Berlin

Berlin dingin dan berangin, membuat aku lupa bahwa baru beberapa hari sebelumnya aku tersengat matahari di London dan Paris. Hampir dua minggu berjalan kaki dengan lutut cedera, bikin aku agak manja. Dari terminal bis, aku memilih naik taksi ke Hotel Altberlin di kawasan Potsdamer Platz di pusat kota Berlin. Dan kayaknya, selama di Euro Area ini, selain dari Vienna Airport, aku selalu bayar taksi sebesar €15.

Hotel Altberlin bergaya klasik, tapi bukan yang bergaya keren kayak Lohmühle di Bayreuth. Kesannya malah kekar dan angker, mirip peninggalan zaman perang. Ah, tapi memang sejarah Jerman sebelum reunifikasi selalu berisi perang; dari penyatuan Jerman, PD I, PD II, hingga Perang Dingin. Brrrr. Hal2 ini tampaknya membuat penduduk Jerman masa kini lebih bergaya individualis (dalam arti tidak berminat mengatur hidup orang lain) dan toleran.

Karena belum terlalu lelah, kami malah jadi punya waktu untuk menikmati sore Berlin, yang biarpun sejuk tapi masih menampilkan langit dan awan berwarna  warni. Di peta, Hotel Altberlin berada tak jauh dari Berliner Philharmoniker. Jadi kuputuskan untuk berjalan ke arah sana. Ternyata cukup jalan 10 menit saja untuk sampai. Di sana, aku memilah2 program yang bisa ditampilkan, dan memutuskan untuk menyaksikan satu performansi orkestra di malam berikutnya. Jalan2 diteruskan. Berliner Philharmoniker merupakan gedung bergaya seni modern, terletak dalam kompleks yang bertetangga dengan Museum Musik, di depan Sony Centre. Cahaya matahari yang dipantulkan kaca di Sony Centre membuat warna coklat kuning di kompleks ini tampak seperti negeri dongeng.

Acara menunggu matahari terbenam sore itu dilanjutkan di sekitar Potsdamer Platz. Karena kami berada di pusat kota, maka kami juga berada di sekitar bekas tembol yang memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur, bekas masa Perang Dingin itu. Brrr. Di atas stasiun Potzdamer Platz kami melihat sisa2 tempok, bagian sangat kecil yang sengaja tidak diruntuhkan untuk jadi monumen.

Menyusuri sisa tembok, kami sampai di Gerbang Brandenburg (Branderburg Tor) yang merupakan landmark Jerman. Dulu, ini adalah satu dari sekian banyak gerbang kota Berlin. Tapi yang satu ini posisinya paling menarik: menghadap Tiergarten yang merupakan taman dan hutan yang sangat luas di tengah Berlin. Hutan luas di tengah kota — memang menarik :). Selama Perang Dingin (brrrr), gerbang ini terkurung pagar dan tak dapat bebas diakses kecuali oleh pejabat dari Blok Timur. Maka runtuhnya tembok, dan kemudian bersatunya Jerman (dan Berlin) dulu dirayakan besar2an secara simbolik di Gerbang Brandenburg ini. Namun gerbang ini kini bersuasana tenang dan damai. Di sekitarnya adalah kompleks2 pemerintahan dan kedutaan2 (termasuk Kedutaan AS tepat di sebelah gerbang).

Matahari tenggelam, dan nyaris tengah malam lagi. Melawan udara yang makin dingin, kami segera kembali ke Altberlin; kali ini naik bis.

Hari berikutnya, kami mau iseng mencobai transportasi umum di Berlin. Hotel Altberlin sungguh strategis: ada halte bis tepat di depan pintunya. Membeli Tageskarte (One day card) seharga €6.3, kami bisa naik bis, tram, U-Bahn, dan S-Bahn di dalam kota. Ternyata U-Bahn kadang ada di atas tanah, dan S-Bahn pun sering tenggelam di dalam tanah. Kami menjelajah bagian utara Berlin, dan mengunjungi Museum für Naturkunde, atau Museum Sains. Kami memang tak pernah bosan mengunjungi museum sains di manapun. Semua memiliki keunikan, baik materi, fokus perhatian, maupun metode menyampaikan informasi ilmiah secara populer kepada pengunjung.

Di museum ini, kita disambut oleh tiga dinosaurus raksasa. Aku rasa seharusnya aku bawa keponakan2ku, yang pasti hafal nama2 hewan raksasa yang malang itu. Di dalam, sebuah globe besar yang cukup presisi ditempel sebuah layar besar. Layar bergerak di atas globe, menampilkan sebuah bagian bumi, dan menceritakan sejarah geologi hingga ekologi yang berkaitan dengan visual bagian bumi itu. Cara yang kreatif. Bisa berjam2 aku di bagian itu, kalau tidak tertarik oleh penasaran pada ruang2 lain.

Di samping, ada penjelajahan tatasurya dan galaksi. Tapi aku suka melihat bagian sampingnya; tentang elemen2, dan bagaimana mereka bisa berada di bumi. Ada bagian yang mengingatkan aku pada sebuah diskusi di pengajian beberapa tahun lalu; bagaimana Al-Quran menyebutkan secara eksplisit bahwa besi itu diturunkan (dari atas, dari angkasa). Besi tidak mungkin diciptakan dengan tekanan dari benda sebesar planet atau bintang kecil. Harus ada bintang yang cukup besar, menyusun fusi jutaan tahun membentuk helium hingga karbon dan besi; kemudian ia harus meledak atau bertabrakan dengan bintang lain, melepas elemen2 relatif berat itu, dan suatu dari sebagian kecil kabutnya membentuk tatasurya atau bagian tatasurya yang baru, termasuk bumi. Di museum itu ditampilkan persentase probabilitas (dan bisa berarti distribusi) elemen di semesta; akibat proses fusi, ledakan dan penggabungan, peluruhan, fisi, dll.

Di belakang, adalah hewan2 yang diawetkan. Mirip museum zoologi di Bogor. Tapi lebih lengkap. Di ujung lain dari museum, ada pameran tentang kota Berlin. Hewan2 liar apa saja yang dapat ditemui di Berlin. Antara lain ada tupai merah :). Yang ini konon jauh lebih pemalu daripada rekan2nya tupai kelabu di Amerika dan Britania. Tapi di taman2 makam2 di sekitar Berlin, mereka cukup jinak karena sering berinteraksi dengan manusia. Ada juga rubah, dan bahkan celeng. Wah, Obelix bakal bahagia tinggal di sini. Di Paris mana ada mamalia liar — cuma ada burung2 gagak.

Berikutnya, menyusuri jalan2; trus kembali dengan S-Bahn ke Potsdamer Platz, dan seharusnya kembali ke hotel dengan bis. Tapi, ini benar2 ajaib. Bis di Berlin bukan saja bisa terlambat, atau sangat terlambat, tapi juga bisa cancel. Aku gak tahu ada apa di sisi kota yang lain; tapi semua bis ke arah hotelku ditunda atau dibatalkan. Tapi, tentu, cuma perlu 20 menit berjalan kaki untuk sampai di hotel.

Sore, rintik membasahi Berlin. Kami menembus rintik dengan bis disambung jalan kaki ke Berliner Philharmoniker lagi. Sedikit antri, kami dicecar di loket: cuma ada tiket mahal €80 dan tiket berdiri lho, katanya. Lho, mereka pikir berapa harga tiket di Wina, misalnya. Atau tiket pesawat ke Berlin. Tapi melihat setelan sebagian besar penonton yang agak hingga sangat resmi, dan membandingkan dengan kami yang mengenakan jaket sederhana (tapi rapi loh), plus badan kami yang kecil mungil, aku jadi berprasangka: jangan2 kami dituduh mahasiswa. Tapi kami akhirnya bisa dapat tiket.

Berliner Philharmoniker malam itu memainkan Missa Solemnis dari Beethoven. Sebagai choir adalah Bayerischer Rundfunk. Dan sebagai konduktor adalah Herbert Blomstedt. Mr Blomstedt lahir di tahun 1920an. Waktu Mama aku berusia 5 tahun, Mr Blomstedt sudah memperoleh gelar konduktor terbaik se-Eropa. Dan hingga tahun 2012 ini beliau masik aktif memimpin orkestra salah satu karya mutakhir Beethoven.

