Local e-Government in Bureaucratic Reform in Terong, Bantul District, Yogyakarta Province, Indonesia, by Ambar Sari Dewi

Sila kunjungi situs edisi ini, atau langsung download jurnal online ini secara gratis pada link-link ini:

CFP: Comnetsat 2012

The IEEE International Conference on Communication, Networks and Satellite (COMNETSAT 2012) is a conference conducted by the IEEE Indonesia Section. It targets to address current state of the technology and the outcome of the ongoing research in the area of Telecommunications, Networks and Satellite Systems. Articles of interdisciplinary nature are particularly welcome. ComNetSat 2012 covers theory, design and application of computer and telecommunication, networks and satellite systems. During recent years there as been an impressive increase in the use of networked applications and networks are now key resources in any information system configuration. Wireless and fixed line networks complemented by a growing range of mobile devices are having a significant impact on the way we run our lives and our business. Comnetsat 2012 invites papers, original & unpublished work from individuals active in the broad theme of the conference.

The conference proceedings will be published by IEEE and included in IEEE Xplore with ISBN number 978-1-4673-0889-2, IEEE Catalog Number CFP1231S-ART, and will be indexing in Ei Compendex and ISTP. Soon after the Conference, selected authors will be invited to publish the extended versions of their papers in various special issues of our forthcoming international journals and edited research books.

Sponsor and Organizer

ComNetSat 2012 is sponsored and organized by IEEE Indonesia Section.

Important Dates

Full Paper Submission : 1 April 2012
Acceptance Notification : 1 May 2012
Camera Ready + Early Bird Registration : 20 May 2012
Conference Date : 12 – 14 July 2012

Paper Submission

A full paper of not more than 5 pages including abstracts, figures, tables and references with A4 sized page, single spaced, Times Roman of font size 10, two columns format. Paper must be submitted electronically using the IEEE Xplore-compatible PDF via the website. All papers will be peer reviewed. At least one author of each accepted paper must register for the conference for the paper to be included in the program.

Conference Venue

The ComNetSat 2012 is scheduled to conduct in Bali, Indonesia.

More Information

IEEE Conference Reference : 19962
Info at IEEE Indonesia Section: Comnetsat 2012
Conference Site: COMNETSAT.ORG


CFP: Cyberneticscom 2012

The IEEE International Conference on Computational Intelligence and Cybernetics (CyberneticsCom 2012) is a conference carried out by IEEE Indonesia Section. It aimes to address current state of the technology and the outcome of the ongoing research in the area of Computational Intelligence and Cybernetics. It encourages a broad spectrum of contribution in the Computational Intelligence and Cybernetics sciences. Articles of interdisciplinary nature are particularly welcome. CyberneticsCom 2012 intends to be a major forum for scientists, engineers and practitioners interested in the study, analysis, design, modeling and implementation of Computational Intelligence and Cybernetcis, both theoretically and in a broad range of application fields. It invites papers original & unpublished work from individuals active in the broad theme of the conference.

The conference proceedings will be published by IEEE and included in IEEE Xplore with IEEE Catalog Number CFP1230S-ART and ISBN number 978-1-4673-0892-2, and will be indexing in Ei Compendex and ISTP. Soon after the Conference, selected authors will be invited to publish the extended versions of their papers in various special issues of our forthcoming international journals and edited research books.


Sponsor and Organizer

Cyberneticscom 2012 is sponsored and organized by IEEE Indonesia Section.

Important Dates

Full Paper Submission : 1 April 2012
Acceptance Notification : 1 May 2012
Camera Ready + Early Bird Registration : 20 May 2012
Conference Date : 12 – 14 July 2012

Paper Submission

A full paper of not more than 5 pages including abstracts, figures, tables and references with A4 sized page, single spaced, Times Roman of font size 10, two columns format. Paper must be submitted electronically using the IEEE Xplore-compatible PDF via the website. All papers will be peer reviewed. At least one author of each accepted paper must register for the conference for the paper to be included in the program.

