Nihonjin

Tulisan yang terlambat beberapa tahun. Tapi rasanya masih punya hutang kalau belum ditulis di sini. Plus nantinya beberapa versi buat negara lain. Jadi, ini kesan atas orang-orang di Jepang, dalam amatan bulan Juni 2011.

Imigrasi Haneda
Petugas imigrasi (cowok, usia sedang) benar-benar memeriksa di hotel mana aku akan menginap malam itu. Waktu itu, hampir tengah malam. Dan aku memutuskan menunggu Shinkanzen pagi di airport. Petugas menunjukkan ketidaksukaannya bahwa aku tidak mereservasi hotel buat tidur malam itu. Mungkin dia merasa aneh ada orang mau membuang 6 jam sia-sia di airport.

Douane Haneda
Petugas (cewek, usia sedang) menanyakan tujuan kunjungan. Aku sampaikan, aku akan menghadiri summit. Dia lihat jaket travelingku dan koper kecilku. Sopan, dia minta izin memeriksa koper. Aku bantu buka, dan dia periksa secara rapi. Ada satu lapisan di atas koper. Dia minta izin buka. Begitu dia lihat isinya jas, dia bilang: oh. Sambil senyum. Pemeriksaan selesai. Kayaknya mukaku gak tampang summit.

Penjualan Tiket Bis, Haneda
Aku menanyakan tiket kereta. Si petugas (cewek, masih muda) bilang, dia hanya jual tiket bis. Tapi dia carikan buku jadwal kereta, dan menunjukkan jadwal kereta; plus di mana aku harus cari tiket kereta besok pagi. Dengan senyum dan keramahan 100%.

Penukaran Mata Uang Asing, Haneda
Dua petugas di sini (cowok, masih muda) lebih mirip main sinetron Korea; baik wajah maupun gaya becandanya. Kita diminta mengisi form. Dan mereka dengan keceriaan 100%, memberikan Yen yang kita minta. Padahal ini jam 1:00 malam. Gak ada tanda kantuk atau cela apa pun pada ekspresi mereka.

Penjualan Tiket Kereta, Tokyo
Papan bertuliskan bahwa loket akan dibuka pukul 6:00. Sampai 5:55, tidak ada tanda kehidupan apa pun di depan. Rolling door masih tertutup seperti mati. Satu petugas menyapu depan pintu. Aku coba tanya ke tukang sapu, dia diam saja. Jam 5:59, tidak ada perubahan. Jam 5:59:50, rolling door dibuka. Di dalam, lampu sudah menyala, semua petugas sudah duduk rapi di tempatnya, dengan keceriaan dan keramahan penuh.

Shinkanzen

Tunawisma, Tokyo
Seorang ibu tua yang lusuh tidur di trotoar, tak jauh dari tempat penjualan tiket kereta.

Petugas Tourist Centre, Kyoto
Petugas ini (cowok, agak tua) menanyakan berapa lama aku akan di Kyoto. Lalu memberikan saran tempat yang menarik untuk dikunjungi. Juga, ia memberikan beberapa voucher untuk diskon di tempat-tempat yang dia sarankan. BTW, di tempat2 itu, voucher diskon itu benar2 diminta dan digunakan.

Hotel Guest Service, Kyoto
Petugas yang ini (cewek, masih muda sekali) dengan tampilan prima, mengantar ke kamar. Dengan bahasa Inggris yang luar biasa (untuk ukuran Jepang), ia menunjukkan fasilitas yang ada di kamar; tapi dengan keramahan seperti seorang teman. Waktu kuserahkan tip, jawabannya tegas sekali: “We don’t have tipping system here.” Jawaban itu cukup untuk membuatku tidak memberikan tip buat siapa pun selama di Jepang.

Nara

Cleaning Service, Kyoto Station
Di sini aku baru tahu kenapa seluruh tempat di Jepang bersih. Memang, warga punya budaya untuk membuang sampah hanya di tempat sampah. Dipilah pula sampah organik dan sampah non organik. Budaya ini konon lumayan baru. Di tahun 1970-an, orang Jepang masih sejorok orang Indonesia. Bahkan waktu itu, orang masih sering tampak meludah di jalan. Tapi budaya bisa diubah.
Oh ya. Jadi faktor lain adalah bahwa petugas cleaning service bekerja keras. Mereka terus menerus membersihkan lantai dan ruangan, biarpun di mata kita sebenarnya masih bersih. Mereka bekerja keras. Jadi, mengelap pegangan tangga pun dilakukan dengan ekstra tenaga. Mungkin sekalian olah raga. Jadi, kebersihan di Jepang bukan diakibatkan GDP-nya yang tinggi atau posisinya di lintang utara. Tapi karena ada petugas yang bekerja keras setiap saat untuk melakukan pembersihan.