Missa Solemnis dianggap Beethoven sendiri sebagai salah satu karya puncaknya. Ia ditulis pada masa yang sama dengan Simfoni Kesembilan. Saat menulis karya ini, Beethoven sedang dalam masa krisis. Ketuliannya mengganggu aktivitasnya menyusun komposisi musik, sekaligus membuatnya makin terisolasi dari masyarakat. Pada masa ini, ia menyusun String Quarter terakhir, Simfoni Kesembilan, dan Missa Solemnis. Dari segi ide, mungkin memang ada kaitan antara melankoli Beethoven masa itu dengan keinginannya untuk lebih dekat pada Tuhan. Namun yang terdengar justru adalah kedalaman dan variasi yang luar biasa dari pikiran dan perasaan Beethoven sendiri. Strukturnya, tentu berbeda dengan simfoni-simfoni Beethoven. Keterasingan struktur ini (buat aku), justru menambah misteri karya besar ini.

Hari berikutnya, ke Tiersgarten, dan disusul persiapan pulang :). Dalam plan, memang Berlin tak terlalu diseriusi. Mirip terminal akhir tempat pulang. Tapi jelas Berlin bukan kota yang patut diabaikan. Kota ini memiliki keteraturan yang menarik, penduduk yang berdisiplin, dan memberikan perasaan kemerdekaan berkeksplorasi yang belum dapat diberikan oleh ibukota negara2 besar lain di Eropa (mis London dan Paris).

Sebenarnya, di awal Juni ini, bandara2 eks Berlin Barat dan Berlin Timur akan ditutup, menyusul dibukanya Brandenburg Airport yang baru dan besar. Namun ternyata pesawat kami masih akan diterbangkan dari Bandara Tegel. Aku tergoda naik taksi lagi ke Bandara Tegel. Lokasinya tak jauh dari kota, sopir taksi di Berlin gak bandel2 amat, dan kami punya 2 koper. Paling €30 – €40. Tapi, mendadak ada godaan lain, yaitu mencoba menggunakan transport umum nan lapang itu untuk ke airport bawa koper. Tentu waktunya dipilih sebelum para pekerja di Berlin pulang dari kantor :). Kami masih punya Tageskarte. Ini kami pakai naik bis ke S-Bahn, naik S-Bahn ke stasiun terakhir dekat airport, dan naik airport bus. Wow, dengan kartu ex jalan2 pagi hari itu, kami bisa sampai di Tegel Airport tanpa membayar apa pun! :)

Tegel Airport itu mungil. Memang sudah harus dipindahkan, atau dijadikan terminal domestik saja. Beristirahat di Starbucks (anggaplah Airport Lounge, wkwk); lalu check-in. Untuk check-in, kami boleh melewati antrean panjang, kerna sudah melakukan mobile check-in. Langsung masuk port di belakang tempat check-in, satu orang petugas imigrasi sudah menunggu untuk memeriksa paspor kami. Ia menghitung lama kami tinggal di Eropa menggunakan jari tangan. Wkwkwk. Dan begitu lolos, kami sudah di ruang persiapan boarding. Memang bandara mini yang unik, berbeda dengan semua bandara internasional. Tapi mungkin ini kali terakhir kami melihat Tegel Airport.

Selanjutnya …. kembali ke negeri kesayangan kami …. Indonesia :)

UEFA Euro 2012

Wow! Ternyata, dari 5 negara yang kami kunjungi dalam sesi Europe 2012, empat di antaranya masuk Perempat Final dalam UEFA Euro 2012! Kejutan memang terjadi pada Ceska, yang sempat kalah 1-4 dari Russia di awal kompetisi; tapi ia cepat mengejar ketinggalan dengan mengalahkan Polandia, sementara Russia justru kalah melawan Yunani.

Satu negara lagi, Austria, malah tidak lolos kualifikasi untuk Euro 2012. Well, on ne peut pas bon en tout. Tapi, kata taxi driver di Wina sendiri: “Rakyat kami memang lebih suka musik dan menyanyi daripada sepakbola.” Wkwkwk. Masa sih?

Bayreuth

Dresden sebenarnya merupakan kota bersejarah yang masih berkait dengan kota2 tujuan perjalanan sesi ini. Dresden pernah menjadi tempat tinggal Wagner selama beberapa tahun. Tannhauser dan Die Fliegende Hollander disusun di sini. Namun kemudian Wagner melibatkan diri sebagai salah satu pemimpin dalam pemberontakan kaum anarkis di tahun 1849, yang kemudian ditumpas tentara Prussia. Peristiwa ini membuat Wagner kehilangan karir, menjadi buron, dan hidup berpindah2 dalam tahun2 berikutnya: Paris, Zurich, dst.

Selama hidup serba kekurangan dalam pengasingan, Wagner justru dapat menyelesaikan sebagian besar dari karya agungnya: tetralogi opera Der Ring Des Nibelungen, serta Tristan & Isolde. Karya2 ini sering digunakan sebagai contoh mereka yang berkarya benar2 demi aktualisasi diri. Wagner bahkan saat itu tidak punya masa depan dan tidak memiliki peluang untuk menampilkan karyanya di mana pun. Sayangnya aku tidak punya banyak waktu untuk menjelajah Dresden dan melihat jejak Wagner di sana. Cuma sekedar mampir, turun dari Kereta Praha-Berlin, beli tiket, dan pindah ke Kereta Dresden-Nurenberg untuk turun di Bayreuth.

Balik ke mesin waktu lagi. Raja Bavaria, Ludwig II, yang baru naik tahta; ternyata mengagumi karya2 Wagner. Salah satunya adalah opera Lohengrin; tentang ksatria Templar bernama Lohengrin yang datang sebagai penolong ke wilayah Brabant mengendarai angsa besar. Ludwig pun membuat istana impian yang indah di atas perbukitan, dan dinamai Neuschwanstein (Karang Angsa Baru). Namun raja muda ini juga mengirim utusan untuk memanggil kembali Wagner ke negeri Jerman dan merehabilitasinya.

Wagner sempat tinggal di Munich. Namun orang2 berpengaruh di Bavaria sempat memaksa Ludwid II untuk meminta Wagner keluar dari Munich.

Wagner akhirnya memilih kota Bayreuth. Konon ia memilih kota itu karena terdapat Bayreuth Opernhaus yang panggungnya besar dan indah. Maka Wagner pun tinggal di Bayreuth. Namun setelah melakukan penjajagan, akhirnya Wagner justru membangun gedung opera tersendiri. Dana diperoleh dari kegiatan Wagner menggelar orchestra berkeliling Jerman, didukung penggalangan dana para pengagumnya, dan akhirnya oleh sumbangan yang besar dari Ludwig II. Di gedung opera baru ini, opera2 Wagner ditampilkan secara megah setiap tahun. Bahkan hingga kini.

Beralih dari Negara bagian Sachsen ke Bayern (Bavaria), kereta dari Dresden berhenti di stasiun Kirchenlaibach.Kami berpindah ke kereta mungil yang membawa kami dalam 10 menit ke kota Bayreuth. Di sana, kami dijemput walikota Bayreuth, Dian Ekawati.. Setidaknya mirip walikota, kerna tampaknya setiap orang di Bayreuth mengenal akrab tokoh yang satu ini. Menitipkan tas di hotel, Dian langsung mengajak kami sore itu juga ke rumah Wagner, tidak jauh dari hotel. (Tidak ada yang jauh. Ini kota memang mungil).

Seperti Parsifal yang berhasil kembali menemui markas Ksatria Templar, seperti Siegfried yang berhasil menembus gunung berpagar api, seperti Lohengrin yang lega turun di tepi sungai setelah capai mengendarai angsa (bayangin deh), akhirnya aku bisa menemui Wahnfried, rumah yang dirancang dan dihuni Richard Wagner. “Di sini kesintinganku beroleh kedamaian,” tulis Wagner di temboknya, “maka tempat ini kunamakan Wahnfried.”

Kami berkeliling di sekitar rumah. Di halaman belakang, tampak makam Richard dan Cosima Wagner. Ke luar dari rumah mereka dari belakang, kami masuk taman Hofgarten yang luas dan asri. Suasanya dingin.

Kami menghabiskan sisa hari di apartemen Dian. Sambil cuci2 baju (pakai koin, wkwkwk), dan disuguhi masakan ala Indonesia. Pantas Dian betah di Bayreuth. Ternyata ada Indonesia di dalam Bayreuth. Hari sudah sangat gelap waktu kami kembali ke hotel. Wahnfried ini tampak menyala terang di bawah cahaya keemasan. Terdengar music gelap penutup saat Parsifal kembali ke tempat para Ksatria Templar. Tapi tampaknya music misterius itu cuma ilusi lagi.