Conference Venue

IEEE Cyberneticscom 2012 is scheduled to conduct in Bali, Indonesia.

More Information

IEEE Conference Reference : 19959
Info at IEEE Indonesia Section: Cyberneticscom
Conference Site: CYBERNETICSCOM.ORG


Mencari Boson Higgs

Tanggal 30 Maret 2010, blog ini menyambut berhasilnya kolisi perdana di LHC. Waktu itu disebutkan: CERN akan menjalankan LHC selama 18-24 untuk menyiapkan data bagi riset-riset fisika partikel. Tujuannya tak lain dari meninjau kembali Standard Model yang menjadi dasar ilmu fisika beberapa dasawarsa terakhir. Yang konon paling banyak dicari adalah jejak dari boson Higgs yang diharapkan bakal membuka tabir misteri gravitasi. Kini masa 24 bulan hampir berhasil. Banyak data yang telah diolah, dan sebagian dipublikasikan di situs CERN. Boson Higgs berstatus sangat mungkin tampil, namun memerlukan lebih banyak pengolahan informasi dan diskusi untuk menginterpretasi triliunan butir data yang telah diperoleh dari kolisi proton di dalam LHC. Kolisi berenergi 7 TeV itu sebenarnya belum merupakan kapasitas penuh LHC. Target 14 TeV baru diperoleh beberapa tahun lagi. Namun sebenarnya, apa sih yang diributkan dari Boson Higgs?

Tepat 5 tahun lalu, 26 Desember 2006, blog ini membahas tentang partikel W+, W-, dan Z, yang menyebutkan Mekanisme Higgs. Mekanisme Higgs ini menarik, karena ia menjelaskan bagaimana materi dapat memiliki massa. Sebenarnya tidak ada alasan dalam Model Standar (Standard Model) yang menjelaskan bahwa partikel2, baik boson maupun fermion dapat memiliki massa. Untuk mengingatkan, boson adalah partikel yang mengikuti statistika Bose-Einstein, memikili spin bilangan bulat, dan membawa gaya-gaya interaksi, seperti elektromagnetika (foton), gaya nuklir lemah (W+, W-, Z), dan gaya nuklir kuat; sementara fermion, yang mengikuti statistika Fermi-Dirac, adalah partikel seperti kuark dan lepton yang membentuk materi, dengan spin bilangan pecah (±1/2, ±3/2, dll). Tapi kita bisa mengukur bahwa massa itu ada, dan bahwa setiap partikel elementer memiliki massa yang unik.

Menurut Model Standar, setiap jenis gaya atau boson terikat oleh sebuah simetri. Simetri ini menjaga hukum2 yang mengikat setiap gaya. Kerja simetri cukup sempurna untuk gaya yang tak melibatkan massa, seperti pada elektromagnetika dan gaya nuklir kuat. Prediksi interaksi gaya pada energi tinggi sangat berhasil dan hanya melibatkan mode yang ada di dunia nyata. Namun boson yang memiliki massa memiliki mode osilasi tambahan. Penerapan simetri pada boson semacam ini akan membuang osilasi tambahan pada boson2 ini, yaitu boson2 nuklir lemah. Tanpa hukum tambahan, boson lemah tak dapat mengikuti simetri Model Standar. Memaksakan simetri pada boson lemah menghasilkan partikel boson tak bermassa, yang tentu berbeda dengan realita.

Fermion, baik kuark atau lepton, dapat memiliki sifat spin kanan atau kiri. Namun fermion tangan kanan dapat dikonversi menjadi tangan kiri dan sebaliknya dengan interaksi yang sama. Namun eksperimen menunjukkan bahwa gaya lemah berlaku berbeda pada fermion tangan kiri daripada fermion tangan kanan. Lebih khusus, pada partikel dengan spin kiri, muatan lemah seolah menghilang. Pelanggaran simetri ini unik, tak terjadi pada interaksi lainnya. Jelas bahwa diperlukan hukum tambahan untuk membuat hukum2 dalam Model Standar tetap konsisten.

