APCC 2013

Alhamdulillah, akhirnya APCC 2013 terselesaikan. Ini proses panjang yang bikin sempat bergejolak antara semangat dan ketegangan yang sama tingginya. Ini adalah kelanjutan COMNETSAT 2012, saat Prof Byeong Gi Lee menyarankan IEEE Comsoc Indonesia Chapter menjadi tuan rumah APCC; lalu APCC 2012, saat kami memenangkan bidding untuk menjadi tuan rumah APCC 2013; disusul koordinasi kegiatan, baik event organising maupun paper management. Sebagai general chair, sidang IEEE Comsoc Indonesia Chapter memilih Dr Wiseto Agung sebagai General Chair APCC 2013. Langkah strategis lain yang dilakukan adalah menggaet ITTelkom (sekarang Universitas Telkom) sebagai co-organiser kegiatan ini, baik event maupun teknis-akademis. Seperti pada conference lain, kami harus tegang juga karena jumlah paper yang masuk sangat sedikit, hingga hari-hari terakhir. Tapi beberapa hari sebelum deadline, ratusan paper masuk melalui EDAS. Dari seluruh penjuru dunia, sebagian besar umat manusia yang terdidik sekalipun memilih mengirim materi pada detik-detik terakhir. Total terkumpul 309 paper. Technical Program Committee diketuai Dr Arifin Nugroho, dengan beberapa vice. Vice yang paling aktif-dinamis dalam proses pengolahan paper adalah Dr Rina Puji Astuti. Sementara itu konstelasi IEEE di Indonesia sedikit bergeser. Aku memegang posisi Chair di IEEE Indonesia Section, dan harus berbagi resource waktu dengan banyak kegiatan IEEE lain. Comsoc Chapter Chair (Satrio Dharmanto) dan para Past Chairs (Muhammad Ary Murti, Arief Hamdani) meneruskan perjuangan mensukseskan APCC 2013. Dengan seleksi yang ketat, APCC 2013 meluluskan 163 paper (53% dari total paper yang masuk).

APCC

APCC, Asia-Pacific Conference on Communications, adalah konferensi regional yang sangat bergengsi di Asia Pasifik sebagai salah satu kawasan dengan pertumbuhan teknologi IT tertinggi di dunia. Selain disponsori oleh IEEE Comsoc, APCC juga didukung oleh KICS di Korea, IEICE Communications Society di Jepang, dan CIC di Cina. Nama2 anggota ASC juga cukup mendebarkan: tokoh-tokoh besar yang merupakan pionir dunia ICT. APCC diselenggarakan pertama kali tahun 1993 di Taejon, Korea. APCC ke-18 tahun lalu juga diselenggarakan di Korea, tetapi di Jeju Island. Tahun ini, APCC ke-19 diselenggarakan di Bali Dynasty Resort di Pantai Kuta, 29-31 Agustus 2013. Aku memang sudah di Bali sejak 26 Agustus demi TALE 2013. Rekan-rekan dari Universitas Telkom (Bandung) didukung Universitas Udayana (Denpasar) mulai menyiapkan semua proses pada 28 Agustus.

image

Kamis, 29 Agustus, APCC dibuka. Dengan technical sponsor yang cukup banyak, cukup banyak juga speech yang disampaikan pada acara pembukaan. Tapi masing-masing memakan sekitar 5 menit saja. Opening speech disampaikan Dr Wiseto Agung (GC APCC  2013), Satriyo Dharmanto (Chair, IEEE Indonesia Comsoc Chapter), Dr. Ali Muayyadi (Universitas Telkom), Prof. Zhen Yang (Chair of APCC Steering Committee; Chair of the CIC), Dr. Ishikawa Yoshihiro (Chair, IEICE Communications Society), Prof. You-Ze Cho (Vice Chair, KICS), dan Koen (Chair, IEEE Indonesia Section). Dalam hal ini, IEEE Indonesia Section mewakili IEEE yang merupakan technical endorser kegiatan.