Pagi hari, kami baru mulai mengamati hotel kami. Lohmühle Hotel. Hotel mungil dan cantik dengan gaya Jerman tradisional. Bertahun2 lalu aku membayangkan bisa tinggal di salah satu bangunan putih dengan ornament kayu gelap menyilang semacam itu. Sayangnya kami tak berbasil berbahasa Inggris di sekitar sini. Semua berbahasa jerman, kecuali Mbak Ivo, yang memang orang Indonesia yang berbahasa Indonesia. Konon orang Indonesia di Bayreuth tinggal 3 orang.

Perjalanan pagi dimulai dengan menyusuri jalan2 kecil kota Bayreuth. Tujuan pertama adalah Bayreuth Opernhaus. Ini adalah gedung opera yang membuat Wagner memilih tinggal di kota ini. Bagian dalamnya memang indah, klasik, dan terpelihara. Kapasitas penonton tek terlalu besar. Tapi panggungnya sangat luas.

Masih ada beberapa istana, taman, dan toko buku yang wajib dikunjungi. Guidenya masih Dian. Bikin aku mendadak jadi useless satu hari penuh, wkwk. Sayangnya buku2nya berbahasa Jerman (Jadi, mau loo?). Akhirnya malah beli satu DVD pentas Lohengrin versi 2011. Yang 2012 baru akan dipentaskan bulan Juli ini.

Di akhir kunjungan singkat ke Bayreuth, kami mengunjungi Bayreuth Festspielhaus, gedung opera yang dibangun Richard Wagner. Dari depan, gedung ini menampilkan arsitektur zaman klasik akhir; tapi sebagian besar gedung hanya berupa susunan batu merah tanpa polesan. Sebuah kesederhanaan yang menarik.

Di Festspielhaus ini, akhirnya Der Ring Des Nibelungen dapat ditampilkan secara lengkap. Juga kemudian Parsifal. Dan setahun setelah Parsifal, Wagner wafat. Makamnya ada de belakang Wahnfried. Di depan Festspielhaus dipasang patung Wagner yang tengah merenung. Di depannya, seekor tupai kecil berwarna merah menikmati hari yang cerah. Kaget melihat kami, si tupai melompat ke atas pohon, dan cuma menampilkan ekornya yang lebat melambai heboh. Kadang ia meliriki kami sambil terus makan, dan membiarkan remah2 makanannya menjatuhi kami. Tupai bandel.

Tapi kami harus mengejar bis ke Berlin. Jadi kami turun lagi ke Stasiun Bayreuth., dadah2an ke Dian, lalu diangkat oleh bis bertingkat dua yang membawa kami kencang tanpa ampun meninggalkan jejak visual Wagner yang terakhir. Kali ini ilusi audio bukan lagi Parsifal; tapi Das Rheingold.

Wien

Dari pesawat Vuelling, aku bisa menikmati pemandangan pegunungan Alpen yang puncak dan lerengnya masih dipenuhi garis-garis salju di akhir musim semi ini. Namun tak lama pesawat mulai merendah, dan pemandangan berubah menjadi padang2 dan ladang hijau yang luas, diselingi kota2 dan desa2 kecil. Lalu pesawat mendarat di Flughafen Wien — Bandara Wina. Wien, Vienna, Vienne, atau biarlah kutulis versi Indonesianya: Wina. Ibukota Austria ini ada di timur laut negara; berada tak jauh dari kota Bratislava yang merupakan ibukota Slovenska.

Mendarat di sini, aku berharap mudah2an orang Austria mau berbahasa Inggris. Aku nggak bisa bahasa Jerman sepicing pun :D. Tapi harapanku terlaksana. Maklumat di Wina ditulis atau dilantunkan dwibahasa, dan nyaris semua warga segala usia mau berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Baru asik baca jadwal kereta ke kota Wina, aku ditawari naik taksi yang harganya tak berbeda jauh dengan kereta untuk dua orang. Wow :). Jadilah kami diantar private taxi itu ke hotel.

Hotel kami, Austria Trend Lasalle, berada dekat sungai Danube. Kami menikmati sore di tepi sungai. Berbeda dengan London dan Paris yang luar biasa panas; di Wina kami merasakan kembali suasana Eropa yang kami bayangkan: sejuk :). Wina menggunakan waktu yang sama dengan Paris, padahal posisinya jauh lebih timur. Maka di sini matahari terbenam 1 jam lebih cepat dari di Paris: sekitar pukul 20:40. Sungai Danube berwarna ungu, menampilkan bayangan langit senja. Tampak lebar. Padahal itu baru setengah sungai. Yang kami lihat di ujung bukan tepi sungai, tetapi sebenarnya pulau di tengah sungai. Bahkan sebelum melihat kota Wina, aku sudah berasa betah di sini. Tapi dinginnya mulai serius. Brrrr.

Hotel Lasalle sebenarnya tak terlalu murah. Tapi kami beroleh diskon cukup besar, jadi tak terasa mahal. Hotelnya bagus, keren, dengan fasilitas lengkap. Ini hotel dengan fasilitas terlengkap dalam perjalanan Eropa 2012 ini. Tapi ternyata kami masih kena charge untuk sarapan sebesar €15 per orang per pagi. Mahal ya? Resepsionis sangat helpful. Selain bisa menjawab berbagai hal tentang Wina, mereka juga bisa memesankan berbagai macam tiket, dan dapat menjual Vienna Card yang merupakan travel ticket untuk semua transportasi publik di Wina. Vienna Card berharga €19, dan dapat digunakan 3 hari setelah aktivasi awal. Aktivasi dapat dilakukan di stasiun U-Bahn atau di bis. Tapi, tiket ini cuma kami beli, diaktifkan, dan disimpan rapi di dompet. Semua pintu sudah terbuka tanpa harus menggunakan tiket ini; dan tidak ada satu petugaspun yang memeriksa tiket. Semua bekerja berdasar kepercayaan semata. Di Eropa bagian agak timur ini (Austria, Ceska, Jerman), tampaknya ini menjadi aturan umum; berbeda dengan di Inggris (Tube) atau Perancis (Metro, RER), dimana kita harus menggunakan tiket atau kartu untuk bisa masuk ke gerbang di stasiun.

Pagi, setelah menikmati sarapan yang sehat dan penuh buah2an :), kami menjelajah U-Bahn. Keluar di Karlplatz, kami langsung disambut oleh Wiener Staatsoper. Ini adalah tempat performansi reguler dari Wiener Philharmoniker; satu dari tiga orkestra terbaik di dunia (di samping Koninklijk Concertgebouw dan Berliner Philharmoniker). Tapi sayangnya, dalam hari kunjungan kami, sedang tidak ada konser menarik di sana.

Tak jauh dari Staatsoper, kami temui Hofburg, kompleks istana Dinasti Habsburg. Dinasti Habsburg adalah dinasti terakhir dari Kekaisaran Roma (Holy Roman Empire) yang berawal dari Charlemagne di Milenium I. Kekuasaan Roma ini bersejarah panjang dan tak selalu mulus: kadang turun temurun dan kadang memerlukan pemilihan dari para raja dan pangeran di Eropa; kadang memerlukan pengangkatan oleh Paus tapi seringkali juga tidak perlu. Kaisar terakhir yang berkuasa sebelum Dinasti Habsburg adalah Raja Bohemia Charles IV (akan kita temui peninggalannya di Praha) dan kemudian putranya Sigismund. Dinasti Habsburg berkuasa dari pertengahan abad ke-15 hingga abad ke-19, dengan kaisar terakhir Francis I. Sebagai reaksi atas melemahnya kekuasaan Roma, dan berkuasanya Napoleon sebagai Kaisar di Perancis; Kaisar Francis I  membentuk Kekaisaran Austria (Kaisertum Österreich). Kekaisaran ini masih melemah, dan kemudian direformasi di akhir abad ke-19 menjadi Kesatuan Kekaisaran Austria dan Kerajaan Hongaria (lupa nama aslinya). Kekaisaran Habsburg ini pun akhirnya melemah, mencoba menyusun konfigurasi baru dengan Perang Dunia I, namun kalah dan akhirnya runtuh; meninggalkan Republik Austria dan negara-negara di sekitarnya yang merdeka dari cengkeraman kekaisaran. Austria sempat diduduki Jerman pada Perang Dunia II, nyaris tanpa perlawanan. Setelah PD II usai, negara ini dibagi empat, mirip Jerman. Namun Austria hanya dianggap salah satu korban perang. Empat negara sekutu (Inggris, Perancis, Amerika Serikat, Uni Soviet) akhirnya mengembalikan kedaulatan negara ini sebagai republik yang bersatu (tak seperti Jerman yang dibagi dua); namun dengan perjanjian bahwa negara ini akan tetap netral.