Kita akan menamakan muatan yang dibawa oleh energi nuklir lemah (dan boson lemah) ini sebagai muatan lemah; yang dapat diasosiasikan dengan hubungan muatan listrik dengan energi listrik (dan foton). Muatan lemah boleh saja muncul dan menghilang ke dalam ruang hampa, jika ruang hampa dianggap memiliki medan yang disebut Medan Higgs. Medan Higgs membangkitkan dan menyerap muatan lemah. Namun Medan Higgs tak disusun dari partikel, melainkan dari distribusi muatan lemah di seluruh semesta, yang akan menghasilkan atau menyerap muatan lemah di tempat2 dimana nilai medan tidak nol. Medan Higgs hanya berinteraksi dengan partikel yang memiliki muatan lemah, yaitu boson lemah, kuark, dan lepton. Interaksi dengan Medan Higgs menimbulkan perlambatan. Artinya ada kelembaman. Artinya ada massa. Mekanisme ini yang disebut dengan Mekanisme Higgs. Sebagai perbandingan, foton, yang tak berinteraksi dengan Medan Higgs, tak menerima perlambatan, sehingga tak memiliki massa, dan dapat melaju dengan kecepatan cahaya. Tentu saja :).

Ada sebuah ilustrasi menarik yang aku baca beberapa tahun yang lalu. Medan Higgs ini mirip khalayak di sebuah hall. Jika ada tokoh yang buat mereka tak menarik, mereka akan acuh, dan si tokoh kita dapat melewati hall dengan mudah. Namun jika seorang seleb masuk ke hall, khalayak akan mengerumuni sang seleb. Besar kerumunan akan tergantung tingkat popularitas (muatan) sang seleb. Sang seleb harus menggunakan energi lebih besar, dan waktu lebih lama, untuk bisa melewati hall. Kuark top tentu paling populer, sehingga massanya paling besar. Elektron memiliki popularitas kecil. Dan foton tidak populer sama sekali :). Ketidakpopuleran foton memungkinkannya berkelana amat jauh, sementara boson lemah seperti W+, W-, dan Z hanya memiliki jangkauan pendek, berat, dan lamban. Tanpa Higgs, foton sebenarnya mirip Z.

Pada level energi tinggi, atau secara kuantum pada jarak amat dekat, Mekanisme Higgs tak dapat terjadi; sehingga tak dapat dibedakan antara W+, W-, Z, atau foton. Terjadi simetri. Namun pada energi rendah, atau pada jarak yang lebih renggang, Mekanisme Higgs bekerja, meluruhkan simetri, dan boson menunjukkan diri sebagai W+, W-, Z, atau foton. Sebagai sebuah teori, ini sangat menarik dan elegant. Namun, secara eksperimen, Mekanisme Higgs belum terbukti. Dan ini yang diharapkan ditampilkan di LHC: sebuah Boson Higgs.

Boson Higgs adalah bentuk boson dari Medan Higgs. Ini agak mirip hubungan antara foton dengan medan magnet. Kita tahu foton berkait dengan medan magnet, namun kita tak harus mengamati tampilnya foton saat mengamati bekerjanya gaya magnet. Medan Higgs juga dapat bekerja tanpa pernah menampakkan Boson Higgs. Namun, seperti pada elektromagnet, jika kita memberikan usikan pada medan elektromagnet, cahaya (atau foton) dapat terpancar. Para periset ingin membuktikan adanya Medan Higgs dengan menunjukkan adanya Boson Higgs. Usikannya pada Medan Higgs itu dilakukan di LHC.