KyotoCleaner

Pengunjung Café, Kyoto
Hanya di Jepang sini, aku bisa memilih kursi kafe di luar ruangan (outdoor). Ketik-ketik dengan notebook. Trus masuk ke dalam buat pesan kopi lagi, meninggalkan notebook di luar, dengan perasaan aman dan nyaman. Jangan dicoba di negara Eropa yang mana pun. Jangan dicoba di Singapore. Kalau mau coba, hanya coba di Jepang saja.

Warga Kota Yang Baik, Nishikasai
Aku berkeliling, bawa nama hotel dan alamatnya, dalam huruf latin dan kanji. Biarpun sudah ambil paket roaming unlimited dari Telkomsel, Softbank tanpa ampun tak memberiku akses Internet. Tersesat di area kecil. Hotelku seharusnya dekat stasiun. Tapi, siapa pun yang aku tanya, gak bisa bantu menunjukkan alamat dalam huruf latin dan huruf kanji itu. Berputar-putar agak jauh. Akhirnya aku tertolong seorang warga pendatang. Mukanya agak-agak India atau Melayu. Hotelnya memang dekat sekali dengan stasiun.

Antri

Warga Kota Yang Baik, Tokyo
Tiketku ternyata gak bisa digunakan ke Haneda. Aku tanya petugas, dan diarahkan ke loket. Di loket, aku beli tiket lagi. Trus naik kereta. Di kereta, somehow, aku gak menemukan passportku (!). Aku turun. Naik kereta lagi, balik ke stasiun semula, ke loket. Mau tanya, barangkali ada yang lihat passport-ku. Di depan loket, masih tampak passportku, di lantai. Pasti tadi jatuh, dan kebetulan lantai belum dipel. Tak tampak terinjak, padahal stasiun agak penuh. Aku ambil, balik ke kereta lagi.

Dessine-moi un Mouton

Gambarkan aku seekor domba! – pinta si pangeran kecil. Itulah awal jumpa Antoine de Saint-Exupéry sebagai pilot sebuah pesawat yang terdampar dengan si pangeran kecil di tengah Gurun Sahara, yang didokumentasikannya dalam buku Le Petit Prince.

Tak banyak dari kita yang mencoba menyelami, mengapakah gerangan permintaan pertama si pangeran kecil itu justru menggambar domba. Dessine moi un mouton!

PangeranKecil-01

Orang-orang yang mudah puas merasa telah menemukan penjelasan, karena pada bab awal, penulis menjelaskan bahwa saat ia kecil ia mencoba menggambar ular boa, tapi tak dipahami orang dewasa. Bahwa kemudian si pangeran kecil bisa memahami gambar sang pilot tanpa memerlukan banyak penjelasan, menjadi penjelasan bagi banyak pembaca bahwa si pangeran kecil memiliki pemahaman melintasi kekuatan persepsi orang dewasa yang pikirannya sudah banyak tertutupi angka-angka dan hal-hal remeh lainnya.

Padahal, jangan lupa, si pangeran kecil mengingatkan rahasia sang rubah kepada pembaca: Lihatlah dengan hati. Hal-hal yang penting justru tak tampak oleh mata.
Padahal, jangan lupa, sang pilot mengingatkan pembaca dari generasi sesudahnya sejak dari halaman pembuka: Mohon maaf, buku ini ditulis untuk orang yang sudah dewasa – sahabatku yang sedang kelaparan dan kedinginan di Perancis yang sedang dilanda perang.
Padahal, jangan lupa, si pangeran kecil menjelaskan, untuk apa ia memerlukan domba itu.

Baobab! Ia memerlukan si domba untuk makan tunas-tunas kecil. Tunas-tunas kecil, yang tampak lemah, bisa berkembang menjadi tanaman yang baik, atau tanaman yang merusak. Orang sering kali abai melihat tunas-tunas, yang sebenarnya mereka tahu bisa berbahaya. Mereka abai, sampai suatu hari sekumpulan baobab sudah menjadi terlalu besar, dan merusak planet-planet kecil, tanpa dapat diperbaiki lagi. Si pangeran kecil bahkan meminta sang pilot untuk secara khusus mengingatkan anak-anak tentang pentingnya ketelitian menyiangi tunas, dan mencegah tumbuhnya baobab. Ia bahkan merasa perlu membawa domba ke planetnya untuk mencegah baobab tumbuh.