Austria sudah jadi republik; namun kompleks istana kekaisaran Austria masih terpelihara rapi, dan digunakan untuk keperluan publik: museum, perpustakaan, tempat pameran, dll. Jadi, memang terdapat banyak sekali museum di Hofburg, dari museum seni, budaya rakyat, buku, botani, dll. Ditambah cuaca Wina yang sejuk dan kadang hangat, tempat ini benar2 membuat feel at home. Juga karena bendera kota Wina adalah Merah Putih seperti Indonesia. (Bendera Austria, tentu, adalah Merah-Putih-Merah).

Masih di sekitar Hofburg, mendadak terbaca nama Ruang Studi Wittgenstein. Haha. Mungkin bukan ruang studi yang pernah dipakai Ludwig Wittgenstein, tapi sekedar mengenang nama filsuf itu untuk ruang studi. Wittgenstein memang tumbuh besar di Wina. Ia pernah jadi matematikawan, fisikawan, veteran perang, guru SD, tapi akhirnya memilih jadi filsuf. Bukunya yang sangat berpengaruh adalah Tractatus Logico-Philosophicus. Pernah ada kelompok filsuf Lingkaran Wina (Der Wiener Kreis) yang begitu memujanya. Tapi Wittgenstein tak mau mengidentifikasikan diri sebagai bagian kelompok itu. Filsuf Karl Popper, yang berminat bergabung dengan Lingkaran Wina, justru ditolak. Itu membuat Karl Popper jadi penuh dendam dan selalu ingin mengalahkan Wittgenstein :).

Pusat kota Wina cukup besar juga. Tak bisa dihabisi dengan jalan kaki. Jadi iseng kami coba naik kereta kuda. Hey, kami kan turis. Kusir kereta kuda berlaku juga sebagai guide yang menceritakan tempat2 yang kami lalui. Di sini tempat Mozart pertama kali memainkan simfoni di Wina setelah datang dari Salzburg pada usia 6 tahun. Di sini ini itu, di sini bla bla bla. Toko buku di Wina banyak sekali, dari buku baru sampai buku bekas, dari toko buku modern sampai yang klasik dan kuno. Belum puas naik kereta kuda, kali ini aku coba naik tram. Dulu Jakarta, Bandung, Malang, dan kota2 di Indonesia sempat punya tram. Tapi lenyap seiring jatuhnya administrasi kebelandaan; dan tak dibangun lagi di zaman republik. Mungkin jalan tram dianggap lebih baik dipakai mobil pribadi atau mobil umum. Tapi kini di Jakarta jalannya dipotong permanen lagi, dedicated untuk Transjakarta. Kenapa nggak balik ke tram lagi ya? :).

Sore, kami ke Schloss Schönbrunn. Ini adalah satu istana peristirahatan milik kekaisaran. Tempat ini memiliki taman yang luas, kolam yang besar, dan aneka karya seni. Tapi kami ke Schloss Schönbrunn untuk menikmati musik kamar khas Wina. Performansi bukan dalam bentuk orkestra yang serius. Bertempat di ruang pertemuan yang besar, 15 pemain memainkan musik-musik khas Austria dari Mozart dan keluarga Strauss; dipimpin seorang konduktor. Seorang penyanyi tenor dan sopran kadang mengiringi. Suasananya santai, dan kadang penuh canda. Buat yang mau menikmati musik klasik yang menyenangkan, sambil tertawa dan bertepuk tangan, ini adalah performansi yang tepat :).

Hari berikutnya, kami bermain ke sekitar Stephanplatz. Keluar stasiun U-Bahn, kami langsung dihadapi pintu depan Stephansdom, atau Katedral St Stephan yang tinggi dan besar sekali. Katedral ini dikelilingi bangunan klasik, toko2 klasik, dan semacam bazaar tempat berbagai kerajinan diperjualbelikan. Kabur naik U-Bahn lagi, kami menuju Meidling. Kali ini suasananya seperti kota modern, tapi tetap tak terlalu ramai. Nyaman untuk berjalan2 sambil melihat suasana tenang dari penduduk setempat, minus turis2. Loh, padahal kami kan turis.

Lepas tengah hari, kami menuju Stasiun Wien Meidling, membeli tiket kereta ke arah Praha. Tiket ini tidak diberi jam atau nomor. Jadi aku boleh naik kereta yang mana saja, asal ke Praha. Maka kami memilih kereta Smetana pukul 14:33, dan dengan menyesal meninggalkan Wina. Menyesal, kerna cuma mencadangkan waktu yang singkat untuk berkenalan dengan kota ini. Tapi, kan namanya perkenalan. Lain hari tentu ada waktu untuk mengenal lebih jauh :).

Auf Wiederschauen, Wien! Terima kasih buat keramahannya yang tulus.

Praha

Kereta api dari dan ke Praha secara unik dinamai menurut para seniman dan komposer. Kereta dari Wina ke Praha pukul 14:33 itu berjudul Smetana. Serasa jadi mendengar simfoni Ma Vlast dari Bedrich Smetana yang mengantar ke Sungai Vltava. Melintas perbatasan, kereta memasuki kota Breclav, Brno, Ceska Trebova, lalu berbelok ke barat, melintasi ladang di samping bukit yang berkelok — seragam tapi tak membosankan. Akhirnya masuk ke kota Praha.

Konon di bagian baru kota Praha, banyak orang2 usil. Tapi orang usil tak kurang banyak di Jakarta. Jadi buat kita tentu ini bukan masalah. Pertama, aku tidak menukarkan Euro sisa Austria ke Korun; tapi alih2 langsung ambil uang Korun (Kc atau CZK) di ATM. Kedua, aku bawa daftar taksi yang terpercaya. Tapi sayangnya taksinya gak ada di sekitar stasiun. Jadi sok pédé aku ke tempat taksi, talk dengan dispatchernya (yang mengaku cuma bisa sedikit bahasa Inggris). Dia minta harga 800 Kc. Aku pura2 kaget, “Mahal sekali?” “Maunya berapa?” Wow, Jakarta sekali. “300 Kc ya.” Dia nyebut harga2 lain. Tapi aku bilang nggak mau lebih dari 400 Kc. Deal. Taksi kuning melaju kencang agak ugal2an meninggalkan kota baru Praha masuk ke kawasan kota tua, dan langsung menurunkan aku di Hotel Residence Mala Strana. (Dalam perjalanan keluar Praha, aku naik taksi dari hotel dengan biaya resmi 350 Kc. Ditambah tip jadi 400 Kc.).

Hotel ini berada di Mala Strana, bagian dari kota tua Praha dengan gaya yang masih klasik. Receptionist menerima dalam bahasa Inggris yang jernih. Selama di kota tua ini aku membuktikan bahwa orang2 Ceska berbahasa Inggris dengan bagus dan jelas, termasuk penjaga kedai dan sopir tram. Ini semacam reaksi atas bahasa negara2 bekas penjajah seperti Jerman dan Russia: mereka menjadikan Inggris bahasa kedua.