Boson Higgs diperkirakan memiliki energi (atau massa) tak terlalu besar. Ingat, ia justru tak berinteraksi pada energi tinggi. Diperkirakan massanya di bawah 800 GeV, atau jauh lebih kecil, pada orde 100 GeV. Walau kecil, tetapi ia tak mudah diamati, karena sebelumnya kita tak dapat memiliki piranti untuk mengamati interaksinya. Di LHC sendiri, Boson Higgs diharapkan berinteraksi dengan partikel2 bermassa besar, karena sifatnya yang mudah berinteraksi dengan massa. Namun LHC masih menggunakan partikel ringan, sehingga kemungkinan terdeteksinya Boson Higgs semakin kecil.

Syukur, masih ada beberapa alternatif yang diharapkan mampu menampilkan Boson Higgs. Salah satunya, tumbukan kuark, yang diharapkan dapat membentuk partikel berat, yang kemudian akan luruh sambil memancarkan Boson Higgs. Kemungkinan lain adalah jika kuark memancarkan boson lemah virtual, yang lalu bertumbuhan dan menghasilkan Boson Higgs. Kedua kemungkinan ini, di samping menghasilkan Boson Higgs, menghasilkan partikel lain yang mungkin dapat mengganggu pengamatan. Kemungkinan ketiga adalah jika gluon bertumbukan membentuk kuark top dan anti kuark top, yang dalam waktu singkat akan bertumbukan dan memancarkan Boson Higgs saja.

Kemungkinan semacam itu memang sangat kecil. Namun trilliunan tumbukan yang dilakkan di dalam LHC diharapkan dapat memberikan beberapa hasil eksperimen yang memadai.

Minggu lalu, CERN menyelenggarakan sebuah seminar yang menampilkan hasil-hasil riset di lab ATLAS dan CMS. Disampaikan bahwa riset telah cukup memadai untuk melakukan pencarian Boson Higgs, namun hasilnya belum dapat disebut konklusif. Andai Boson Higgs memang ada dan telah terdeteksi, kemungkinan besar ia memiliki rentang massa 116 – 130 GeV seperti yang tercatat di ATLAS, atau 115-127 GeV yang tercatat di CMS.

Namun masih akan banyak riset lanjutan dan alternatif model untuk memperbaiki Model Standar sebagai bagian dari pengenalan kita terhadap struktur alam, yang semuanya akan didalami dalam waktu-waktu berikutnya. Yuk kita ikuti dengan asik :)

[Credit: Gambar 1 dari situs CERN. Gambar 2 dari Lisa Randall.]

Singapore: Carrier Ethernet 2011

Tori Bennett and Ingerid Sørgaard, the EO of Carrier Ethernet World Forum I attended last year in Hong Kong, contacted me in the middle of this year, asked me to join the annual event this December, to perform the similar rituals similar like in Hong Kong last year. This year, the conference took place at Resorts World Sentosa, Singapore. I thought that at the end of the year I would have enough spare time, so I agreed. But this November I was again too busy with requests in the office, plus the preparation of Indigo Fellowship 2011 and the IEEE Tencon 2011, plus others. The result was like a déjà vu of Hong Kong.

But at last I landed in Singapore on the first evening of December. The weather was still fresh, sprinkled with spotty rain, with scattered clouds in the sky. Disregard the proposal of the conference organisers, I chose to stay at Porcelain Hotel, on Mosque Street, around Chinatown. I am indeed nosy: always try to find a different atmosphere each time I visit this small island. This time I got the right choice: Porcelain is a small hotel but fresh and comfortable. And with the MRT, I was just about 10-15 minutes only from Resort World Sentosa.

This conference series discusses the Carrier Ethernet, which is the backbone, regional, and access network to deliver information in high-speed packets. In the backbone network, CE is implemented with DWDM with tera routers. Regional networks are developed using Metro Ethernet as aggregator that is connected via DWDM or SDH. And the access networks are deployed using various schemes of optimised GPON FTTX with MSAN and XDSL. Various schemes of networks architecture and design optimisation will require interconnection and interlayer supports among network, service, and applications. This is the theme I presented at this conference, titled Service-Optimised Broadband Internet Technologies.