image

Paparanku cuma menyampaikan bahwa Asia Pasific memiliki arti besar dalam pengembangan ICT. Selain bahwa kawasan ini merupakan pusat industri ICT yang paling kompetitif, penduduk kawasan ini juga termasuk yang paling adaptif pada budaya digital lifestyle yang baru. Kekayaan budaya juag mendukung  pengembangan teknologi komunikasi, yang akan memahami dan mendukung bentuk interaksi yang sangat kontekstual dan sangat manusiawi. Namun masalah sosial kawasan ini juga mengkhawatirkan. Teknologi membuka akses informasi, tapi mendorong konsumerisme, tapi juga memungkinkan pelestarian alam, tapi juga meningkatkan polusi, tapi juga menciptakan lapangan kerja baru, tapi juga mempercepat urbanisasi, dst, dst. Tugas para insinyur adalah merancang dan mengembangkan teknologi yang akan mengatasi berbagai masalah kemanusiaan dan mencerdaskan kehidupan manusia. Pada konteks sosial inilah, kami memilih tema APCC 2013 ini: Smart Communications to Enhance the Quality of Life.

Kuncoro Wastuwibowo APCC

Sesi keynote speech diisi berturut-turut oleh Prof Byeong Gi Lee (Past President, IEEE Communications Society; Past President, KICS), yang tetap bersedia berkunjung ke Indonesia meramaikan APCC; Prof. Adnan Al-Anbuky (Director of Sensor Network and Smart Environment (SeNSe) Research Lab, School of Engineering Auckland University of Technology, Auckland – New Zealand); Mr Indra Utoyo (CISP, Telkom Indonesia; Chairman, MIKTI), dan Ichiro Inoue (Network Systems Planning & Innovation Project, NTT).

APCC Telkom Indonesia

Kegiatan berikutnya cukup padat; tapi khas untuk setiap international technical conference. Sesi special speech, sesi tutorial, sesi presentasi paralel, sesi poster, dll. Di sesi tutorial, aku menghindar dari hal mainstream macam mobile network dll; dan memilih jaringan sensor yang merupakan salah satu elemen buat Internet of Things (IoT). Tutornya kebetulan sepasang profesor dari Coventry University. Hey, ini universitas modern (bukan universitas seangkatan universitas klasik) yang tahun ini banyak memperoleh appresiasi dan penghargaan di mana-mana loh. Acara rutin lain adalah Gala Dinner, tempat beramah-tamah dalam suasana semi formal, tapi boleh tertawa keras-keras; termasuk sesi-sesi penyerahan Paper Award dari APCC Steering Committee.

image

Sesi poster, yang diselenggarakan di hari terakhir, biasanya paling sepi pengunjung. Jadi aku justru menyempatkan diri datang ke sesi poster, dan secara serius menanyai setiap pemapar poster satu-satu. Sambil belajar banyak hal baru, sambil menambah network. Perbincangan di sesi poster bisa lebih dalam dan lebih menarik daripada sesi presentasi yang waktunya sangat terbatas.

Kerja keras yang luar biasa dari para organiser, di sisi teknis, perencanaan, dan pelaksanaan. Di sesi review di Sabtu sore, aku menyampaikan bahwa biarpun para organiser selalu merasa ada banyak kekurangan, namun dari APCC Steering Committee dan para peserta, kita justru secara personal menerima appresiasi dan feedback yang sifatnya positif. Luar biasa! IEEE, Unitel, Unud, dan semua. Luar biasa. Tahun ini akan masih banyak event-event dari IEEE Indonesia Section. Mudah-mudahan semua memberikan dukungan seperti saat ini, dan memberikan hasil yang lebih luar biasa :). Thanks, all.

TALE 2013

TALE, yaitu IEEE International Conference on Teaching, Assessment and Learning for Engineering, adalah salah satu dari tiga konferensi kunci dari IEEE Education Society. Tahun ini TALE diselenggarakan di Bali Dynasty Resort, sebuah resort di tepi Pantai Kuta, Bali, tanggal 26-29 Agustus 2013. Indonesia menjadi tuan rumah TALE atas rekomendasi Prof Michael Lightner (ex IEEE Education Society President), yang merasa IEEE Indonesia Section cukup serius dalam menyelenggarakan IEEE CYBERNETICSCOM 2012, tempat beliau hadir sebagai keynote speaker. Tentu, walau memperoleh rekomendasi, tim Indonesia tetap harus melakukan bidding pada TALE 2012 di Hongkong. Waktu itu konon Indonesia mengalahkan Malaysia pada bidding final.