Ceska adalah wilayah dari salah satu rumpun bangsa Slav barat. Dulu mereka mendirikan kerajaan Bohemia dan Moravia. Namun saat Dinasti Habsburg mengorganisasikan wilayah Eropa Tengah sebagai Kekaisaran Austria, kerajaan mereka dimasukkan ke dalamnya. Kekaisaran Austria mulai melemah dan direformasi menjadi Kesatuan Kekaisaran Austria dan Kerajaan Hongaria. Melemahnya organisasi bangsa2 berbahasa Jerman memicu mereka (Jerman dan Austria) memicu Perang Dunia I, yang justru akhirnya membubarkan Kekaisaran Jerman dan Kekaisaran Austria. Ceska yang merupakan wilayah Slav barat eks jajahan Austria, dan Slovenska yang merupakan wilayah Slav barat eks jajahan Hongaria bergabung menjadi Ceskoslovenska (Cekoslovakia). Penggabungan ini bertujuan agar mereka sedikit lebih kuat dalam posisi terkepung negeri2 dominan. Namun dalam pretext Perang Dunia II, Cekoslovakia diduduki Jerman (plus Hongaria dan Polandia), dan selanjutnya dikuasai kaum komunis setelah PD II. Upaya rakyat untuk membuat negara yang lebih menghargai kebebasan individu di tahun 1968 dibalas Uni Soviet dengan mengirim tank-tank dan menduduki negeri itu, serta memberlakukan gaya komunis garis keras. Setelah komunisme bubar dan Uni Soviet bubar, Cekoslovakia menjadi negara yang mandiri, dan tak lama berpisah menjadi Republik Ceska yang beribukota Praha dan Republik Slovenska yang beribukota Bratislava. Ceska dan Cekoslovakia sendiri mengingatkan aku akan Smetana, Dvorak, Kafka, hingga Kundera. Terutama Milan Kundera, tentu saja — sastrawan yang lahir di Brno dan terusir dari Cekoslovakia zaman pendudukan Uni Soviet. Dulu Indonesia bersahabat dengan Cekoslovakia; dan menulis nama ibukota negara itu sebagai Praha, yang merupakan nama asli mereka, bukan Prague atau Prag. Sekarang, meneruskan semangat yang sama, aku menulis nama negeri mereka sebagai Ceska, bukan Ceko atau Czechs.

Sore pertama, kamu berjalan sepanjang Mala Strana, melintasi Taman Petrin dan Museum Musik (Dvorak), dan berhenti di Jembatan Karluv (Karluv most, Charles Bridge). Jembatan ini dibuat pada masa Raja Charles IV, dan digunakan ratusan tahun. Baru di Abad XX, jembatan kuno ini ditutup untuk kendaraan, dan hanya digunakan untuk pejalan kaki. Konstruksi batunya masih kokoh, tepiannya adalah deretan patung dan pahatan yang merupakan karya seni dari abad ke abad. Pecinta karya klasik akan terpukau deretan artefax luar biasa ini, yang makin memukau di bawah lembayung sore saat matahari mulai tenggelam. Sementara, penggemar budaya pop pasti langsung ingat adegan2 di film Mission Impossible (versi Tom Cruise), tempat Jim Phelps pura2 mati, jatuh dari jembatan Karluv ini, dan tercebur ke sungai Vltava. Cerita menyebalkan. Tapi tempatnya memang mendukung: indah sekaligus misterius seperti menyimpan rahasia-rahasia terkonvolusi yang tak akan terkuak berabad-abad.

Hari berikutnya, kami menyusuri bagian2 dari Praha menggunakan tram, plus jalan kaki. Tiket tram dapat dibeli di mesin penjual. Andai mesin tak ditemukan, tiket bisa dibeli di kedai rokok terdekat. Harganya 24 Kc untuk 30 menit, atau 32 Kc untuk 90 menit. Tiket diaktivasi dulu di kotak kuning di dalam tram. Tapi sebenarnya tidak ada yang memeriksa apakah penumpang tram sudah membeli atau membawa tiket yang sudah aktif. Semuanya bekerja dengan sistem saling percaya saja. Kota Praha kecil, jadi aku selalu beli yang 24 Kc saja.

Pertama, naik tram dari dekat hotel, melewati jalan melingkar memanjat bukit, ke Kastil Praha (Prazky hrad). Ada yang bilang ini adalah kastil terbesar di dunia. Di dalamnya terdapat taman2, gereja2, istana, hall, kantor2 pemerintahan, dan bangunan lain, dari yang bergaya gothic hingga modern. Dulu ini adalah istana Raja Bohemia, namun terus digunakan berabad2, dan hingga kini digunakan sebagai kantor Presiden Ceska.

Menjelang siang, kami turun lagi ke pusat kota. Menikmati macchiato di Starbucks yang ditata dengan gaya klasik; lalu menyusuri bangunan2 klasik dan jalan berbatu; mengarah ke Museum Kafka.

Museum Kafka mengambil bangunan dari rumah tempat lahir Franz Kafka. Di dalamnya dipamerkan bagaimana Praha membentuk dan memetamorfosis Kafka dan bagaimana Kafka mengeksplorasi Praha, dunia, dan semestanya untuk membentuk karya2nya yang inspirasional hingga kini. Sayangnya, di dalam museum ini kita dilarang memotret apa pun. Bagian awal menampilkan Praha yang hitam putih, kabur, menampilkan sudut kota tanpa berprasangka dan tanpa membandingkan dengan nilai-nilai besar. Serba senyap, rahasia, mempermainkan ruang, membalik kejelasan, mempesona, dan mengancam. Catatan harian dan surat Kafka masa remaja tertata rapi, dengan terjemahan pada bagian2 penting, menampilkan konflik kognitif pada hidup anak muda ini. Karya2 Kafka sendiri nyaris tidak pernah menyebut tempat real di kota ini. Orang hanya bisa menduga bahwa gereja anonim dalam buku Trial mungkin adalah Katedral St Viltus di dalam Kastil Praha; atau adegan lain yang menyebut jalan dekat Jembatan Karluv, bantaran sungai Vltava, dll. Praha hadir tanpa nama dalam Kafka. Juga kadang tanpa rupa, dan hanya jadi metafora topologi.

Keluar museum, kami menyusuri kota tua lagi, menjejak Charles Bridge lagi, dan kali ini menyeberanginya ke bagian lain dari Praha. Bagian di seberang Vltava lebih padat, dan nyaris dioptimalkan untuk wisatawan. Penuh dengan toko souvenir, museum kecil, atraksi klasik ini itu, tawaran musik kamar, dll. Perjalanan berakhir di alun-alun di kota tua; dengan menara kuno yang memiliki jam astronomis. Jam itu bukan hanya menampilkan waktu saat ini, namun juga konstelasi benda langit seperti planet dan rasi bintang.

Meneruskan berjalan kaki, kami melintasi pasar tradisional (selalu menarik); lalu bagian modern dari kota Praha. Menikmati suasana kota, mengunjungi beberapa toko buku. Beli buku Kundera. Lalu cari tram, dan kembali ke kota tua Praha, turun di bukit Petrin.

Bukit Petrin ini bagian dari mimpi Tereza dalam buku Nesnesitelná Lehkost Bytí dari Kundera yang aku beli. Beberapa tahun sebelumnya aku baca edisi Inggrisnya, Unbearable Lightness of Being. Salah satu novel paling keren dari Abad ke-20. Dalam mimpinya, Tereza merasa Tomas mengirimnya ke Bukit Petrin. Di atas bukit yang indah dan tenang itu, sekelompok pria membidik dan menembaki orang2 yang secara sukarela melakukan bunuh diri dengan ditembak. Tereza tidak jadi ditembak setelah dengan suara lemah ia menyatakan tidak berada di sana secara sukarela. Tapi bukitnya memang indah, sejuk, dan menenangkan. Kami menikmati sore yang tenang, bersama beberapa ABG yang juga menikmati keceriaan sore. Sayangnya, menjelang malam, hujan mulai menitik. Rintik, sporadik, namun jadi sistemik, dan akhirnya tragekomedik. Kami berjalan cepat kembali ke hotel yang memang hanya beberapa langkah dari kaki Bukit Petrin itu.

Pagi berikutnya, persiapan untuk meninggalkan kota dan negeri yang ternyata elok dan menyimpan pesona ini. Receptionist yang baik menyampaikan bahwa aku gak perlu bayar apa2 lagi, karena harga hotel yang murah itu ternyata sudah termasuk sarapan yang enak setiap hari. Wow. Taksi hotel membawa kami ke Stasiun Praha lagi. Stasiun Praha ini besar, nyaman, dan memiliki fasilitas lengkap dari toko2, bank, toko buku, dan tempat2 duduk yang nyaman. Kereta Carl Maria von Weber (masih kereta dengan nama komposer!) menculik kami keluar Praha, menyusuri Vltava, ke utara, memasuki wilayah Sachsen di Jerman, dan menurunkan kami di Dresden.

Paris

Petugas imigrasi di stasiun St Pancras itu betul-betul salinan dari prototype petugas Perancis: setengah baya, tirus, serius, bertopi kaku, menatap tajam tanpa emosi, lalu memberikan stempel pada passport di sebelah visa Schengen. Lalu kereta meninggalkan London, dan dalam dua jam memasuki Paris Gare du Nord. Gare du Nord besar, dan indah dari luar. Tapi dari dalam, sesak dan tak teratur. Aku segera keluar. Hotelku hanya 1 km dari stasiun ini. Jadi kami memutuskan berjalan kaki ke hotel di kawasan Montmartre itu. Sempat harus bertanya2 ke orang2 di jalan. Syukur, kemampuan Bahasa Perancis-ku yang cuma sampai Level 2 masih bisa digunakan sekedar buat bertanya jalan.