PangeranKecil-02

Sebagai pilot, Antoine de Saint-Exupéry turut menjadi patriot yang bertempur dengan pesawat kecilnya, mempertahankan tanah air Perancis melawan fasisme Eropa masa itu. Adolf Hitler, Benito Mussolini, Francisco Franco, dan para diktator fasis lain tidak pernah betul-betul menyembunyikan tujuan dan strategi mereka. Hitler bahkan menuliskan cita-citanya yang kelam bagi kemanusiaan dalam buku Mein Kampf, sepuluh tahun sebelum Perang Dunia II. Pun terang-terangan ia mengangkat kemurnian ras. Pun terang-terangan ia mengancam lawan-lawan politiknya dari seluruh Eropa. Pun terang-terangan ia mengambil alih Austria dan Ceska. Tapi politisi Eropa dan dunia mengabaikannya. Lalu ia menduduki Polandia dengan mudah, dan tak ada lagi yang mampu menahannya, hingga Perancis jatuh.

Gambarkan aku seekor domba! – pinta si pangeran kecil. Gambarkan aku sesuatu yang mampu menahan tunas-tunas kekejian, kerusakan, kejahatan untuk tumbuh dan berkuasa. Dessine moi! Design me a system to avoid, to withstand, to overcome.

Tapi, tolong jaga, agar domba itu tak menganggu si bunga mawar merah. Domba itu tidak boleh mengganggu keindahan kreasi semesta. Domba itu sama sekali tidak boleh menjadi ancaman bagi kehidupan.

Akan sang bunga sendiri. Sadarkah ia bahwa si pangeran kecil mencoba menjaganya? Ia membalasnya dengan keangkuhan yang polos, dengan kebanggaan murni yang merepotkan.

Seperti akhirnya Exupéry harus meninggalkan negerinya yang jatuh ke tangan Nazi Jerman, si pangeran kecil juga memanfaatkan migrasi para burung untuk meninggalkan planetnya. Mencari jalan untuk melindungi semesta kecilnya. Namun yang ditemuinya hanya pemimpin negara dengan ilusi kekuasaan yang terkekang (lucunya, tetap sambil sepakat dengan Foucault bahwa kekuasaan itu tersebar dalam bentuk pengetahuan), para selebriti yang sibuk bermegah mengagumi diri sendiri, korporasi dunia yang memaksa mengejar angka yang jauh dari kenyataan real, para abdi negara yang sekedar menjalankan tugas hingga kelelahan tanpa menyadari apa tujuan tugasnya, serta orang-orang yang bahkan tak paham apa pun yang tengah terjadi di luar siklus hidupnya yang memusingkan.

Metafora dalam Le Petit Prince bukan berisi satu dua gagasan, ajakan, dan cerita saja. Di dalamnya tercakup juga biografi Exupéry sendiri, kecanggungannya sebagai seorang pelarian di dunia yang tak memahami ada hal genting di dunia lain, kenangannya pada adiknya yang meninggal, dan keinginannya untuk kembali ke medan perang melawan kaum fasis. Selesai menulis buku ini, Exupéry memberikan manuskrip kepada penerbit, lengkap dengan gambar-gambar indah yang dibuatnya dengan cat air sebagai ilustrasi cerita. Lalu ia kembali ke Eropa.

PangeranKecil-03

Tapi mengapa harus kembali? Menumbuhkan kebaikan bagi semesta bisa di mana saja. Si pangeran kecil terus teringat negerinya, bunganya. Bunga itu — être-en-soi —jauh lebih penting daripada ratusan lainnya, karena keterikatan yang dibentuk oleh komitmen darinya. Maka Exupéry kembali. Di sana ia minta diterima kembali sebagai pilot tempur melawan kaum fasis. Di akhir Juli, ia terbang dalam misi pengintaian untuk perebutan kawasan Perancis selatan.

Ia tak pernah kembali.

Ia hanya meninggalkan buku janggal, bukan tentang filsafat atau tentang esai atau tentang cerita yang menggugah, tetapi tentang seorang pangeran kecil yang janggal, masuk ke dunia yang janggal, berkomunikasi dengan cara yang janggal, dan mengirimkan pesan yang tak mudah dimengerti dunia. Bagaimana mungkin dunia mengerti? Di kepala mereka hanya ada delusi kekuasaan, kekaguman pada diri sendiri, target dan pencapaian bisnis, hidup yang berputar memabukkan, dan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Les yeux sont aveugles. Il faut chercher avec le cœur. Bagi mereka, ia tak pernah kembali.

Tapi bagiku ia telah kembali.