My presentation was scheduled on the second day, 2 December at 12:55, just before lunch & networking time. The presentation began with a general view about Indonesia and how the public consumes information here. Then I jumped into the development of tera routers and metro ethernet by Telkom Indonesia, and then also its broadband access network. IPTV is also presented, emphasized to the usage of metro ethernet, GPON, and MSAN/XDLS  in its network. For the upper layer, I described how the network planning would be linked to service development, that are expected to grow through a new partnership, incubation, and community-generated applications (Internet 2.0). Here the schemes of IMS and SDP are discussed. We intend to set up future products and business models that are personalised and customisable, integrated with the network, and easily commercialised to market (as opposed to the current expectation of startups for advertising or acquisitions only).

This year, I was not the only speaker from Indonesia. There were two other speakers: Mr. Ahmad Rosadi Djarkasih, who presented Enabling Cloud Services to the Enterprise; and Ms. Candra Agnesia Sulyani (aka Mrs. Djarkasih), who presented Driving Profitability in Carrier Ethernet Services for Business the previous day. Unlike last year, this year I refused Ingerid’s request to speak at the panel session. But during the break session (a.k.a. networking session) I talked quite a lot to some of the participants of the conference, discussing the interesting things we had presented, and also discussed the opportunities for them to enter Indonesia IT industry.

After the conference finished, I wandered to Somerset, to visit my favorite bookstore: Harris Bookshop. I knew this unique bookstore last year by accident. I used to visit HMV at Orchard to hunt music CDs that were not easily found in Jakarta. But then HMV moved to Somerset in 2010. And next to HMV, I found Harris: a bookstore with a niche segment. Even for a fans of eBooks like me, who could easily enter Kinokuniya without buying any books (other than buying eBooks even more via the Kindle), Harris is always tempting and enchanting.

The next Carriet Ethernet World Forum will be carried out next year in Hong Kong. Again. I don’t know whether I will be invited. But, with or without me, I suggest you, professional Internet network and service providers, to attend the event next year in Hong Kong.

Carrier Ethernet World, Sentosa Island

Tori Bennett dan Ingerid Sorgaard kembali melakukan kontak di tengah tahun ini, memintaku hadir di awal Desember untuk meneruskan Cerita di Hong Kong tahun lalu. Masih bertajuk Carrier Ethernet World, kali ini konferensi mengambil tempat di Resort World Sentosa, Singapore. Aku fikir, di akhir tahun aku sudah agak leluasa; jadi aku sanggupi. Tapi November ini aku disibukkan banyak request di kantor, plus persiapan Indigo Fellowship 2011 dan Tencon 2011, plus lain-lain. Jadi mirip déjà vu suasana Hongkong tahun lalu :).

Aku melandas di pulau kecil ini di sore pertama di bulan Desember. Cuaca masih segar berhias rintik dan mendung terserak. Tak mempedulikan usulan penyelenggara konferensi, aku memilih menginap di Porcelain Hotel, di sekitar Chinatown. Aku memang usil: mencoba selalu mencari suasana berbeda setiap memilih hotel di Singapore. Kali ini aku tak salah pilih: hotelnya kecil tapi segar dan nyaman. Dan dengan MRT, aku hanya terpisah 10-15 menit dari Resort World Sentosa.

Konferensi ini membahas carrier ethernet, yaitu jaringan transport backbone, regional, dan akses yang menghantar informasi dalam bentuk paket berkecepatan tinggi. Di jaringan backbone, kita menggelar DWDM dengan tera routers; di regional kita mengembangkan metro ethernet sebagai aggregator yang terhubung via DWDM atau SDH; dan di akses kita mengoptimalkan GPON dengan berbagai skema FTTX evolusioner bersama dengan MSAN dan XDSL. Berbagai skema, arsitektur jaringan, dan optimasi perancangannya akan memerlukan kesalingterhubungan dan kesalingdukungan antar layer, yaitu network, service, dan aplikasi. Tema inilah yang aku paparkan dalam konferensi ini, yaitu Service-Optimised Broadband Internet Technologies.