Berminat melihat Eiffel menantang matahari senja, aku memutuskan naik taksi. Tak jauh, jadi seharusnya tidak mahal. “Bonjour,” sapaku ke sopir taksi, mengira masih siang. “Assalaamu’alaikum,” jawab si chauffeur. “Alaikumussalaam. Palais de Chaillot, s’il vous plait,” kataku. Memang banyak chauffeur yang berasal dari kawasan eks provinsi seberang lautan (non Eropa) dari negara Perancis masa lalu, seperti Maroko, Tunisia, Aljazair, Cote d’Ivoire, dll. Kencang taksi melintasi gedung2 klasik khas Paris yang dicerlangi sinar matahari sore; dan tak lama kami mencapai Trocadero. Trocadero, Palais de Chaillot, di muka Eiffel. Di luar kawasan airport, inilah tempat pertama di luar Indonesia tempat aku berdiri dulu, jauh sebelum sempat mengunjungi negara2 tetangga :).

Masih gatal membaca kembali tulisan di tembok Palais de Chaillot, yang dulu kubaca tapi terlupakan, dan gak pernah berhasil aku cari di Google :). Menikmati sore, jalan perlahan melalui taman ke Eiffel. Trus memutuskan memanjat Eiffel. Antrian tampak pendek. Tapi ternyata panjang sekali. Menara Eiffel konon adalah menara sains dan engineering; yang pernah digunakan untuk eksperimen ilmiah dan pemancar radio. Sambil antri, kami mengamati nama-nama ilmuwan yang dicetak pada menara: Lagrange, Laplace, Lavoisier, Ampere, Legendre, dll. Itu hanya di sisi barat. Belum sempat membacai sisi lainnya.

Sekitar 2-3 jam, sampai menjelang tengah malam, baru kami berhasil membeli tiket dan langsung naik ke puncak Eiffel setinggi 324m itu. Panjangnya antrian membuat kami hanya dapat melihat kilau cahaya kota Paris di malam gelap, bukan di senja biru. Tapi … indah sekali.

Turun dari Eiffel (lepas tengah malam), kami mulai melihat Paris yang berbeda. Taksi dengan antrian serabutan misalnya :). Tapi para chauffeur memang ramah nian, walau harus bersabar menghadapi Bahasa Perancisku yang sudah berabad2 tak digunakan :). Dan mereka bisa berteriak terima kasih hanya karena memperoleh sedikit tip (misalnya kita bayar €15 untuk argo €13).

Pagi, selepas sarapan sedap dengan croissant yang sedap, kami memutuskan untuk berkeliling Paris dengan berjalan kaki. Seharusnya tidak melelahkan, karena hotel kami berada cukup dekat dengan pusat kota. Hanya berjalan sekitar 20 menit, kami sudah mencapai Louvre dan piramida kaca raksasanya.

Aku pernah menjelajah Louvre setengah hari, dan merasa tidak perlu mengulangi experience menarik itu. Jadi Louvre dinikmati dengan berkeliling dan bermain piramida. Tak lama, kami menyeberangi Sungai Seine. Melintas jalan2 bersejarah di St Germaine (plus membeli murbei), kami mengarah ke Le Quartier Latin. Ini adalah wilayah dalam Paris dimana dulu banyak intelektual berkeliaran dan berkomunikasi menggunakan bahasa latin. Di dalamnya ada Universitas Paris (Sorbonne), Palais du Luxembourg, École Normale Supérieure, Universitas René Descartes, Institut Curie, Panthéon, toko-toko buku, dan masih banyak lagi. Di toko buku di sini, aku menambah lagi koleksi terjemahan beberapa buku Le Petit Prince dari Antoine de Saint-Exupéry.

Panthéon cukup ramai dikunjungi masyarakat. Ini adalah semacam monumen peringatan, temple yang tidak bersifat religius namun lebih bersifat ideal dan nasional. Di dalamnya terpasang patung2, mozaik2, lukisan2, yang menggambarkan perjuangan kemanusiaan warga Perancis. Bagian bawah berfungsi sebagai makam bagi para tokoh-tokoh Perancis, dari filsuf seperti Voltaire dan JJ Rousseau, sastrawan seperti Émile Zola dan Alexandre Dumas, matematikawan seperti Lagrange, dan tentu pasangan ilmuwan Pierre dan Marie Curie. Juga Braille. Temboknya digunakan untuk mengenang berbagai tokoh, termasuk penulis dan pahlawan perang Saint-Exupéry. Dan di bagian tengah, di bawah kubah, terpasanglah Pendulum Foucault.

Pendulum Foucault adalah sebuah bola logam keemasan yang digantungkan dengan kawat setinggi 67m pada puncak kubah Panthéon. Kelembaman membuat bola ini bergerak secara tetap, tak terpengaruh putaran bumi. Namun karena bumi berputar, bola seolah bergerak berlawanan dengan arah putaran bumi. Maka pendulum Foucault menjadi bukti sederhana bahwa bumi memang berputar. Tapi tentu, di tahun 1851, saat Léon Foucault memasang pendulum itu, warga bumi sudah sadar bahwa bumi itu bulat dan berputar. Kubah Panthéon juga merupakan tempat eksperimen radio pertama di Paris, menghubungkan pemancar dan penerima di Panthéon dan Eiffel.

Dari Panthéon, kami menyelusur sejenak ke Institut Curie, tempat dulu Pierre dan Marie Curie bekerja. Tempat ini masih digunakan hingga kini, dan telah beberapa kali direnovasi menjadi tempat penelitian modern. Catatan penelitian asli dari Curie masih tersimpan dan terlindungi. Tidak boleh dibuka atau dibaca bebas, karena kandungan radioaktif yang tinggi pada kertas2 itu. Waktu itu keluarga Curie memang belum tahu bahaya radioaktivitas bagi kesehatan.

Menumpang bis, kami menuju Musée d’Orsay. Museum di tepi Sungai Seine ini menampilkan karya-karya seni klasik dan modern. Bertingkat lima, di dalamnya ditampilkan karya asli dari nyaris seluruh artist favoritku di zaman SMP dulu, dari masa impresionist dan post-impresionist.

Di dalam museum, dilarang mengambil foto. Namun aku menikmati saat2 bisa berdekatan dengan karya2 Renoir, Monet, hingga Van Gogh; dan menyaksikan bagaimana ekspresi mereka ditumpahkan secara fisik untuk membentuk tata warna yang berkilau, berpendar, bersapu kabut, melemah, berputar, bermain. OK, sekarang aku tahu, kenapa Renoir tampak hidup, kenapa Monet tampak bercahaya, dan kenapa Van Gogh begitu mengusik emosi. Starry, starry night …

Di luar, sore seharusnya sudah datang. Tapi matahari masih terik menunggu tenggelam pukul 21:40. Menyeberangi Seine lagi (melalui jembatan yang banyak dikunci dengan gembok2 mungil bertuliskan inisial orang2 yang sedang jatuh cinta), kami melintas hutan kecil yang asri, dan mengarah ke Avenue des Champs-Élysées. Diawali dengan tugu obelisk Luxor (“Memasang tugu semacam itu di tengah Galia? Kau pasti gila.” — Panoramik 50 SM), kami berjalan santai melalui trottoir lebar yang dikelilingi pohon2 asri; dan sesekali beristirahat duduk di atas rumput. Perjalanan yang mengasyikkan itu berujung di bagian dari Élysées yang menyebalkan, yang penuh mal dan toko bising ini itu, dari Cartier, Guerlaine (entah kenapa aku membayangkan namanya mirip Gerlong Gegerkalong), sampai LV yang penuh diantrii penggemar kitsch. Tapi bagian ini harus dilewati untuk bisa mencapai Arc de Triomphe.

Arc de Triomphe di Place de l’Étoile akhirnya bisa dicapai hampir pukul 20:00 “malam” :). Cuaca masih cerah dan panas nian. Namun kaki dan terutama lutut kiri sudah protes tak alang kepalang. Maka perjalanan harus diakhiri.