Bidang teknis konferensi ini dilaksanakan oleh IEEE Education Society. Jadi IEEE Indonesia Section hanya direpoti untuk event organising. Penyelenggaraan dipimpin oleh Dr Ford Lumban Gaol, sebagai General Chair. Beliau juga adalah wakil ketua (vice chair) dari IEEE Indonesia Section. Dukungan datang dari beberapa kampus, terutama Universitas Bina Nusantara, Jakarta. TALE berjalan secara serial (bukan paralel) dengan APCC; jadi kami berbagi perhatian: Pak Ford di TALE dan aku di APCC. Aku cukup datang ke TALE dalam keadaan sudah disiapkan penuh oleh komite :).

Aku mendarat di Bali Senin siang, 26 Agustus. Bandara Ngurah Rai masih dalam proses renovasi yang intensif. Dari airport ke Bynasty Resort hanya diperlukan waktu sekitar 10 menit. TALE hari pertama ini penuh dengan kegiatan tutorial dan workshop. Sempat menyimak satu sesi workshop, aku menghabiskan sore dengan biking menyusuri Pantai Kuta, sampai matahari tenggelam. Sepedanya dipinjamkan gratis, btw :). Malam, ada acara Welcome Party, berisi pengenalan para VIP dan komite. Hadir dalam event TALE ini, Prof Manuel Castro (IEEE Education Society, President), Dr Alain Chesnais (ACM, Past President), Prof. Sorel Reisman (ex IEEE Computer Society President). Aku menghabiskan banyak waktu berdiskusi dengan rekan-rekan dari Bangalore.

TALE 2013

 (Sesi foto TALE 2013 setelah Acara Pembukaan: All in Batik)

Opening ceremony dilaksanakan 27 Agustus pagi. Opening speech dari Pak Ford sebagai General Chair, Prof. Gerardus Polla (ex Rektor Binus University) mewakili Binus sebagai co-organiser, lalu aku mewakili IEEE Indonesia Section. Seperti concern yang sering aku sampaikan dalam event uang mengkaji soal education, aku mengawali dengan paradoks bahwa walaupun nyaris seluruh kemajuan teknologi ICT diawali dari kalangan pendidikan, namun ICT justru belum banyak merevolusi bidang pendidikan (dibandingkan misalnya bidang komunikasi, transportasi, industri, dll). Infrastruktur ICT untuk ini sebenarnya sudah cukup siap. Namun sekedar mendigitalkan konten dan interaksi akan jauh dari memadai untuk mencapai harapan bentuk mendidikan yang mencerdaskan siapapun, pada umur berapa pun, dari kalangan manapun, di manapun, dengan cara yang tetap manusiawi dan tak memisahkan manusia dengan lingkungan alaminya. Diperlukan paradigma baru atas proses pendidikan manusia yang berkelanjutan, dengan dukungan infrastuktur ICT yang bersifat pervasive. Ini sebenarnya hanya pembukaan buat diskusi :). Konferensi sendiri dibuka Prof Gerard Polla dengan dentuman gong Bali. Bmmm-bmmm-bmmm.

Keynote speech disampaikan oleh Prof. Manuel Castro dari IEEE Education Society, Prof. Ken Kawan Soetanto, dan Prof. Dr. Satryo Soemantri Brodjonegoro dari Binus Advisory Board. Bidang education itu menarik, mendorong, dan memiliki dampak luas. Diskusi pada sesi keynote pun cukup panas, dari berbagai visi. Pro dan kontra pada setiap aspek dari e-learning, digital education, dan lain-lain. Berbeda misalnya dengan sesi serupa dari konferensi bidang telekomunikasi. Tapi justru battle of the titan macam ini yang membuat sebuah konferensi jadi jauh lebih menarik daripada sekedar membaca tumpukan paper :).

image

 (Prof Reisman berbincang dengan Prof Castro dan M Chesnais)

Aku berbagi tugas cukup baik dengan Pak Ford. Jadi selepas acara pembukaan, kerjaku cuma iseng-iseng menjenguk sesi-sesi paralel presentasi paper dan melarikan diri ke pantai-pantai. Ini buat membuktikan tesis Wahyu Sardono alm, bahwa “Katanya pulau Bali dikelilingi pantai.” Tapi tugas ceremonial lain, tetap jalan.

image

 (Berfoto dengan Prof Castro dan Prof Ken Soetanto)