Aku berpresentasi di hari kedua, tanggal 2 Desember jam 12:55, tepat sebelum lunch & networking time. Presentasi diawali dengan lingkungan umum Indonesia dan bagaimana publik Indonesia mengkonsumsi informasi. Lalu melompat ke pembangunan tera router dan metro ethernet oleh Telkom Indonesia, serta perencanaan jaringan akses broadband-nya. Dipaparkan juga network IPTV yang tengah digelar Telkom. Ke layer atas, dipaparkan bagaimana pengembangan network akan dikaitkan dengan service-service baru yang diharapkan ditumbuhkan melalui partnership, inkubasi, dan community-generated applications (Internet 2.0). Skemanya dapat melalui IMS, tetapi juga SDP yang lebih pragmatis untuk IT domain. Diharapkan dapat dibentuk model bisnis dan produk masa depan yang bersifat personalised, tetapi juga mudah ditumbuhkan, diintegrasikan dengan network, dan dipasarkan (alih-alih cuma digratiskan dengan mengharap advertising atau akuisisi). Di tengah para expert yang pasti jauh-jauh lebih paham mengenai pernak pernik perancangan network berskala besar, presentasi tidak dipaparkan seperti lecture, tetapi lebih seperti sharing yang mengharapkan masukan, dan sekaligus memicu ide bagi para manufacturer untuk mempertimbangkan produk yang akan lebih teroptimasi bagi konsumen yang gila memproduksi dan mengkonsumsi aplikasi dan informasi seperti di Indonesia.

Tahun ini, aku bukan satu-satunya speaker dari Indonesia. Pada hari yang sama, tampil juga Mr Ahmad Rosadi Djarkasih memaparkan Enabling of Cloud Services to the Enterprise. Dan sehari sebelumnya Ms Agnesia Candra Sulyani (a.k.a. Mrs Djarkasih) memaparkan Driving Profitability in Carrier Ethernet Services for Business.

Tak seperti tahun lalu, tahun ini aku menolak permintaan Ingerid untuk mengisi panel session. Tapi selama break session (a.k.a. networking session) aku berbincang cukup banyak dengan beberapa peserta konferensi, membahas hal2 yang buat mereka menarik dari presentasiku, dan sekaligus membahas peluang-peluang mereka buat masuk ke industri informatika Indonesia. Aku rasa networking ini lebih pas daripada panel yang sering jadi terlalu serius :).

Selesai konferensi, aku mengelana ke Somerset, mengunjungi toko buku favoritku: Harris Bookshop. Aku gak sengaja kenal toko buku unik ini. Dulu aku selalu mampir di HMV Orchard buat berburu CD musik yang gak ada di Jakarta. Tapi HMV pindah ke Somerset di tahun 2010. Dan di sebelah HMV, terletak Harris: toko buku yang segment-nya niche. Bahkan penggemar eBook macam aku, yang bisa masuk Borders dan Kinokuniya tanpa membeli satu buku pun (selain malah beli eBook lagi via Kindle), terpelanting juga dengan buku2 di Harris yang tampaknya belum akan bisa di-eBook-kan.

Hari berikutnya, sambil menunggu flight kembali ke Jakarta, aku rehat di Café Cartel Orchard, talk panjang dengan Jim Geovedi. Tapi yang ini gak di-share di blog ah.