Seharusnya, hari berikutnya berisi perjalanan ke Château du Clos Lucé di Amboise untuk melihat suasana pedesaan dan sekaligus tempat kerja Leonardo da Vinci. Namun aku pikir lutut korban London harus diistirahatkan. Jadi perjalanan hari berikutnya masih di kota Paris melibatkan bis, Metro, RER, dan berbagai jenis transportasi di Paris; baik di atas tanah maupun di bawah tanah. Selain taman, museum, sejarah, kunjungan meliputi kompleks toko-toko buku di St Michael, kedai kopi, hingga ke Opéra National de Paris.

Yang agak menarik adalah toko buku. Aku memang terbiasa menjenguk toko buku di mana pun. Dan biasanya sekalian yang besar, kalau kunjungan ke kota tak terlalu lama. Tapi di Paris, toko buku besar tak mudah terlihat. Mungkin terpisah dari kawasan wisatawan, aku pikir. Jadi aku sengaja naik taksi, dan minta diantar ke grandes librairies. Chauffeur menganggap itu bukan request yang mudah. Ia mengusulkan ke St Michael, dekat Le Quartier Latin lagi. Di sana banyak toko2 buku yang agak besar, katanya. Ternyata, memang di Perancis ada hukum yang mengatur buku. Buku diatur agar harganya sama, dibeli di toko besar, toko kecil, ataupun online. Maka toko2 buku kecil dan sedang bisa bersaing dan berumur panjang; berbeda dengan di banyak negara, di mana toko2 buku kecil mulai hilang dikalahkan toko besar dan toko online. Wow, kebijakan yang menarik :).

Hari terakhir, melintas dengan RER-B ke Orly. Orly adalah airport mungil kota Paris. Dari sini perjalanan dilanjutkan dengan penerbangan Vuelling ke Wina. Vienne, kata orang Paris mah.

Oxford

Bosan di London, kami memutuskan melompat sebentar ke salah satu kota kecil. Alternatifnya adalah Cambridge, Bath, Oxford, atau salah satu kota di pantai selatan. Tapi cuaca masih panas untuk ke pantai, dan dari tiga alternatif sisanya, hanya Oxford yang belum dijelajahi. Maka Oxford. Cambridge, sudah pernah. Lagipula Cambridge cuma jembatan (bridge) di atas sungai Cam. Kalaw Oxford kan … cuma sungai dangkal tempat penyeberangan (ford) lembu liar (ox). Hahah.

Perjalanan ke Oxford pun tak terlalu serius. Tak perlu naik National Express yang serius amat itu. Cukup dengan bis tingkat Oxford Tube berwarna merah mirip bis kota, dari Victoria atau Hyde Park. Harga return ticket £16 per orang, dan dalam 1 jam, kami telah memasuki kota mungil ini.

Dasar usil; yang pertama kami kunjungi malah pasar tradisional dan flea market. Puas berbincang dengan penjual2 di sana, yang umumnya sudah berumur, plus melakukan keisengan2 lain; kami beranjak dan mengunjungi kawasan yang lebih bersifat klasik akademis dan eaaaa.

Pertama, Museum of the History of Science. Referensinya tentu dari buku Geek Atlas. Museum ini berada di pusat kota, tak jauh dari Waterstones dan Blackwells Bookshop. Seperti banyak museum di Inggris, museum ini dapat dimasuki gratis. Tapi pengunjung disarankan melempar uang £2 ke kotak donasi. Yang pertama tampak di museum ini adalah papan tulis yang sempat ditulisi Einstein saat memberikan kuliah di Oxford tahun 1930an. Di papan ini, Einstein mengkalkukasi perkiraan umur semesta.

Di bawahnya, dalam urutan yang kurang jelas kategori atau linimasanya, ditampilkan berbagai artifaks keilmuan, peninggalan para ilmuwan terdahulu, di bidang matematika, astronomi, fisika, dan lain-lain. Yang buat aku menarik tentu deretan piranti yang menunjukkan sejarah wireless communications: formula Maxwell, spark gap Righi, receiver Marconi, dan lain-lain. Hal-hal yang membentuk hidup dan karirku. Asli mengharukan. Ada cognitive radio juga. Eh, nggak dink.

Juga ada koleksi alat2 hitung posisi pengamat pada koordinat bumi, posisi astronomis benda langit, waktu2; yang dirunut balik dari zaman kejayaan budaya Islam. Memang waktu itu umat muslim yang masih gemar menjelajah gemar sekali membuat perangkat rumit untuk menyederhanakan kalkulasi waktu shalat, posisi kiblat, dan waktu ibadah lain. Jauh berbeda dengan film Achmad Dahlan versi seleb sinetron yang menampilkan KH Achmad Dahlan seolah2 masih pakai lukisan peta dua dimensi, wkwkwk. Ah, para pembikin sinetron — sekolah pun mungkin mereka jadi tukang contek.

Keluar museum, kami mulai menjelajahi Universitas Oxford. Sambil jalan kaku keliling kota, kami dipandu seorang guide yang ceria bernama Linda. Universitas Oxford sebenarnya merupakan federasi dari 38 college, katanya. Universitas ini merupakan yang tertua kedua atau ketiga di dunia, setelah Univ Bologna di Italia dan mungkin bersamaan dengan Univ Paris di Sorbonne. Didirikan di abad ke-12, Ia jadi populer setelah Raja Henri II sempat melarang orang2 Inggris berkuliah di Paris. Tadinya setiap wilayah/county memiliki college sendiri di Oxford (yang menjelaskan mengapa ada beberapa nama college yang mirip nama county). Tapi batas ini kemudian baur, dan berdiri college yang tak tergantung wilayah. Akibat clash dengan penduduk, sempat terjadi eksodus kalangan akademis ke Cambride yang kemudian mendirikan Univ Cambridge di abad ke-13.

Setiap college memiliki kemandirian secara akademis. Namun ujian dan hal-hal administratif dikoordinasikan oleh universitas, dan dipimpin seorang Vice Chancellor. Memasuki beberapa college, aku melihat struktur yang kurang lebih sama. Kantor, taman besar di tengah, ruang kuliah dan diskusi, asrama, ruang makan bersama yang mirip ruang makan Harry Potter (minus lilin melayang tanpa benang), dll, dan ornamen2 yang menunjukkan kekhasan setiap college. Konon college2 di Oxford strukturnya meniru Merton College, dan Cambridge meniru Oxford, dan banyak kampus meniru keduanya.

Agak menarik melihat seorang mahasiswi berpakaian sangat rapi, lengkap dengan bunga di dada, melintas kencang bersepeda. Linda menjelaskan bahwa hari itu adalah hari ujian. Para mahasiswa harus mengenakan jubah kampus nan klasik itu untuk mengikuti ujian, dan membawa topinya. Mereka juga harus menyematkan bunga di dada: bunga putih untuk mahasiswa tahun pertama, merah tua untuk tahun terakhir, dan merah muda untuk sisanya. Tak lama, tampak sekelompok mahasiswa dan mahasiswi berjubah mirip wisuda, langkap dengan bunga pink di dada.

Kami juga mengunjungi Bodleian Library dan Radcliffe Camera (foto paling atas). Bodleian adalah perpustakaan induk, yang bukan hanya tempat riset utama di Oxford, tetapi juga merupakan erpustakaan acuan, tempat semua buku yang diterbitkan di Inggris dan Irlandia harus diserahkan untuk disimpan.

Kunjungan ke college2 cukup memakan waktu. Tapi ada waktu tersisa untuk mengamati pasar tradisional, pedestrian di tengah kota tempat warga kota menikmati sore, Oxford University Press (yang buku2 terbitannya cukup menghabiskan ruang di rak buku rumah hijau di Bandung), dan bekas tempat penginapan Rhodes (pengusaha berlian yang namanya sempat diabadikan sebagai nama negara Rhodesia, dan kini lebih dikenal peninggalannya berupa bea siswa Rhodes).

Cerita lain menyusul ya :)

IEEE Senior Member

Today I got a message from the IEEE. The message was like a welcoming letter to new member. But attach to it was my new IEEE membership card. And printed in it is my new level as IEEE Senior Member. Wow, thank you, IEEE !

[Update: Then I’ve got also a plaque sent from Piscataway, signed by IEEE President and Secretary, certifying my election to the grade of IEEE Senior Member]

 

As mentioned in IEEE site, the grade of Senior Member is the highest for which application may be made and shall require experience reflecting professional maturity. For admission or transfer to the grade of Senior Member, a candidate shall be an engineer, scientist, educator, technical executive, or originator in IEEE-designated fields for a total of 10 years and have demonstrated 5 years of significant performance.