Hari terakhir, 29 Agustus (hari yang sama dengan pembukaan APCC). Bali konsisten dengan cuaca yang segar tapi panas. Para peserta sudah bergaya informal. Konferensi ditutup dengan penyerahan award oleh Alain Chesnais. Aku memberikan sambutan penutup, lalu menutup konferensi. Kali ini tidak ada gong. Jadi konferensi internasional keren ini aku tutup dengan mengetukkan pisau roti pada cawan putih. Tinq-tinq-tinq, TALE 20133 ditutup.

image

(Foto spesial dengan Alain Chesnais dan Alain Chesnais)

Bali: TALE 2013

TALE, the IEEE International Conference on Teaching, Assessment and Learning for Engineering, is one of three key conferences of the IEEE Education Society. This year, TALE was held at the Bali Dynasty Resort, a resort on the shores of Kuta Beach, Bali , 26-29 August 2013. Indonesia was recommended to host the TALE Conference by Prof. Michael Lightner (ex IEEE Education Society President), who had observed the way the IEEE Indonesia Section organised IEEE CYBERNETICSCOM 2012, where he was present as a keynote speaker. Despite the obtained recommendations, the Indonesian team should still needed to bid on TALE 2012 at Hong Kong.

The technical aspects of the conference were organised by the IEEE Education Society. The IEEE Indonesia Section needed only to organise the event. The operation was led by Dr. Ford Lumban Gaol as the General Chair. He is also the vice chair of the IEEE Indonesia Section. Some universities provided some supports, especially Bina Nusantara University in Jakarta. TALE was carried out in serial with the APCC.

I arrived in Bali on Monday afternoon, August 26. Ngurah Rai Airport was still in the process of intensive renovation. From the airport, we needed only 10 minuted to reach the Dynasty Resort. The first day of TALE was occupied by tutorials and workshop activities. I attended some workshop sessions, then I spent the afternoon biking along Kuta Beach, until the sunset. At night , there was a Welcome Party, with some introductions to the VIP and committees. Presented at the event were Prof. Manuel Castro (IEEE Education Society, President), Dr Alain Chesnais (ACM, Past President), Prof. Sorel Reisman (ex IEEE Computer Society President), etc. I spent a lot of time discussing with colleagues from Bangalore .

TALE-v01

 (TALE photo session after the Opening Ceremony 2013 : All in Batik)

The opening ceremony was held on August 27 morning. Opening speeches are presented by  Dr. Ford Lumban Gaol as General Chair; Prof. Gerardus Polla (ex Rector of Binus University) who represented Binus as co-organiser; then IEEE Indonesia Section representation — yours truly. I started with the paradox that although almost all technological advances has been initiated or supported by the education, but the ICT has not been widely revolutionised the education field (compared to — for example — the field of communications , transportation, industry , etc.). ICT infrastructure for this purpose could be considered quite ready. But just to convert the education content and interaction into digital forms would be far from sufficient to achieve the expectations of creating a new way to educate more people, anyone, of any age, anywhere, in ways that remain humane and not by separating people with their natural environment. A new paradigm is required for a lifetime process of human education, with the support of pervasive ICT infrastructure. It was actually just the opening for the discussion :). Then the conference was opened by Prof. Gerard Polla with Balinese gong. Booom – booom – booom .

The keynote speeches were delivered by Prof. Manuel Castro of the IEEE Education Society, Prof. Ken Kawan Soetanto, and Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro from Binus Advisory Board. The education field is indeed interesting, encouraging, with a broad impact. Discussions on the keynote sessions were pretty hot, resembling various visions. We easily observed many pros and cons on every aspect of e-learning  digital education, and others. But those battles of the titans had made this kind of a conference so much more interesting than just reading the paper stacks :) .

TALE-v02

 (Prof. Reisman discussed with Prof. Castro and M Chesnais)

The conference continued with parallel presentation sessions. The discussions about education were still as hot as the discussion at the keynote sessions. At night, we had a Gala Dinner session to display the culture of the region: from Balinese Dance to Asia Pacific songs and music.

TALE-v03

(Koen with Prof. Castro and Prof. Ken Soetanto)

The last day, August 29th (the same day as the opening of the APCC), Bali was still consistent with its fresh but hot weather. We closed the conference with the awarding session by Alain Chesnais. I presented the closing remarks, and then closed the conference. This time there was no gong. So I closed this extremely important international conference with a bread knife tapped on a white cup . Tinq – tinq – tinq, and TALE 2013 was closed .

TALE-v04

(Special photo with Alain Chesnais and Alain Chesnais)