Tencon 2011 in Bali

Last week, Indonesia hosted some regional events: SEA Games, ASEAN Blogger Conference, ASEAN Summit. These days, the IEEE Region 10 (Asia Pacific) carries out its official annual conference IEEE TENCON on Sanur Beach, Bali. This conference has been prepared since a couple years ago, starting by submitting the proposal from Indonesia to the IEEE Region 10, bidding, recording in the IEEE, and the processes that include the calls for papers, paper reviews, event planning, and event organising. The whole process has involved senior academics in various parts of the earth. The event is organised by the IEEE Indonesia Section and University of Indonesia. Two IEEE society chapters are also involved as technical sponsors: the Comsoc Chapter and the MTT / AP Joint Chapter. Since the event is held Denpasar, Udayana University sends some volunteers to support the conference. Busy days :) .

I jumped from Jakarta to Denpasar last Sunday. I saw the valley in the vicinity of Mount Ijen, Bali Strait, 10 minutes southwest coast of sunny, clear, sloping, sandy white, soft, and wavy beaches, and then finally the Ngurah Rai airport. Apparently ASEAN Summit still left some activities, so we had to revolve around Bali’s southeast coast for 40 minutes before landing. Then travel overland to Sanur Beach: Inna Bali Beach Hotel.

Unlike 2009, this year I can not seem up to enjoy the magnificent nature and culture of Bali. Representing IEEE Comsoc Indonesia Chapter, I had to prepare a tutorial session, then assist the event organising. Even today! :)

The tutorial was held on Monday, November 21 at 10:00 sharp. Prof Dadang Gunawan opened the session; then I took over to deliver a lecture on Digital TV and IPTV. My presentation focused on the network architecture, standards, how-it-works, services and content, and to the issues of convergence. Quite a lot, considering the time the tutorial was quite long. The next tutorial session was then filled by Mr Satrio Dharmanto Ms Agnes Irwanti, with emphasis on migration into DigitalTV.

The conference was officially commenced on 22 November. As the organising chair, Dr. Wahidin Wahab open the conference with his typical fun and exciting speech. The plenary session was then filled by four keynote speakers, with two moderated by Mr. Arnold Djiwatampu (himself the general chair of the event), and two by me.

The theme of the keynote speakers were very interesting. Prof. Nurul Sarkar discussed a breakthrough in engineering education strategies. Prof. Ke Wu explored IC Substrate (SICS) that are applied for future electronics and photonics in GHz and THz scale. Prof. Rinaldy Damini detailed energy scenarios taken by various countries after the Fukushima nuclear disaster. And Prof. Jong-Hwan Kim explained and demonstrated the robot-that-thinks (RTT). More than that implied by the titles, each presentation provided interesting inspirations. Prof. Ke Wu, for example, explained by pictures the history of waveguides: metals, coax, intrachip waveguide, etc. Meanwhile, Prof. Kim, who is also called the Father of Robot Football, explained the philosophical level of how the minds are recomposed by contextual info, fuzzy logic, and social intelligence.

After the photo session, the conference was splitted into seven rooms, each with its specific focus. I chose Room 5, which is focusing on the architecture, traffic, and other aspects of the wireline and wireless networks. In Room 5, dozens of papers are presented in several sessions from Tuesday to Thursday (today). Each presentation sets out in 20 minutes, followed by questions and answers. The theme is no longer a matter of philosophy or research direction, but instead the details of research results. The presenters are researchers, engineers, geeks, etc, so you can imagine how their presentations are. Just totally like me :D

There was a dinner session, for networking while observing a small part of Balinese culture. There were a couple minutes (only) to walk to the Sanur beach not far from the hotel. But the rest are continuous controlling on the event.

Hopefully IEEE Tencon will result well, improving the good reputation for Indonesia that is capable to organise an international academic event almost with no sponsor, improving the interests for the Indonesian academics and engineers to consistently do the researches, and transforming Indonesia to be a respected technology innovation and development country.

The next Tencon will be carried out in Cebu and Mactan islands in the central part of the Philippines. See you next year in Lapu-Lapu city!