The only higher grade than Senior Member is IEEE Fellow. The grade of Fellow recognizes unusual distinction in the profession and shall be conferred only by invitation of the Board of Directors upon a person of outstanding and extraordinary qualifications and experience in IEEE-designated fields, and who has made important individual contributions to one or more of these fields.

For this elevation process and approval, I’d like to express my many thaaaaaanks to my seniors who have provided me with reference:

  • Prof. Dr. Dadang Gunawan, University of Indonesia
  • Arnold Ph Djiwatampu, TT Tel
  • Dr. Lukas Tanutama, Bina Nusantara University
  • Dr. Wahidin Wahab, University of Indonesia

And surely, many gratitudes to my colleagues, the Indonesian engineers, who have had collaborations with me during my professional years to make this elevation possible.

 

London

Masuk ke London tak semudah tahun2 sebelumnya. Pengurusan visa, yang dulu hanya memerlukan 1, 2, 3 hari, kini memakan waktu hingga 3 minggu. Konon karena banyaknya kunjungan ke UK akibat summer yang konon sangat cerah dan persiapan Olimpiade Juli 2012. Lamanya pengurusan visa ini sempat membuat persiapan perjalanan cukup terkacaukan :).

Namun, saat pesawat QR-011 mendarat di Heathrow, kejutan menanti. Pertama, antrian di imigrasi ternyata tidak panjang. Jauh lebih pendek daripada antrian di Stansted tahun 2010 misalnya. Aku belum tahu bagaimana mereka melakukan pengelolaan di salah satu airport tersibuk di dunia ini. Tapi selain di imigrasi, antrian pengambilan bagasi pun pendek dan cepat. Lalu dengan beberapa langkah (termasuk lift) saja, kami sudah berapa di Kereta Express menuju Paddington. Kurang dari 1 jam sejak pendaratan di Heathrow, kami sudah berada di Hotel Blades, di kawasan Westminster, London.

Di tahun 2010, awal Mei terasa sejuk menggigilkan di kota London ini. Tapi di tahun 2012, udara di pertengahan Mei terasa panas menyengat. Langit biru cerah bersih. Di bulan Mei, Inggris menggunakan waktu musim panas (GMT +1), untuk membuat warga menikmati hari lebih lama. Tapi akibatnya, matahari baru akan tenggelam pukul 21:40. Bahkan pukul 20:00 pun, matahari terasa masih terik bersinar.

Sebenarnya kami tak terlalu menyukai kota besar. Tapi Inggris memang selalu jadi tujuan favorit. Bukan hanya karena penghuninya berbahasa Inggris (karena di negeri seperti Austria dan Ceska pun, hampir semua orang fasih berbahasa Inggris) dan mereka mengemudi di jalur yang benar, tapi memang rasanya ada semacam ikatan batin dengan negeri ini. Tapi aku tetap gak akan menyebut negeri ini sebagai tanah air kedua. Belum cukup snob untuk itu, haha :). Dan karena kunjungan ini pendek, kami memilih mengunjungi kawan lama di Greenwich, dan berkunjung ke kota kecil yang belum pernah dikunjungi: Oxford.

OK, pertama, si kawan lama dulu. Ini tiga di antaranya:

London memang memiliki banyak taman berumput, terjaga, terawat, dan posisinya berdekatan. Kondisi ini mendukung berkembangnya para tupai, baik di London maupun di banyak kota2 di Inggris. Tupai2 ini bahkan dulu jadi teman yang setia menemani (dan menggodai) dalam perjalanan dari asrama ke kampus di Coventry.

[Catatan: Tentu sebenarnya mereka adalah bajing / squirrel. Namun bangsa hewan kecil yang di zaman lalu disebut sebagai tupai sudah amat jarang tampak, dan masyarakat sudah terbiasa menggunakan kata tupai sebagai padanan kata squirrel dan pengganti kata bajing yang terasa agak kasar. Bahasa pun harus luwes :). Maka kita akan menggunakan kata tupai pada blog ini dan di teks lain. Soal lain, tentu, adalah hewan beaver dan otter yang keduanya diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai berang-berang.]

Hotel Blades tempat kami tinggal merupakan bangunan klasik yang mungin di kawasan yang menarik, di Westminster. Cukup beberapa langkah, kita bisa naik Bis 24 yang dalam beberapa menit membawa kita ke Victoria, istana Buckingham, gedung parlemen, dll. Harganya pun terjangkau (dibanding harga hotel lain di London yang cukup seram). Trade-off tentu ada. Hotel ini tak dilengkapi elevator. Dan kami ditempatkan 6 lantai di atas receptionist. Lari ke atas membawa koper2 sih OK. Tapi di hari kedua, lututku cedera. Nyeri sekali. Nyeri ini akan bertahan 2 minggu dan mengganggu seluruh perjalanan.

Anyway, perjalanan justru menarik karena ada tantangan-tantangan tambahan. Misalnya, aku jadi mengurangi menggunakan Tube yang amat efisien di London, karena akan harus banyak melangkah cepat di tangga naik dan terutama tangga turun yang sungguh merajam lutut kiri nan cedera itu. Jadi aku memilih banyak menggunakan bis merah yang jadi ciri khas London. Jadi tampak lebih banyak hal2 menarik yang biasanya tak tampak dari bawah tanah. Trafik tinggi di Tube juga mengakibatkan beban di atas tanah tak begitu berat: kemacetan hanya sedikit dan sporadik semata. Tiket transportasi amat mudah. Kita cukup membeli kartu Oyster, yang dapat digunakan untuk Tube, bus, DLR, dan berbagai transportasi lain. Berbeda dengan kota lain yang membedakan tiket eceran dan day ticket, Oyster membebani kita dengan harga tiket eceran hingga nilai maksimal tertentu yang setara dengan harga day ticket, lalu tak lagi memotong saldo kita. Jadi ia efisien untuk intensitas pemakaian yang rendah dan tinggi. Satu lagi ciri perabadan :)

Cerahnya langit membuat lupa, misalnya bahwa “malam” sudah tiba. Gedung Parlemen di atas diambil gambarnya pk 19:46. Agak canggung untuk makan malam misalnya pukul 20:00 waktu matahari masih terik. Tanda “malam” telah tiba adalah saat para pekerja memenuhi kedai-kedai bir mulai pukul 17:00 untuk mendinginkan badan. Dan tentu museum dan banyak hal lain sudah tutup di “malam” hari itu. Tapi masih banyak yang bisa dilihat, misalnya parade di Istana Buckingham :). Aku selalu takjub melihat acara resmi di Buckingham, dengan ribuan bapak2 mengenakan setelan resmi (jas hitam atau biru tua), serta ibu2 dengan topi beraneka gaya dan warna. Di negara mana lagi sih, acara resmi selalu berarti pameran topi yang seringkali unik itu?

Perjalanan santai di London terpotong untuk kunjungan ke Oxford. Diikuti jalan-jalan santai dari taman ke taman lagi. Lalu bersiap memulai perjalanan ke Eropa. Kali ini, untuk pertama kali aku meninggalkan Inggris bukan dengan pesawat terbang, tapi dengan kereta api.

Stasiun internasional St-Pancras berlokasi bersebelahan dengan stasiun King’s Cross. Mirip stasiun lain, hanya lebih bersih rapi dan terjaga. Setelah memeriksakan tiket masuk (cukup dengan QR code), kami langsung menghadapi pemeriksaan dokumen imigrasi Perancis. Haha :). Imigrasi Inggris memang unik: kita diperiksa hanya setiap kali masuk wilayah Inggris, tapi tak pernah diperiksa lagi waktu keluar. Ini terjadi juga di Stansted Airport tahun sebelumnya, waktu aku berasa aneh gara2 belum menemui petugas imigrasi sampai masuk pintu pesawat.

Oh ya. Jangan repot-repot untuk membawa banyak dollar, pound, euro, dll. Rugi kalau harus sering2 melakukan penukaran uang. Kadang kita hanya menemukan tempat penukaran uang yang mengenakan komisi (misalnya di airport). Pengeluaran yang mahal dan sia-sia. Banyak alternatif lain. Pertama, makin banyak tempat yang memungkinkan pembayaran dengan kartu kredit (atau kartu debet yang memiliki chip); termasuk untuk pembayaran yang tak terlalu mahal. Kedua, kalau masih perlu uang, gunakan ATM Indonesa dengan logo Visa atau Mastercard untuk mengambil mata uang lokal di Inggris atau negara2 Eropa lain.